Transformasi Sunyi dari Sei Pagar: Cara PTPN IV PalmCo Membuktikan Modernisasi BUMN Sawit

1 week ago 32

Summary Point

  • Transformasi PTPN IV PalmCo dinilai konsisten dan terukur oleh Danantara
  • Digitalisasi, mekanisasi, dan keberlanjutan jadi pilar utama perubahan
  • Kinerja PalmCo 2025 melampaui target dengan laba Rp 6,19 triliun
  • Disparitas antarregional masih menjadi tantangan ke depan
  • Sei Pagar menjadi contoh modernisasi BUMN sawit berbasis eksekusi nyata

Jakarta (pilar.id) – Ada nuansa takzim yang terasa kuat saat jajaran pimpinan Danantara menapaki Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV Regional III Sei Pagar, Kabupaten Kampar, Riau. Bukan semata karena luasnya hamparan kebun atau hiruk-pikuk aktivitas pabrik, melainkan karena detail-detail kecil yang mencerminkan perubahan nyata di tubuh BUMN perkebunan tersebut.

Di Sei Pagar, transformasi tidak hadir dalam bentuk slogan. Layar digital pemantau kondisi kebun, peralatan mekanisasi yang meningkatkan efisiensi kerja, hingga pengelolaan limbah sebagai sumber daya produktif menjadi bukti konkret modernisasi yang dijalankan secara konsisten. Pemanfaatan biota alami untuk mendukung produksi turut mempertegas pendekatan keberlanjutan yang kini menjadi fondasi operasional.

Digitalisasi membuat pengambilan keputusan lebih presisi, mekanisasi mempercepat pekerjaan lapangan, sementara prinsip keberlanjutan menyatukan seluruh proses dari hulu hingga hilir. Dari titik inilah Danantara menangkap pesan penting: perubahan yang dilakukan dengan konsistensi akan meninggalkan dampak jangka panjang.

Pandangan lama bahwa perusahaan perkebunan negara identik dengan birokrasi lamban perlahan terkikis. PTPN IV PalmCo justru tampil sebagai entitas yang lebih modern, terukur, dan percaya diri. Transformasi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan.

Managing Director Business 2 Danantara Setyanto Hantoro bersama Managing Director Risk Management Danantara Riko Banardi sepakat menempatkan PalmCo sebagai aset strategis nasional. Keduanya memastikan dukungan penuh kepada PTPN IV PalmCo yang berada di bawah Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero).

PalmCo mengelola areal lebih dari 600.000 hektare atau setara sembilan kali luas Provinsi DKI Jakarta, dengan Regional III sebagai salah satu dari tujuh regional operasional. Dari hasil kunjungan, Danantara menilai masih terdapat ruang besar untuk optimalisasi kinerja di seluruh wilayah kerja.

Penilaian tersebut sejalan dengan komitmen Danantara untuk mendukung transformasi berkelanjutan di sektor perkebunan. Konsistensi eksekusi, keberanian melakukan perubahan, serta pendekatan menyeluruh dinilai krusial untuk memperkuat kemandirian pangan, energi, dan kedaulatan ekonomi nasional.

Bagi Danantara, kunjungan kerja ini juga menjadi sarana memahami lebih dalam bisnis sawit terintegrasi yang dijalankan PalmCo. Kolaborasi antara pemegang saham dan manajemen diharapkan semakin solid, seiring dengan penguatan tata kelola risiko dan keberlanjutan usaha.

Apresiasi turut diarahkan pada kepemimpinan Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa, yang dinilai mampu menyeimbangkan tiga pilar utama transformasi: digitalisasi, mekanisasi, dan penguatan sumber daya manusia. Pendekatan ini memastikan bahwa modernisasi tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga berdampak langsung pada kinerja dan output.

Bagi Jatmiko, setiap inisiatif transformasi tidak dijalankan demi tampilan visual semata. Seluruh inovasi diuji melalui demplot, dikalibrasi secara teknis, dihitung secara ekonomi, dan dievaluasi secara menyeluruh. Inisiatif yang terbukti efektif akan diterapkan secara luas, sementara yang tidak memberikan nilai tambah akan dihentikan.

Pendekatan berbasis data dan efisiensi ini menjadi fondasi perubahan PTPN IV Regional III sejak 2019. Kini, ketika memimpin PalmCo dengan skala dan kompleksitas yang jauh lebih besar, hasil transformasi mulai terlihat nyata.

Sepanjang 2025, PalmCo mencatatkan produktivitas crude palm oil (CPO) sebesar 4,70 ton per hektare per tahun, tumbuh sekitar 9 persen dibandingkan periode sebelumnya. Laba bersih perusahaan mencapai Rp 6,19 triliun atau sekitar 170 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Meski demikian, tantangan masih membayangi, terutama terkait disparitas kinerja antarregional. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan sinergi lintas unit serta dukungan berkelanjutan dari Danantara sebagai pemegang saham strategis.

Di tengah ketidakpastian global sektor pangan dan energi, apa yang berlangsung di Sei Pagar menghadirkan pelajaran penting. Modernisasi BUMN perkebunan tidak selalu harus dimulai dengan lompatan besar yang gegap gempita. Ia dapat tumbuh dari perubahan kecil yang dijalankan secara konsisten—dari pembibitan, pengelolaan kebun, operasional pabrik, hingga cara memandang limbah sebagai aset.

Dalam konteks inilah industri sawit nasional tengah menata masa depan. Bukan semata mengejar angka produksi, melainkan membangun keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |