Summary Point
- Bitcoin menguat mendekati US$90.000 setelah tensi AS–Eropa mereda.
- Akumulasi whale di bawah US$90.000 menjadi penopang utama harga.
- Level US$92.000–93.000 menjadi resistensi teknikal krusial.
- Arus keluar ETF Bitcoin dan faktor makro masih membatasi penguatan.
- Pasar menanti konfirmasi lanjutan terkait arah suku bunga The Fed.
Jakarta (pilar.id) – Harga Bitcoin kembali menguat dalam 24 jam terakhir seiring membaiknya sentimen risiko global. Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland menjadi salah satu faktor yang mendorong pemulihan pasar aset berisiko, termasuk kripto.
Pada perdagangan Kamis (22/1), Bitcoin tercatat naik sekitar 0,55% ke level US$89.806 atau setara Rp1,5 miliar. Penguatan ini terjadi setelah Bitcoin sempat terkoreksi lebih dari 6% secara mingguan, sekaligus menandai rebound teknikal dari area di bawah US$90.000.
Sejumlah katalis mendukung pergerakan positif tersebut. Selain meredanya tekanan geopolitik global, aksi akumulasi oleh investor bermodal besar atau whale saat harga turun menjadi faktor penting yang menopang harga. Di sisi lain, Bitcoin juga dinilai mampu bertahan di area support teknikal kunci, sehingga memicu minat beli lanjutan.
Data on-chain menunjukkan dompet dengan kepemilikan minimal 1.000 BTC justru menambah aset saat harga melemah, berlawanan dengan perilaku investor ritel yang cenderung melakukan aksi jual. Pola ini kerap menjadi sinyal awal terbentuknya fase pemulihan, karena tekanan jual ritel diserap oleh pelaku pasar besar.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai akumulasi whale mencerminkan kepercayaan terhadap prospek jangka menengah Bitcoin. Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas masih berpotensi tinggi karena tekanan makro dan arus dana institusional belum sepenuhnya stabil.
Dari sisi sentimen global, meredanya tensi AS–Eropa turut memperbaiki risk appetite investor. Penundaan ancaman tarif serta pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan tidak adanya opsi militer dinilai membantu menenangkan pasar. Indeks Fear & Greed kripto pun naik tipis ke level 34, meski masih berada di zona fear.
Ujian Teknis di Area US$92.000
Secara teknikal, Bitcoin dinilai berhasil mempertahankan support penting berbasis Fibonacci retracement. Meski demikian, indikator momentum masih menunjukkan kecenderungan bearish dalam jangka pendek.
Bitcoin kini menghadapi area resistensi krusial di kisaran US$92.000–93.000, yang berdekatan dengan rata-rata pergerakan tujuh hari (7-day SMA). Level ini menjadi penentu apakah Bitcoin mampu membalikkan tren turun jangka pendek atau justru kembali terkoreksi.
Tekanan terhadap harga juga datang dari arus keluar ETF Bitcoin spot yang tercatat mencapai sekitar US$707 juta pada 21 Januari. Selain itu, hambatan teknikal jangka panjang masih terlihat di area 200-day SMA di kisaran US$105.000, yang relatif jauh dari harga saat ini.
Posisi Bitcoin saat ini juga masih sekitar 18% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) Oktober 2025 di level US$109.309. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap risiko global yang belum sepenuhnya mereda.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau keberlanjutan akumulasi whale serta potensi arus keluar Bitcoin dari bursa sebagai indikasi pengetatan suplai. Dari sisi makro, perhatian juga tertuju pada arah kebijakan moneter AS, terutama setelah data tenaga kerja terbaru menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan.
Situasi tersebut membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bergeser ke sekitar Juni 2026, meskipun pasar masih memperkirakan adanya dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini. (ret/hdl)

1 week ago
32

















































