Bukan Sekadar Saldo: Ini Bedanya Token Listrik Prabayar dengan Pulsa dan Cara Kerjanya

1 week ago 23

Summary Point

  • Token listrik adalah pembelian energi (kWh), bukan saldo seperti pulsa. Jumlah kWh di meteran akan berkurang langsung sesuai total pemakaian semua alat listrik di rumah.
  • Ada perbedaan nominal pembelian dan nilai konversi ke kWh karena adanya potongan wajib, yaitu Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dan biaya administrasi.
  • Sebagai contoh, pembelian token Rp100.000 untuk daya 1.300 VA menghasilkan sekitar 63-65 kWh setelah dipotong PPJ dan biaya admin.
  • Sistem prabayar memberi kendali penuh kepada pelanggan untuk memantau dan mengelola konsumsi listrik harian secara transparan.

Jakarta (pilar.id) – Banyak orang mengira token listrik prabayar serupa dengan pulsa telepon seluler. Nyatanya, keduanya memiliki mekanisme fundamental yang berbeda. Pemahaman yang keliru ini seringkali membuat pelanggan bingung saat nominal token yang dibeli tidak sepenuhnya menjadi energi listrik di meteran.

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menjelaskan inti perbedaannya. Pulsa seluler berperan sebagai saldo untuk membeli layanan, sementara token listrik merupakan pembelian langsung terhadap alokasi energi dalam satuan kilowatt hour (kWh).

“Token listrik prabayar adalah pembelian energi, bukan sekadar nominal rupiah. Sederhananya, itu adalah alokasi pemakaian listrik yang akan terus berkurang saat listrik digunakan,” jelas Gregorius.

Mekanisme Pengurangan Berdasarkan Pemakaian

Dalam sistem prabayar, pelanggan membeli sejumlah kWh di awal. Setiap kali peralatan listrik di rumah dinyalakan, meteran akan secara otomatis mengurangi sisa kWh sesuai dengan total konsumsi seluruh rumah. Pengurangan ini bersifat kumulatif dan tidak dapat dialokasikan hanya untuk satu alat tertentu.

Gregorius menegaskan, seluruh peralatan rumah tangga menggunakan sumber yang sama. Oleh karena itu, pengurangan kWh dihitung dari total energi yang digunakan secara keseluruhan, memberikan transparansi dan kendali langsung kepada pelanggan atas konsumsi harian.

Potongan yang Mempengaruhi Jumlah kWh

Selain memahami mekanisme pengurangan, penting untuk mengetahui komponen potongan yang berlaku setiap pembelian token. Potongan ini menyebabkan nominal uang yang dibayar tidak sepenuhnya dikonversi menjadi kWh.

Potongan utama terdiri dari:

  • Pajak Penerangan Jalan (PPJ): Besaran ditetapkan oleh masing-masing pemerintah daerah.
  • Biaya Administrasi: Bervariasi tergantung kanal pembelian (e-commerce, ATM, agen, dll).
  • Bea Materai: Dikenakan untuk transaksi dengan nominal di atas Rp5.000.000.

Ilustrasi Konversi Rupiah ke kWh

Sebagai contoh konkret, pelanggan rumah tangga daya 1.300 VA yang membeli token seharga Rp100.000 tidak akan mendapatkan kWh senilai penuh nominal tersebut.
Setelah dikurangi PPJ dan biaya admin, nilai yang dikonversi menjadi listrik berkisar antara Rp90.000 hingga Rp94.000.

Dengan tarif dasar listrik untuk golongan 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, maka uang senilai Rp90.000-Rp94.000 tersebut akan menghasilkan sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah kWh inilah yang akan tertera di meteran dan berkurang secara real-time sesuai pemakaian.

Dengan pemahaman yang tepat bahwa token adalah pembelian energi, pelanggan dapat lebih cermat dalam merencanakan dan mengontrol pengeluaran untuk listrik, sekaligus menggunakan energi secara lebih efisien. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |