Viral Tembok Ratapan Solo di Google Maps, Ini Penjelasan di Balik Label di Rumah Jokowi

11 hours ago 6

Ringkasan Berita

  • Rumah Jokowi di Solo muncul dengan label “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps.
  • Fenomena diperkuat video viral di Instagram dan X.
  • Label muncul melalui mekanisme kontribusi pengguna (UGC).
  • Diduga berkaitan dengan satire atau kritik sosial.
  • Google dapat menghapus label setelah proses moderasi.
  • Pengelolaan resmi melalui Google Business Profile dapat mencegah perubahan sepihak.

Jakarta (pilar.id) – Fenomena digital kembali menyita perhatian publik. Kediaman Presiden RI ke-7, Joko Widodo, di Jalan Kutai Utara No 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, mendadak ditandai dengan nama “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps.

Label tersebut muncul tepat di atas lokasi rumah yang selama ini dikenal sebagai kediaman pribadi Jokowi di Solo. Kemunculan nama itu memicu reaksi beragam di media sosial dan membuat lokasi tersebut kembali viral.

Viral di Media Sosial

Fenomena ini semakin ramai setelah beredar video seorang pemuda yang beraksi seolah-olah meratap di depan gerbang rumah tersebut. Salah satu unggahan dibagikan akun Instagram Indopium, yang menyebut lokasi tersebut sebagai spot “paling hype” bagi generasi muda.

Video lain yang beredar memperlihatkan sekelompok orang duduk bersila di depan rumah tersebut. Rekaman berdurasi 1 menit 17 detik itu diunggah oleh akun X milik Umar Hasibuan pada Jumat (13/2/2026). Dalam narasi yang menyertai video, disebutkan bahwa rombongan tersebut berasal dari Brebes dan melakukan doa bersama di lokasi itu.

Munculnya berbagai aktivitas di depan kediaman Jokowi diduga ikut mendorong peningkatan pencarian lokasi tersebut di Google Maps, sehingga memperkuat visibilitas label yang terpasang.

Mengapa Nama “Tembok Ratapan Solo” Bisa Muncul?

Secara teknis, kemunculan label unik tersebut bukanlah nama resmi dan tidak memiliki dasar hukum. Fenomena ini lebih berkaitan dengan mekanisme platform Google Maps yang mengandalkan kontribusi pengguna.

Berikut penjelasannya:

1. Sistem User-Generated Content (UGC)

Google Maps memungkinkan siapa pun dengan akun Google untuk menambahkan tempat atau menyarankan perubahan nama melalui fitur “Add a missing place” atau “Suggest an edit”. Sistem ini dikenal sebagai UGC (User-Generated Content).

Konsekuensinya, celah ini bisa dimanfaatkan untuk aksi iseng atau vandalisme digital. Jika usulan nama tidak segera dilaporkan atau belum tersaring algoritma, label tersebut dapat tampil secara publik.

2. Ekspresi Politik atau Kritik Sosial

Istilah “Tembok Ratapan” secara historis merujuk pada situs suci di Yerusalem yang menjadi tempat doa dan penyampaian keluh kesah. Dalam konteks Solo, penyematan nama itu diduga sebagai bentuk satire atau kritik sosial dari oknum tertentu terhadap figur publik.

Penggunaan fitur lokasi kerap dijadikan sarana ekspresi digital yang bersifat simbolik maupun politis.

3. Fenomena Google Maps Bombing

Praktik serupa dikenal dengan istilah “Google Maps bombing”, yakni upaya terorganisir atau individual untuk mengubah informasi lokasi di peta digital demi tujuan tertentu—mulai dari lelucon hingga kritik.

Kasus perubahan nama gedung-gedung publik sebelumnya menunjukkan bahwa aksi semacam ini bukan hal baru. Biasanya, Google akan meninjau dan menghapus label yang melanggar kebijakan setelah menerima laporan atau melalui moderasi internal.

Mengapa Label Itu Bisa Bertahan?

Label tidak muncul secara otomatis oleh sistem AI, melainkan melalui proses manual oleh pengguna. Beberapa faktor yang memungkinkan label tetap terlihat antara lain:

  • Lolos filter algoritma: Jika tidak mengandung kata kasar atau pelanggaran eksplisit.
  • Reputasi akun pengusul: Akun dengan level tinggi di program Local Guides sering kali lebih cepat disetujui.
  • Minim laporan: Jika belum cukup banyak pengguna melaporkan sebagai informasi salah atau spam.

Selain itu, peningkatan pencarian terhadap istilah tersebut justru dapat membuat algoritma menganggapnya populer, sehingga sementara waktu memperkuat visibilitasnya.

Pentingnya Klaim Resmi Lewat Google Business Profile

Kasus ini juga menyoroti pentingnya pengelolaan lokasi secara resmi melalui Google Business Profile.

Berbeda dengan fitur tambah tempat biasa yang bersifat publik dan rentan diubah, Google Business Profile memungkinkan pemilik lokasi melakukan klaim dan verifikasi resmi. Dengan begitu, perubahan nama oleh pihak luar tidak akan langsung muncul tanpa persetujuan pemilik akun terverifikasi.

Keunggulan utama Google Business Profile meliputi:

  • Kendali penuh atas informasi bisnis
  • Fitur jam operasional, foto, layanan, dan posting
  • Akses data pengunjung (insights)
  • Kemampuan merespons ulasan pelanggan

Dalam konteks yang lebih luas, pengelolaan profil resmi membantu menjaga akurasi informasi dan mencegah vandalisme digital.

Dinamika Ruang Digital

Fenomena “Tembok Ratapan Solo” mencerminkan betapa dinamisnya ruang digital saat ini. Di satu sisi, sistem terbuka memungkinkan pembaruan data secara cepat dan kolaboratif. Namun di sisi lain, keterbukaan itu juga membuka peluang penyalahgunaan.

Selama belum ada klarifikasi resmi atau tindakan moderasi, label tersebut dapat tetap muncul di hasil pencarian. Namun berdasarkan kebijakan Google, informasi yang tidak akurat berpotensi dihapus setelah proses peninjauan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa jejak digital dan informasi publik kini tidak hanya dibentuk oleh institusi, tetapi juga oleh partisipasi warganet. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |