Wabah Virus Nipah di India Merebak, Tenaga Medis Terinfeksi dan Puluhan Warga Dikarantina

1 week ago 21

Summary Point

  • Wabah virus Nipah terdeteksi di Benggala Barat, India
  • Lima kasus terkonfirmasi, termasuk tenaga medis
  • Hampir 100 orang menjalani karantina mandiri
  • Virus Nipah memiliki tingkat kematian hingga 75 persen
  • Belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus
  • Pencegahan bergantung pada pembatasan kontak dan kebersihan

New Delhi (pilar.id) – Pemerintah India meningkatkan langkah pengendalian setelah wabah virus Nipah terdeteksi di negara bagian Benggala Barat, wilayah timur India. Sedikitnya lima kasus terkonfirmasi, termasuk dokter dan perawat yang tertular saat menangani pasien. Otoritas kesehatan setempat juga meminta hampir 100 orang menjalani karantina mandiri di rumah sebagai langkah pencegahan.

Pasien-pasien yang terinfeksi saat ini dirawat di sejumlah rumah sakit di dalam dan sekitar Kolkata. Laporan media lokal menyebutkan satu pasien berada dalam kondisi kritis, sehingga pengawasan medis diperketat.

Virus Nipah dikenal sebagai patogen berisiko tinggi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena tingkat kematiannya yang tinggi serta ketiadaan vaksin dan pengobatan khusus.

Apa Itu Virus Nipah dan Mengapa Berbahaya?

Virus Nipah (Nipah virus/NiV) merupakan virus zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, serta antarmanusia. Menurut WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), infeksi pada manusia tergolong jarang, namun sering kali berakibat fatal.

Reservoir alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus. Penularan dapat terjadi melalui konsumsi buah atau makanan yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar, serta melalui kontak erat dengan hewan atau manusia yang terinfeksi.

Gejala Virus Nipah Sulit Dideteksi Dini

Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4 hingga 21 hari, meski dalam kasus tertentu bisa lebih lama. Gejala awal umumnya tidak spesifik, menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Pada sebagian pasien, gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas dapat muncul. Komplikasi paling serius adalah peradangan otak atau ensefalitis, yang ditandai dengan kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma. Beberapa pasien juga dapat mengalami meningitis.

Tingkat Kematian Tinggi dan Dampak Jangka Panjang

Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada jenis wabah dan strain virus. Otoritas kesehatan Inggris, UK Health Security Agency, mencatat bahwa penyintas dapat mengalami gangguan neurologis jangka panjang, termasuk kejang berulang dan perubahan perilaku.

Dalam kasus langka, ensefalitis bahkan dapat kambuh berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi awal.

Riwayat Wabah Nipah di Asia

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, setelah wabah ensefalitis menyerang peternak babi. Sejak saat itu, wabah berulang tercatat di Asia Selatan, terutama di Bangladesh dan India bagian timur laut.

Di India selatan, negara bagian Kerala melaporkan wabah Nipah pertama pada 2018, dengan kasus sporadis terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Di luar Asia Selatan, kasus serupa juga pernah dilaporkan di Filipina.

Belum Ada Obat dan Vaksin

Hingga kini, belum tersedia pengobatan khusus maupun vaksin untuk mencegah infeksi virus Nipah. Penanganan pasien bersifat suportif, berfokus pada perawatan gejala dan komplikasi.

WHO telah memasukkan virus Nipah dalam daftar prioritas patogen berbahaya yang memerlukan riset mendesak melalui Research and Development Blueprint.

Upaya Pencegahan yang Dianjurkan

Dengan belum adanya vaksin, pencegahan menjadi kunci utama. WHO dan lembaga kesehatan global merekomendasikan beberapa langkah penting:

  • Menghindari konsumsi buah atau nira kurma mentah yang berpotensi terkontaminasi kelelawar
  • Mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi
  • Menggunakan alat pelindung diri saat menangani hewan sakit
  • Menghindari kontak erat tanpa perlindungan dengan pasien terinfeksi
  • Menjaga kebersihan tangan secara rutin (usm)
Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |