Emil Dardak Dorong Konektivitas dan Industri Hijau untuk Tekan Ketimpangan Inflasi di Daerah

1 day ago 15

Ringkasan Berita

  • Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menilai ketimpangan inflasi perlu diatasi melalui pembenahan struktur ekonomi.
  • Penguatan konektivitas, produksi, efisiensi energi, dan logistik dinilai penting untuk menekan tekanan harga antardaerah.
  • Jawa Timur memiliki 7 bandara komersial, 37 pelabuhan besar, dan 50 pelabuhan rakyat.
    Emil mendorong transformasi industri hijau sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
  • Realisasi investasi Jawa Timur pada Triwulan II 2026 mencapai Rp40,1 triliun, tumbuh 23 persen secara q-to-q.
  • Pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat sipil didorong memperkuat kolaborasi dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih merata.

Surabaya (pilar.id) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong penguatan konektivitas antardaerah dan percepatan transformasi industri hijau sebagai solusi struktural untuk mengurangi ketimpangan inflasi di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Emil, persoalan inflasi tidak cukup ditangani melalui pengendalian harga di tingkat konsumen. Ketimpangan inflasi juga berkaitan dengan kapasitas produksi yang belum merata, biaya energi, efisiensi logistik, serta konektivitas antarwilayah yang menentukan kelancaran distribusi barang.

Hal tersebut disampaikan Emil saat menjadi keynote speaker dalam seminar bertajuk “Ketimpangan Inflasi Antar Daerah: Tantangan Struktural dan Solusi Kebijakan Nasional” di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Rabu (26/8/2026).

Seminar tersebut merupakan bagian dari INDEF School of Political Economy (ISPE) yang digelar bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri. Forum ini mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, jurnalis, masyarakat sipil, dan mahasiswa untuk membahas akar struktural ketimpangan inflasi serta merumuskan kebijakan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

Emil menjelaskan, perbedaan tingkat inflasi antardaerah perlu dilihat dari struktur ekonomi masing-masing wilayah. Ketika kemampuan produksi terbatas sementara biaya distribusi dan energi tinggi, tekanan harga dapat meningkat dan menghasilkan disparitas harga maupun inflasi.

Biaya Logistik Jadi Faktor Penting Ketimpangan Inflasi

Emil mencontohkan kondisi di Jawa Timur yang memiliki sistem informasi harga bahan pokok berbasis pemantauan pasar rujukan. Sistem tersebut memungkinkan pemerintah melihat perbedaan harga komoditas antarwilayah sekaligus mengidentifikasi faktor yang memengaruhinya.

Salah satu faktor yang terlihat adalah biaya logistik. Perbedaan harga di daerah tidak selalu disebabkan oleh persoalan perdagangan semata, tetapi juga dapat mencerminkan ongkos distribusi akibat kondisi konektivitas.

Karena itu, Emil menilai kebijakan pengendalian inflasi perlu bergerak dari pendekatan jangka pendek menuju pembenahan struktur ekonomi. Penguatan produksi lokal, efisiensi energi, dan pembangunan jaringan transportasi menjadi bagian penting untuk mengurangi biaya yang pada akhirnya dibebankan ke harga barang.

Penguatan industri juga dinilai strategis karena sektor industri pengolahan menjadi salah satu penopang utama perekonomian Jawa Timur. Menurut Emil, peningkatan kapasitas industri harus berjalan beriringan dengan pembenahan konektivitas agar produk dari satu daerah dapat dipasarkan secara lebih efisien ke wilayah lain.

Ia juga menyinggung pentingnya konektivitas laut melalui konsep Tol Laut yang bertujuan menekan biaya transportasi antardaerah. Program tersebut telah membantu meningkatkan konektivitas perdagangan domestik, meski masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya.

Bagi Jawa Timur, konektivitas menjadi bagian penting dari strategi ekonomi daerah. Emil menyebut Jawa Timur memiliki 7 bandara komersial, 37 pelabuhan besar, dan 50 pelabuhan rakyat yang menopang aktivitas ekonomi dan distribusi.

