Ringkasan Berita
- Kemenkes mempercepat kedokteran presisi lewat program BGSI berbasis genomik.
- Hingga awal 2026, terkumpul 20 ribu partisipan dan 16 ribu whole genome sequence.
- Data dikelola BB Binomika dan didukung 10 rumah sakit jejaring.
- Pendekatan presisi diyakini menekan pemborosan biaya akibat penyakit kronis.
- Pemerintah mendorong pemanfaatan genomik untuk ketahanan kesehatan, pangan, dan ekonomi nasional.
Jakarta (pilar.id) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat implementasi kedokteran presisi melalui program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) sebagai respons atas meningkatnya beban pembiayaan kesehatan akibat penyakit kronis.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pendekatan berbasis profil genetik individu menjadi langkah strategis untuk mengubah paradigma layanan kesehatan dari model “satu obat untuk semua” menjadi terapi yang lebih personal dan tepat sasaran.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi genomik memungkinkan proses diagnosis menjadi lebih akurat sehingga terapi yang diberikan dapat disesuaikan dengan karakter genetik masing-masing pasien. Dengan pendekatan ini, efektivitas pengobatan diharapkan meningkat sekaligus menekan potensi pemborosan biaya akibat terapi yang kurang tepat.
20 Ribu Partisipan dan 16 Ribu Whole Genome Sequence
Hingga awal 2026, program BGSI telah merekrut lebih dari 20 ribu partisipan dan menghasilkan sekitar 16 ribu whole genome sequence manusia. Genome sequencing merupakan proses pengurutan nukleotida DNA dalam genom suatu organisme untuk memetakan informasi genetik secara menyeluruh.
Data tersebut dikelola oleh Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) dan diproyeksikan menjadi fondasi pengembangan sistem kesehatan berbasis data genomik di Indonesia.
Capaian ini dinilai bukan sekadar pencapaian riset, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun basis data genetik populasi Indonesia. Basis data tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketepatan diagnosis penyakit kronis seperti kanker, diabetes, hingga penyakit kardiovaskular yang selama ini menyedot anggaran besar.
Saat ini, implementasi BGSI telah didukung oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai pusat jejaring (hubs). Integrasi data genomik secara nasional ditargetkan menjadi pilar penting dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional.
Dampak pada Ketahanan Fiskal Negara
Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menilai pengembangan genomik memiliki korelasi langsung dengan ketahanan fiskal negara. Terapi yang lebih presisi diyakini dapat memangkas biaya pengobatan berulang akibat diagnosis yang tidak akurat.
Ia menekankan bahwa proyek genomik merupakan agenda jangka panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan dan dukungan lintas sektor. Menurutnya, manfaat finansial dan kesehatan baru akan terasa optimal apabila ekosistem riset, regulasi, serta infrastruktur pendukung berjalan beriringan.
Dukungan juga datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan. Ia mendorong agar pengelolaan data genomik tidak berhenti pada sektor kesehatan, tetapi juga diperluas untuk optimalisasi keanekaragaman hayati Indonesia.
Pengelolaan sumber daya genetik secara komprehensif dinilai dapat mendukung ketahanan pangan, pengembangan industri berbasis bioteknologi, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional. Optimalisasi potensi genetik disebut menjadi salah satu kunci kemandirian bangsa di masa depan.
Transformasi Sistem Kesehatan Nasional
Implementasi kedokteran presisi melalui BGSI menandai transformasi penting dalam sistem kesehatan Indonesia. Dengan pendekatan berbasis data genomik, pemerintah menargetkan terciptanya layanan kesehatan yang:
- Lebih akurat dalam diagnosis
- Lebih efektif dalam terapi
- Lebih efisien dalam pembiayaan
- Lebih tangguh menghadapi beban penyakit kronis
Jika konsisten dijalankan, integrasi genomik dalam kebijakan kesehatan berpotensi menjadi fondasi sistem kesehatan nasional yang modern, berbasis sains, dan berkelanjutan. (usm/hdl)

5 hours ago
7

















































