Ringkasan Berita
- Blogger asal Guangdong, China, berhasil mengekstraksi 191,73 gram emas dari kartu SIM bekas.
- Proses tersebut membutuhkan sekitar 400.000 kartu SIM lama.
- Nilai emas yang dihasilkan diperkirakan melampaui 120.000 yuan.
- Kasus ini menyoroti potensi ekonomi dari limbah elektronik global.
- Daur ulang e-waste dinilai relevan untuk keberlanjutan dan sumber pendapatan baru.
Jakarta (pilar.id) – Seorang blogger asal Provinsi Guangdong, China, menarik perhatian publik setelah berhasil mengekstraksi emas dari limbah elektronik berupa kartu SIM bekas. Dari ribuan kartu yang selama ini dianggap tidak bernilai, ia memperoleh 191,73 gram emas, dengan nilai pasar lebih dari 120.000 yuan, atau setara sekitar Rp260 juta.
Keberhasilan ini membuka mata banyak pihak terhadap potensi tersembunyi dalam komponen elektronik yang kerap berakhir di tempat pembuangan sampah.
Butuh 400 Ribu Kartu SIM untuk Sekepal Emas?
Untuk mendapatkan jumlah emas tersebut, blogger itu harus mengumpulkan sekitar 400.000 kartu SIM lama. Setiap kartu diketahui hanya mengandung sekitar 0,47 miligram emas, yang umumnya digunakan sebagai lapisan konduktor karena sifatnya yang tahan korosi dan sangat efisien dalam menghantarkan listrik.
Skala pengumpulan dan proses pemisahan material menjadi tantangan tersendiri, menunjukkan bahwa ekstraksi logam mulia dari limbah elektronik bukan pekerjaan instan, melainkan membutuhkan ketekunan dan pengetahuan teknis.
Lebih Menguntungkan dari Pekerjaan Konvensional
Dalam sejumlah kontennya, sang blogger membandingkan hasil dari aktivitas daur ulang tersebut dengan pekerjaan formal. Ia menilai bahwa pengolahan barang rongsokan bernilai tinggi mampu memberikan hasil ekonomi yang signifikan dalam waktu relatif singkat, sekaligus membuka peluang usaha alternatif di sektor informal berbasis teknologi.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kisah ini bukan sekadar tentang keuntungan pribadi, melainkan contoh konkret bagaimana limbah elektronik dapat dimanfaatkan secara kreatif dan produktif.
Isu Limbah Elektronik Global
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya volume limbah elektronik (e-waste) secara global, seiring pesatnya perkembangan teknologi dan siklus pergantian perangkat yang semakin singkat. Banyak komponen elektronik mengandung logam berharga seperti emas, perak, dan palladium, namun masih jarang dimanfaatkan secara optimal.
Pemulihan logam dari e-waste tidak hanya berpotensi menjadi sumber pendapatan baru, tetapi juga berperan penting dalam mengurangi dampak lingkungan akibat penumpukan sampah teknologi.
Dorongan bagi Daur Ulang Berkelanjutan
Pengalaman blogger asal Guangdong tersebut menjadi contoh nyata bahwa pendekatan inovatif dalam pengelolaan limbah dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus ekologis. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pembangunan berkelanjutan, praktik daur ulang limbah elektronik dinilai semakin relevan, baik bagi individu, pelaku usaha kecil, maupun industri skala besar.
Lebih dari sekadar kisah unik, fenomena ini mengajak masyarakat untuk meninjau ulang cara memandang sampah—bukan hanya sebagai sisa konsumsi, tetapi sebagai sumber daya potensial di era modern.
Ternyata banyak yang Mempertanyakan
Cerita tentang blogger dari China yang mengekstraksi emas dari kartu SIM bekas ini tentu memicu perdebatan. Dari sebuah diskusi kecil di internet, data ini dinilai tidak sepenuhnya akurat. Bahwa ada laporan nyata tentang seorang pria di Provinsi Guangdong, China, yang videonya viral ketika menunjukkan proses ekstraksi emas dari limbah elektronik, termasuk kartu SIM bekas, dengan hasil kurang lebih 191 gram emas, ternyata telah diberitakan di media luar negeri.
Emas memang secara teknis ada dalam komponen elektronik seperti kartu SIM karena digunakan sebagai material konduktor pada sirkuit.
Yang perlu diklarifikasi, kandungan emas dalam satu kartu SIM sebenarnya sangat kecil, sekitar kurang dari 0,001 gram per kartu, jauh lebih sedikit daripada klaim viral yang tersebar.
Artinya untuk mendapatkan ratusan gram emas, pria tersebut tidak hanya mengolah kartu SIM saja, melainkan campuran limbah elektronik industri dalam jumlah besar (diperkirakan hampir dua ton limbah).
“Proses ekstraksi menggunakan bahan kimia berbahaya, misalnya aqua regia yang mampu melarutkan emas, yang tidak aman untuk dicoba oleh orang umum tanpa fasilitas dan perlindungan,” tulis salah satu netizen.
Versi yang beredar di media sosial dinilai cenderung berlebihan atau kurang lengkap secara konteks teknis. Misalnya limbah yang mesti diolah, bahaya kimia, dan fakta bahwa tidak hanya SIM-nya saja yang diolah.
Cara Kerja Ekstraksi Emas dari E-Waste
Emas, faktanya memang sering digunakan di perangkat elektronik. Alasannya, konduktivitas listrik sangat baik, tahan korosi, stabil dalam jangka panjang. Tapi emas biasanya ada dalam jumlah sangat kecil di konektor dan pin IC, lapisan sirkuit cetak (PCB), dan chip kartu SIM.
Ekstraksi emas jelas butuh proses yang sangat lama. Apalagi kandungannya berkisar di mikrogram–miligram, bukan gram.
Tahapan umum yang sering dilakukan, pertama adalah level konseptual. Dan ini bersifat non-teknis. Secara industri dan laboratorium, prosesnya meliputi pra-pemrosesan, yakni pemilahan jenis e-waste, penghancuran mekanik atau shredding.
Kemudian pemisahan logam dan non-logam yang meliputi leaching, dimana logam target dilarutkan dari material padat. Di sini kita akan memahami bahwa emas tidak larut secara alami. Dia perlu reagen kimia khusus.
Tahap berikutnya adalah pemurnian. Tahapannya, emas dipisahkan dari larutan, direduksi kembali menjadi logam padat, lalu dimurnikan hingga kadar tinggi (bullion/serbuk).
Sekadar catatan, di level industri, semua tahap ini dilakukan dalam sistem tertutup, dengan kontrol limbah ketat. (ret/hdl)

18 hours ago
9

















