Sementara itu, Pelabuhan Tanjung Perak disebut melayani 21 dari 39 rute Tol Laut. Posisi tersebut memperkuat peran Jawa Timur sebagai salah satu simpul utama distribusi logistik menuju kawasan Indonesia Timur.

Dengan posisi geografis dan infrastrukturnya, Jawa Timur ingin memperkuat peran sebagai Gerbang Baru Nusantara sekaligus center of gravity ekonomi. Menurut Emil, penguatan infrastruktur dan konektivitas diperlukan untuk mempertahankan daya saing daerah di tengah perubahan ekonomi nasional dan global.

Industri Hijau Dinilai Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Selain konektivitas, Emil menempatkan transformasi industri hijau sebagai strategi penting untuk memperkuat struktur ekonomi Jawa Timur sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru.

Ia menilai agenda lingkungan tidak semestinya diposisikan berlawanan dengan kepentingan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, transformasi industri menuju proses produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan dapat meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, serta memperkuat daya saing industri.

Salah satu elemen penting dalam transformasi tersebut adalah transisi energi. Penggunaan energi yang lebih bersih dan efisien dinilai dapat membantu industri mengendalikan biaya produksi sekaligus memenuhi tuntutan pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Namun, Emil mengingatkan bahwa pengembangan energi hijau juga memiliki tantangan, terutama terkait teknologi penyimpanan energi atau energy storage. Ketersediaan sistem penyimpanan yang memadai menjadi faktor penting agar pemanfaatan energi terbarukan dapat berjalan lebih stabil dan mendukung kebutuhan industri.

Jawa Timur dinilai memiliki modal untuk menangkap peluang investasi hijau tersebut. Emil menyebut realisasi investasi Jawa Timur pada Triwulan II 2026 mencapai Rp40,1 triliun, atau tumbuh 23 persen secara quarter to quarter (q-to-q).

Pertumbuhan investasi tersebut, menurut dia, perlu diarahkan pada sektor yang mampu memperkuat fondasi ekonomi daerah. Beberapa sektor yang dinilai potensial antara lain teknologi bersih, energi terbarukan, efisiensi sumber daya, serta industri dengan nilai tambah tinggi.

Emil menekankan bahwa ukuran keberhasilan investasi tidak semata-mata dilihat dari nominal dana yang masuk. Dampak terhadap produktivitas, penguatan rantai pasok, penciptaan nilai tambah, dan peningkatan daya saing industri lokal juga perlu menjadi pertimbangan.

Dengan pendekatan tersebut, transformasi industri hijau dapat berjalan bersamaan dengan agenda pemerataan ekonomi dan pengendalian inflasi. Industri yang lebih produktif dan efisien berpotensi memperkuat pasokan barang, menekan biaya produksi, serta mengurangi kerentanan terhadap tekanan harga.

ISPE Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Kebijakan

Emil berharap ISPE dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat sipil untuk membahas kebijakan ekonomi secara lebih komprehensif.

Menurutnya, upaya menjaga stabilitas harga perlu berjalan beriringan dengan kebijakan yang memperkuat produktivitas dan pemerataan kesejahteraan. Dengan demikian, pengendalian inflasi tidak berhenti pada intervensi harga ketika terjadi kenaikan, tetapi menyentuh akar persoalan yang menyebabkan perbedaan tekanan inflasi antarwilayah.

Pendekatan tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor, terutama dalam pembangunan infrastruktur, penguatan industri, penyediaan energi, serta pengembangan sistem distribusi yang lebih efisien.

Bagi Jawa Timur, strategi tersebut sekaligus memperkuat ambisi daerah sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Infrastruktur logistik yang terkoneksi dengan kawasan produksi dan pasar, ditambah pengembangan industri hijau, diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih merata dan berkelanjutan.

Emil juga mendorong agar rekomendasi yang lahir dari ISPE dapat menjadi masukan dalam dinamika kebijakan fiskal dan pembangunan nasional. Stabilitas harga, menurut dia, perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas bersama pemerataan kesejahteraan dan penguatan daya saing ekonomi daerah. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |