TIKI Ajak Konsumen Kelola Resi dan Kemasan Paket Demi Lindungi Data Pribadi dan Lingkungan

2 months ago 99

Jakarta (pilar.id) – Lonjakan aktivitas belanja online di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir membawa dampak besar terhadap volume pengiriman paket. Namun, di balik kemudahan transaksi digital, muncul dua tantangan baru yang sering diabaikan: risiko kebocoran data pribadi dan peningkatan limbah kemasan.

Menanggapi hal tersebut, PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI) mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola resi dan kemasan paket. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem logistik yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

“Label pengiriman yang menempel di paket berisi informasi pribadi seperti nama, nomor telepon, dan alamat lengkap. Jika dibuang tanpa dihapus, data ini berisiko disalahgunakan,” ujar Yulina Hastuti, Direktur Utama TIKI, Senin (10/11/2025).

“Di sisi lain, meningkatnya volume pengiriman berarti juga meningkatnya limbah kemasan. Karena itu, edukasi kepada konsumen menjadi penting agar keamanan data dan kelestarian lingkungan bisa berjalan seimbang,” tambahnya.

Kampanye “Smart Shipping Habit” dari TIKI

Sebagai bagian dari edukasi publik, TIKI meluncurkan kampanye “Smart Shipping Habit” — kebiasaan cerdas dalam mengelola paket — yang mencakup tiga langkah sederhana:

  • Hapus atau robek bagian resi yang berisi nama, alamat, dan nomor telepon sebelum membuang kemasan. Langkah kecil ini dapat mencegah penyalahgunaan data pribadi oleh pihak tidak bertanggung jawab.
  • Gunakan kembali kemasan bekas seperti kardus, bubble wrap, atau paper wrap yang masih layak pakai. Pastikan label lama sudah dilepas dan ditutup dengan lakban baru. TIKI mendorong kebiasaan “Reuse Before You Throw” untuk menghemat biaya sekaligus mengurangi sampah.
  • Pisahkan limbah kemasan dan kirim ke tempat daur ulang. Kardus, plastik, dan pita perekat perlu ditangani dengan benar agar dapat didaur ulang secara optimal.

Komitmen TIKI terhadap Keamanan Data dan Lingkungan

TIKI menegaskan bahwa keamanan data pelanggan menjadi prioritas utama. Perusahaan telah menerapkan teknologi enkripsi, autentikasi berlapis, serta pemantauan sistem real-time untuk memastikan seluruh informasi pengiriman terlindungi.

Selain itu, label resi TIKI kini dirancang dengan ukuran lebih kecil dan menampilkan data minimal. Melalui Aplikasi TIKI, pelanggan juga dapat menggunakan resi digital untuk pelacakan tanpa perlu menyimpan label fisik.

“Perlindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya di pihak perusahaan, tapi juga konsumen. Kami terus berupaya mengedukasi masyarakat agar lebih sadar pentingnya menjaga privasi di era digital,” jelas Yulina.

Langkah Nyata Menuju Logistik Berkelanjutan

Selain keamanan data, TIKI juga memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan melalui berbagai inisiatif, antara lain:

  • Penggunaan kemasan ramah lingkungan seperti plastik OXIUM yang lebih cepat terurai.
  • Digitalisasi dokumen pengiriman untuk mengurangi pemakaian kertas.
  • Pemanfaatan kembali kardus dan karung yang masih layak pakai.
  • Edukasi berkelanjutan kepada mitra dan pelanggan tentang prinsip Reuse, Reduce, Recycle (3R).

TIKI juga mulai menerapkan sistem reverse logistics, yaitu pengumpulan kembali kemasan bekas antar agen dan cabang untuk digunakan ulang. Sistem ini membantu mengurangi timbunan sampah kemasan dan memperpanjang siklus hidup material logistik.

“Kami percaya keberlanjutan bukan sekadar inisiatif tambahan, tetapi bagian dari tanggung jawab operasional setiap hari,” ujar Yulina.

“Melalui inovasi kemasan ramah lingkungan dan sistem reverse logistics, kami ingin setiap kiriman TIKI tidak hanya sampai dengan aman dan tepat waktu, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan.”

Edukasi Gaya Hidup Digital yang Aman dan Berkelanjutan

Melalui kampanye ini, TIKI berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya melindungi data pribadi dan mengelola kemasan secara bertanggung jawab.

“Di era digital, keamanan data dan kepedulian lingkungan bukan lagi isu terpisah. Keduanya harus berjalan beriringan agar aktivitas logistik dan gaya hidup digital masyarakat bisa tumbuh secara berkelanjutan,” tutup Yulina. (ret)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |