UINSA Surabaya Sosialisasikan MoRA The AIR Funds 2026, Tekankan Etika Publikasi dan Penggunaan AI

1 day ago 13

Surabaya (pilar.id) – UIN Sunan Ampel Surabaya menggelar sosialisasi Program Ministry of Religious Affairs The Awakened Indonesian Research Funds (MoRA The AIR Funds) Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 1 April 2026, di Ruang Meeting Lantai 9 Tower Teungku Ismail Yakub, kampus UINSA Surabaya.

Program MoRA The AIR Funds merupakan inisiatif dari Kementerian Agama Republik Indonesia yang bertujuan mendorong produktivitas penelitian serta publikasi ilmiah yang berkualitas di kalangan akademisi. Sosialisasi ini dihadiri oleh dosen dan peneliti UINSA, termasuk Ketua LP2M UINSA Dr. H. Moh. Syaeful Bahar dan Koordinator Pusat Penelitian dan Penerbitan Dr. A. Kemal Riza.

Dua narasumber dari Kementerian Agama, yakni Ruchman Basori dan Hendro Dwi Antoro, turut hadir memberikan pemaparan bersama akademisi UINSA, Ahmad Hanif Asyhar. Dalam sesi tersebut, perhatian utama tertuju pada pentingnya etika publikasi ilmiah sebagai fondasi kredibilitas penelitian.

Ahmad Hanif Asyhar menjelaskan bahwa etika publikasi tidak sekadar aturan formal, tetapi menjadi pedoman moral dalam menjaga integritas akademik. Ia menyoroti prinsip dasar seperti netralitas, keadilan, dan kejujuran yang harus dijunjung tinggi dalam setiap proses penulisan dan publikasi karya ilmiah.

Ia juga mengingatkan sejumlah pelanggaran serius yang kerap terjadi dalam dunia akademik, mulai dari plagiarisme, duplikasi publikasi, hingga manipulasi data. Praktik-praktik tersebut dinilai tidak hanya merugikan individu peneliti, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi akademik secara luas.

Selain itu, sosialisasi ini turut mengangkat isu aktual mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT dalam penulisan akademik. Penggunaan AI dinilai semakin umum, namun tetap membutuhkan batasan etis yang jelas agar tidak menimbulkan pelanggaran akademik maupun penyebaran informasi yang tidak akurat.

Dalam pemaparannya, Ahmad Hanif menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, misalnya untuk pengembangan ide atau penyuntingan, bukan sebagai pengganti proses berpikir peneliti. Tanggung jawab penuh terhadap isi tulisan tetap berada di tangan penulis.

Dari diskusi tersebut, dirumuskan tiga prinsip utama yang harus menjadi pedoman dalam penggunaan AI dalam penelitian, yakni human primacy, transparency, dan accountability. Prinsip human primacy menegaskan bahwa manusia tetap menjadi pusat dalam produksi ilmu pengetahuan. Transparency mengharuskan keterbukaan dalam penggunaan AI, sementara accountability menuntut pertanggungjawaban penuh atas hasil publikasi.

Penekanan pada integritas menjadi penutup utama dalam kegiatan ini. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, integritas dinilai sebagai kunci utama dalam menghasilkan penelitian yang kredibel dan berkualitas.

Melalui kegiatan ini, UINSA Surabaya berharap para dosen dan peneliti semakin memahami pentingnya etika publikasi serta mampu memanfaatkan teknologi AI secara bijak. Langkah ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global, sekaligus memperkuat ekosistem akademik yang berintegritas. (usm)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |