Jakarta (pilar.id) – Pasar aset kripto kembali mencatat penguatan signifikan setelah Bitcoin menembus level US$96.000 pada perdagangan Kamis (14/1/2026). Berdasarkan data global, harga Bitcoin sempat mencapai US$96.232 atau setara Rp1,64 miliar dengan asumsi kurs Rp16.875 per dolar AS.
Kenaikan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar yang dipicu kombinasi faktor makroekonomi dan kebijakan, khususnya dari Amerika Serikat. Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama turut menguat, dengan Ethereum mencatat kenaikan hampir 5 persen, sementara XRP bergerak lebih moderat.
Data Inflasi AS Redakan Tekanan Kebijakan Moneter
Salah satu pendorong utama reli kripto berasal dari rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat bulan Desember. Inflasi tercatat meningkat 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan, sementara inflasi inti berada pada level yang lebih rendah.
Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) berpotensi menahan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi ini dinilai menciptakan ruang likuiditas yang lebih longgar, yang secara historis menguntungkan aset berisiko seperti kripto.
Regulasi Kripto AS Jadi Sentimen Tambahan
Dari sisi kebijakan, pasar merespons positif diperkenalkannya rancangan undang-undang Digital Asset Market CLARITY Act di Amerika Serikat. RUU ini bertujuan memperjelas klasifikasi aset kripto, sekaligus memperkuat peran Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dalam pengawasan pasar spot kripto.
Kepastian regulasi dinilai menjadi faktor penting bagi masuknya modal institusional ke pasar kripto. Seiring pembahasan regulasi yang dinilai lebih konstruktif, minat investor besar terhadap Bitcoin dan aset digital lainnya pun meningkat.
Arus Dana Institusional Menguat
Penguatan pasar kripto juga ditopang oleh arus dana institusional yang signifikan. ETF Bitcoin spot di AS dilaporkan mencatat aliran dana bersih lebih dari US$750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025. Di sisi lain, terjadi pergeseran modal dari saham dan emas, seiring meningkatnya volatilitas di pasar keuangan tradisional.
Kondisi tersebut menunjukkan Bitcoin semakin dipandang sebagai alternatif aset investasi di tengah ketidakpastian global.
Peluang Menuju US$100.000 Masih Terbuka
Secara teknikal, Bitcoin dinilai telah keluar dari fase konsolidasi panjang yang berlangsung sejak akhir 2025. Area US$94.000 kini dipandang sebagai level penopang penting bagi pergerakan harga dalam jangka pendek.
Meski demikian, pasar diperkirakan akan memasuki fase volatilitas yang lebih tinggi, terutama di sekitar level psikologis US$100.000. Pergerakan harga di area ini berpotensi diwarnai aksi ambil untung dan konsolidasi, sebelum arah tren berikutnya terbentuk.
Jika Bitcoin mampu bertahan stabil di atas level tersebut, peluang terjadinya fase penemuan harga menuju level yang lebih tinggi dinilai semakin terbuka. Sebaliknya, koreksi jangka pendek dipandang sebagai bagian wajar dari dinamika pasar, selama tidak disertai perubahan fundamental.
Risiko Tetap Perlu Diantisipasi
Meski prospek pasar kripto dinilai positif, pelaku pasar tetap diingatkan untuk mencermati berbagai risiko jangka pendek. Potensi lonjakan inflasi lanjutan, perubahan sikap The Fed, hingga sentimen global yang beralih ke aset aman dapat memengaruhi pergerakan harga secara cepat.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada kelanjutan pembahasan regulasi kripto di AS serta arah kebijakan moneter global. Dengan dukungan fundamental yang semakin kuat, Bitcoin dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan sepanjang 2026, terutama jika kepastian regulasi dan likuiditas global terus membaik. (ret/hdl)

2 weeks ago
36

















































