Jakarta (pilar.id) – Pasar keuangan global mencatat penguatan signifikan dengan sejumlah aset utama mencapai rekor tertinggi baru. Logam mulia, indeks saham Amerika Serikat, serta pasar saham Asia bergerak naik seiring meningkatnya optimisme pelaku pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.
Logam mulia kembali menjadi pusat perhatian. Harga emas sempat menembus level tertinggi sepanjang masa di kisaran USD 4.630 per ons sebelum mengalami koreksi teknikal dan diperdagangkan kembali di bawah USD 4.600. Pola pergerakan tersebut dinilai sebagai retracement wajar dalam tren naik yang masih kuat. Hal serupa terjadi pada perak, yang mencetak rekor di level USD 86,35 per ons sebelum bergerak turun tipis ke area USD 85.
Di pasar saham, sentimen positif masih mendominasi. Indeks S&P 500 di Amerika Serikat mencetak rekor tertinggi baru dengan mendekati level psikologis 7.000. Meski sempat mengalami koreksi ringan setelah mencetak rekor, indeks acuan Wall Street tersebut masih berada dalam tren bullish. Penguatan juga terlihat di kawasan Asia, tercermin dari MSCI Asia Index yang mencetak rekor baru, diikuti sejumlah indeks saham utama di Asia yang turut menyentuh level tertinggi sepanjang masa.
Pelaku pasar saat ini menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar hari ini. Inflasi AS diperkirakan bertahan di level tahunan 2,7 persen. Jika data inflasi lebih rendah dari perkiraan, pasar saham berpotensi melanjutkan reli. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dapat memperkuat nilai tukar dolar AS.
Di pasar valuta asing, pergerakan signifikan terjadi pada sesi Asia. Dolar Selandia Baru tercatat sebagai mata uang utama terkuat, sementara yen Jepang menjadi yang terlemah. Yen melemah hingga menyentuh level terendah dalam 18 bulan terakhir di tengah spekulasi politik terkait kemungkinan pemilihan umum dadakan di Jepang. Pasangan mata uang USD/JPY naik mendekati level ¥159, tertinggi sejak Juli 2024.
Sementara itu, harga logam industri seperti tembaga dan aluminium masih bertahan di dekat level tertinggi sebelumnya, meski belum mencetak rekor baru. Prospek jangka menengah kedua komoditas tersebut masih dinilai positif seiring permintaan global yang solid. Akses investasi terhadap logam industri ini juga semakin terbuka melalui instrumen seperti exchange traded fund (ETF).
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar. Laporan mengenai meningkatnya gejolak domestik di Iran memicu spekulasi risiko geopolitik yang lebih luas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut terus memberikan sinyal dukungan terhadap upaya perubahan rezim, meski hingga kini belum ada langkah militer yang dikonfirmasi secara resmi. Situasi ini menambah unsur ketidakpastian global yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
Secara keseluruhan, kombinasi sentimen positif dari pasar aset berisiko dan meningkatnya perhatian terhadap faktor makroekonomi serta geopolitik membuat pelaku pasar tetap waspada, meski tren penguatan masih mendominasi perdagangan global. (ret)

3 weeks ago
34

















































