Surabaya (pilar.id) – Wacana peningkatan penggunaan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran di sekolah kembali menjadi perhatian publik setelah muncul dorongan agar guru membiasakan penggunaan bahasa internasional tersebut di lingkungan kelas. Di tengah perdebatan yang berkembang, pakar linguistik dari Universitas Airlangga (UNAIR) mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguatan bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah dalam sistem pendidikan nasional.
Guru Besar Linguistik Universitas Airlangga, Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum., menilai penguasaan bahasa Inggris memang menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan di era globalisasi. Bahasa tersebut memiliki peran penting dalam dunia pendidikan tinggi, pasar kerja internasional, perkembangan teknologi, hingga interaksi di ruang digital global.
Namun demikian, menurut Prof Wayan Sartini, penguatan bahasa asing tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan eksistensi bahasa Indonesia maupun bahasa daerah yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas bangsa. Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara multibahasa yang memiliki struktur kebahasaan yang saling melengkapi.
Dalam konteks tersebut, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa persatuan yang menyatukan keberagaman masyarakat dari berbagai suku dan daerah. Sementara bahasa daerah menjadi representasi identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun, sedangkan bahasa asing berperan sebagai sarana untuk meningkatkan daya saing global.
Prof Wayan menilai tantangan utama bukan terletak pada penggunaan bahasa Inggris itu sendiri, melainkan pada bagaimana hubungan antarbahasa tersebut dikelola secara proporsional. Ia mengingatkan bahwa bahasa Inggris saat ini kerap dipersepsikan sebagai simbol kemajuan dan modernitas, sehingga berpotensi menimbulkan anggapan bahwa bahasa lain memiliki posisi yang lebih rendah.
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda. Data dan berbagai penelitian kebahasaan menunjukkan bahwa sejumlah bahasa daerah di Indonesia mengalami penurunan jumlah penutur dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena itu diperparah oleh melemahnya proses pewarisan bahasa daerah dari orang tua kepada anak-anak di lingkungan keluarga.
Menurut Prof Wayan, jika penggunaan bahasa Inggris diperluas tanpa strategi yang tepat, maka dominasi bahasa asing berpotensi semakin kuat, sementara bahasa Indonesia dan bahasa daerah menghadapi risiko semakin terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan bahwa kemampuan literasi dalam bahasa Indonesia tetap harus menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan. Penguasaan bahasa nasional yang kuat dinilai menjadi syarat penting sebelum peserta didik mengembangkan kompetensi dalam bahasa asing.
Selain itu, Prof Wayan juga menyoroti aspek implementasi kebijakan di lapangan. Ia menilai pembiasaan penggunaan bahasa Inggris di sekolah perlu dilakukan secara bertahap dan realistis dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah dan satuan pendidikan.
Perbedaan kualitas sumber daya, fasilitas pendidikan, hingga kompetensi tenaga pendidik antara sekolah di perkotaan dan daerah menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam penerapan kebijakan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu menyediakan dukungan yang memadai berupa pelatihan guru, pengembangan materi ajar yang adaptif, serta model pembelajaran yang fleksibel sesuai kebutuhan sekolah.
Dalam pandangannya, penggunaan bahasa Inggris tidak harus diterapkan secara penuh dalam setiap aktivitas pembelajaran. Guru dapat memulainya melalui penggunaan instruksi sederhana, percakapan dasar, maupun pengenalan kosakata tertentu yang relevan dengan materi pelajaran.
Di sisi lain, Prof Wayan menegaskan bahwa sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan ruang bagi bahasa daerah melalui kegiatan sastra lokal, pembelajaran cerita rakyat, pertunjukan budaya, hingga berbagai bentuk ekspresi seni tradisional.
Menurutnya, tujuan utama pendidikan bahasa bukan memilih satu bahasa dan meninggalkan bahasa lainnya. Pendidikan bahasa seharusnya mampu membentuk generasi yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara baik, memahami akar budaya daerahnya, sekaligus mampu bersaing di tingkat global melalui penguasaan bahasa asing.
Prof Wayan menilai keseimbangan tersebut menjadi kunci dalam membangun generasi masa depan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat. Dengan pendekatan yang tepat, penguasaan bahasa Inggris dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat bahasa Indonesia dan melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan bangsa.
Di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung secara global, para ahli bahasa menilai tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, melainkan juga memastikan generasi muda tetap memahami jati diri, budaya, dan identitas nasionalnya melalui bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

1 day ago
11

















































