Didik J. Rachbini Kenang Agus Widjojo sebagai Perwira Intelektual dan Arsitek Demokratisasi TNI

10 hours ago 8

Ringkasan Berita

  • Jenderal (Purn.) Agus Widjojo wafat pada 8 Februari 2026.
  • Prof. Didik J. Rachbini menyebut almarhum sebagai perwira intelektual yang konsisten mendorong reformasi TNI.
  • Agus Widjojo dinilai berperan penting dalam mengakhiri Dwifungsi ABRI.
  • Pemikirannya menekankan profesionalisme militer dan supremasi sipil dalam demokrasi modern.
  • Indonesia dinilai kehilangan pemikir strategis negara yang langka.

Jakarta (pilar.id) – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D., menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Jenderal (Purn.) Agus Widjojo pada Minggu malam, 8 Februari 2026. Kepergian Agus Widjojo dinilai sebagai kehilangan besar bagi Indonesia, khususnya dalam sejarah pembaruan pemikiran militer dan demokratisasi TNI pada era Reformasi.

Prof. Didik mengenang almarhum sebagai sosok perwira tinggi TNI dengan kapasitas intelektual yang menonjol dan konsisten menjembatani dialog antara kalangan militer dan intelektual sipil. Hubungan keduanya bermula pada awal 1990-an, saat mereka terlibat dalam perancangan dan pelaksanaan Seminar Angkatan Darat II di Bandung bersama Dipo Alam.

Dalam berbagai pertemuan dan diskusi intensif kala itu, Prof. Didik menilai Agus Widjojo memiliki pemahaman mendalam mengenai politik, militer, dan perubahan sosial yang tengah berlangsung. Kapasitas tersebut, menurutnya, menjadikan Agus Widjojo bukan sekadar perwira tinggi, melainkan pemikir strategis yang mampu membaca arah zaman.

Komunikasi dan pertukaran gagasan antara keduanya terus berlanjut dalam berbagai forum seminar hingga media sosial. Prof. Didik menilai, kehadiran Agus Widjojo memberi rasa nyaman bagi kalangan intelektual sipil untuk berdialog secara terbuka dengan institusi militer. Sikap santun, rasional, dan argumentatif almarhum disebut sebagai fondasi penting dalam membangun relasi sipil-militer yang sehat.

Dalam pandangan Prof. Didik, Agus Widjojo pantas disebut sebagai “perwira intelektual” karena konsistensinya mendorong profesionalisme TNI dan supremasi sipil. Pemikiran tersebut diarahkan pada tujuan besar membangun demokrasi modern, di mana masyarakat madani dan prinsip trias politika berjalan seimbang.

Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini

Peran Agus Widjojo dalam sejarah Reformasi juga dinilai krusial, terutama dalam mengakhiri era Dwifungsi ABRI. Prof. Didik menyebut almarhum sebagai salah satu arsitek intelektual di balik perubahan paradigma relasi militer dan politik di Indonesia. Bagi Agus Widjojo, keterlibatan militer dalam politik praktis justru berpotensi melemahkan profesionalisme dan fungsi pertahanan negara.

Pandangan tersebut menempatkan kekuasaan politik sepenuhnya di tangan sipil yang dipilih secara demokratis, sementara militer berfungsi sebagai alat negara yang tunduk pada konstitusi dan hukum. Prinsip inilah yang menurut Prof. Didik membedakan Agus Widjojo dari banyak perwira lainnya pada masanya.

Prof. Didik juga menempatkan Agus Widjojo dalam jajaran perwira intelektual Indonesia bersama tokoh-tokoh seperti almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, Susilo Bambang Yudhoyono, ZA Maulani, dan Prabowo Subianto. Namun, ia menyayangkan bahwa pada generasi perwira saat ini, figur dengan kapasitas intelektual serupa semakin jarang ditemukan.

Saat menjabat sebagai Gubernur Lemhannas RI, Agus Widjojo disebut terus menyalurkan pemikiran strategisnya kepada elite pemerintahan. Di bawah kepemimpinannya, Lemhannas berperan sebagai dapur pemikiran strategis negara yang membantu membentuk cara pandang elite terhadap dinamika demokrasi, masyarakat sipil, serta tantangan geoekonomi dan geopolitik global.

Mengakhiri refleksinya, Prof. Didik menegaskan bahwa wafatnya Agus Widjojo meninggalkan kekosongan besar dalam khazanah pemikiran strategis nasional. Sosoknya dinilai sebagai intelektual militer yang lengkap dan komprehensif, dengan kontribusi yang sulit tergantikan dalam waktu dekat. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |