YDSF Mulai Tahap Recovery Pascabencana Aceh, Fokus Pulihkan Sarana Pendidikan dan Dayah

1 week ago 26

Summary Point

  • YDSF memulai tahap recovery pascabencana banjir dan longsor di Aceh
  • Fokus program pada sarana pendidikan, dayah, dan akses air bersih
  • Sekitar 600 pesantren terdampak, 125 di antaranya rusak berat
  • Tingkat kehadiran siswa pascabencana masih di bawah 70 persen
  • Program recovery melibatkan kolaborasi dengan mitra lokal Aceh Hijau

Surabaya (pilar.id) – Lembaga Amil Zakat dan Nadzir Wakaf Nasional Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF) mulai mengakselerasi program pemulihan (recovery) pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Langkah awal dilakukan melalui silaturahmi dan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Aceh serta Dinas Pendidikan Dayah (Pesantren) Provinsi Aceh pada Jumat (23/1/2026).

Pertemuan tersebut menjadi forum pemetaan kebutuhan lapangan agar program recovery yang dijalankan YDSF selaras dengan kondisi riil dan prioritas pemulihan pascabencana. Hadir dalam pertemuan itu antara lain Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Muhsin beserta jajaran kepala bidang, serta Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murtala Mudin.

Direktur Utama YDSF, Jauhari Sani, menyampaikan bahwa tahap recovery akan difokuskan pada pemulihan sarana dan prasarana pendukung pendidikan, baik di sekolah formal maupun dayah. Program yang disiapkan meliputi perbaikan fasilitas sanitasi dan air bersih (MCK), rehabilitasi sarana pendidikan, dukungan perlengkapan sekolah, hingga pelaksanaan Kampung Ramadhan bagi masyarakat terdampak.

Menurut Jauhari, pendidikan menjadi sektor yang harus segera dipulihkan karena berdampak langsung terhadap keberlangsungan aktivitas belajar anak-anak pascabencana. Oleh karena itu, YDSF memandang penting adanya arahan dan data dari pemerintah daerah agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran dan berkelanjutan.

Dinas Pendidikan Dayah Aceh mencatat dampak bencana terhadap lembaga pendidikan keagamaan cukup signifikan. Dari sekitar 1.800 pesantren yang tersebar di Aceh, lebih dari 600 dayah dilaporkan terdampak banjir dan longsor, dengan sekitar 125 dayah mengalami kerusakan berat hingga belum dapat kembali menjalankan aktivitas belajar mengajar.

Muhsin menyampaikan bahwa wilayah Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Kabupaten Pidie Jaya menjadi daerah dengan tingkat kerusakan cukup serius. Ia berharap program recovery YDSF dapat memprioritaskan kawasan tersebut, terutama untuk pemulihan fasilitas dasar, pemberdayaan santri, bantuan bagi anak yatim, serta layanan pemulihan psikososial atau trauma healing bagi anak-anak.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murtala Mudin menyoroti dampak bencana terhadap tingkat kehadiran siswa di sekolah. Pascabencana, kehadiran siswa dilaporkan masih berada di bawah 70 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh masih banyaknya keluarga yang tinggal di pengungsian, kehilangan sumber penghasilan, serta rusaknya sarana transportasi yang sebelumnya digunakan untuk mengantar anak ke sekolah.

Murtala menilai dukungan pemulihan pendidikan perlu mencakup aspek non-fisik, termasuk bantuan biaya transportasi agar siswa dapat kembali bersekolah secara normal. Menurutnya, persoalan tersebut kerap luput dari perhatian, padahal sangat menentukan keberlanjutan proses belajar anak-anak korban bencana.

Dalam pelaksanaan program recovery, YDSF akan berkolaborasi dengan mitra lokal Aceh Hijau yang memiliki pengalaman panjang dalam program sosial, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat di Aceh. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat efektivitas pelaksanaan program serta memastikan keberlanjutan dampak di tingkat komunitas.

Sebelumnya, pada fase tanggap darurat bencana, YDSF telah mengerahkan empat tim Unit Aksi Cepat ke sejumlah lokasi terdampak. Bantuan yang disalurkan meliputi pembukaan dapur umum, distribusi sembako, paket kebersihan (hygiene kit), perlengkapan sekolah, distribusi air bersih, hingga layanan trauma healing bagi anak-anak.

Memasuki fase recovery, YDSF menegaskan komitmennya untuk mendukung pemulihan Aceh secara menyeluruh, khususnya melalui penguatan sektor pendidikan sebagai fondasi kebangkitan sosial dan masa depan generasi terdampak bencana. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |