Ringkasan Berita
- Arsenal menang 1-0 atas Chelsea di leg kedua semifinal EFL Cup di Emirates Stadium.
- Gol penentu dicetak Kai Havertz pada menit ke-90+7.
- Arsenal lolos ke final dengan agregat 4-2 dan menanti pemenang Manchester City vs Newcastle United.
- Kemenangan ini mempertegas konsistensi Arsenal di berbagai kompetisi musim 2025/2026.
London (pilar.id) – Arsenal FC memastikan langkah ke final EFL Cup 2026 usai menundukkan Chelsea FC dengan skor tipis 1-0 pada leg kedua semifinal di Emirates Stadium, London, Selasa (4/2) waktu setempat. Gol dramatis Kai Havertz pada menit ketujuh masa injury time menjadi penentu kemenangan sekaligus mengunci agregat 4-2 untuk The Gunners.
Laga berlangsung dalam tensi tinggi dan relatif minim peluang bersih. Chelsea, yang tertinggal agregat dari leg pertama, tampil disiplin dengan pendekatan defensif demi meredam dominasi Arsenal. Namun, konsentrasi lini belakang tim tamu runtuh di saat paling krusial ketika Havertz—mantan penyerang Chelsea—menyelesaikan serangan balik cepat Arsenal berkat assist Declan Rice.
Pertarungan Taktik: Dominasi Tanpa Banyak Peluang
Secara statistik, Arsenal kalah penguasaan bola (44,2 persen berbanding 55,8 persen), tetapi tampil lebih efektif. Chelsea melepaskan 14 tembakan sepanjang laga, namun hanya dua yang mengarah ke gawang. Arsenal, meski hanya mencatatkan lima percobaan, mampu menjaga efisiensi dan disiplin hingga menit akhir.
Pendekatan Chelsea di bawah arahan Liam Rosenior cukup jelas: menumpuk lima pemain di lini belakang dan mematikan keunggulan Arsenal dari situasi bola mati. Skema ini membuat The Gunners kesulitan menciptakan peluang dari set-piece, salah satu senjata utama mereka musim ini.
Mikel Arteta merespons dengan kesabaran dan rotasi pemain di babak kedua. Masuknya Havertz dan Leandro Trossard menambah fleksibilitas serangan, sementara Rice berperan besar menjaga tempo sekaligus menjadi penghubung transisi cepat yang akhirnya berbuah gol.
Chelsea Frustrasi, Arsenal Kian Matang
Chelsea mencoba mengubah arah permainan dengan memasukkan Cole Palmer dan Estêvão pada menit ke-60. Namun, upaya tersebut lebih banyak berujung pada tembakan jarak jauh yang mudah diantisipasi. Tekanan memang sempat meningkat di 15 menit terakhir, tetapi tidak cukup untuk benar-benar mengancam gawang Arsenal.
Sebaliknya, ketenangan Arsenal dalam mengelola situasi genting menunjukkan kedewasaan tim. Declan Rice terlihat aktif mengatur rekan-rekannya di lapangan, sementara lini belakang tetap solid menghadapi bola mati dan tekanan akhir dari Chelsea.
Sinyal Kuat Musim Besar Arsenal
Kemenangan ini menandai final besar pertama Arsenal dalam enam tahun terakhir dan membuka peluang meraih trofi mayor perdana sejak Piala FA 2020, musim debut Mikel Arteta sebagai manajer. Tak hanya itu, Arsenal juga sedang memimpin klasemen Premier League dengan selisih enam poin, melaju mulus di Liga Champions, serta masih bertahan di Piala FA.
Final EFL Cup di Wembley pada 22 Maret mendatang akan menjadi ujian lanjutan konsistensi mereka, dengan Manchester City atau Newcastle United sebagai calon lawan. Namun, dengan performa yang terus menanjak dan kedalaman skuad yang semakin matang, Arsenal tampak siap mengakhiri puasa gelar dan menegaskan status sebagai kekuatan utama sepak bola Inggris musim ini. (wid/hdl)

2 hours ago
3

















































