Harga Emas Dunia Melonjak ke Rekor Baru, Didorong Pelemahan Dolar AS dan Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

18 hours ago 9

Ringkasan Berita

  • Harga emas dunia melonjak hampir 2% dan mencetak level tertinggi sepanjang sejarah.
  • Pelemahan dolar AS menjadi pendorong utama kenaikan harga emas.
  • Investor menanti arah kebijakan suku bunga The Fed sepanjang 2026.
  • Bank sentral China kembali menambah cadangan emas selama 15 bulan berturut-turut.
  • Perak, platinum, dan palladium turut menguat di tengah defisit pasokan global.

Jakarta (pilar.id) – Harga emas dunia mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (9/2/2026) waktu setempat. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati investor global di tengah melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Emas spot melonjak 1,93% ke level US$ 5.056,66 per ons troi, sementara kontrak berjangka emas AS pengiriman April ditutup menguat 2% ke US$ 5.079,40 per ons troi. Capaian tersebut menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai utama di tengah tekanan ekonomi global.

Dolar AS Melemah, Permintaan Emas Meningkat

Kenaikan harga emas berjalan seiring dengan pelemahan dolar AS yang turun sekitar 0,8% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan. Kondisi ini membuat emas menjadi relatif lebih murah bagi investor non-AS, sehingga mendorong peningkatan permintaan.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika mata uang. Ia menyoroti meningkatnya ekspektasi pasar terhadap perlambatan ekonomi AS, khususnya dari sektor ketenagakerjaan, yang berpotensi membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Investor Menanti Sinyal The Fed

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting AS, mulai dari laporan tenaga kerja nonpertanian, inflasi konsumen, hingga klaim pengangguran mingguan. Data tersebut akan menjadi indikator kunci bagi langkah The Fed ke depan.

Pasar saat ini memproyeksikan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin sepanjang 2026. Dalam lingkungan suku bunga rendah, daya tarik emas cenderung meningkat karena menurunnya biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil.

Hasil survei Reuters memperkirakan pertumbuhan tenaga kerja nonpertanian AS pada Januari hanya mencapai sekitar 70.000 orang, mencerminkan perlambatan ekonomi yang semakin nyata.

Pembelian Bank Sentral China Jadi Penopang

Dari sisi fundamental jangka panjang, permintaan emas global tetap kuat. People’s Bank of China (PBOC) kembali menambah cadangan emasnya pada Januari 2026, memperpanjang tren pembelian yang telah berlangsung selama 15 bulan berturut-turut.

Pendiri sekaligus CEO B2PRIME Group, Eugenia Mykuliak, menilai konsistensi pembelian emas oleh bank sentral, khususnya China, menjadi faktor penopang struktural harga emas dunia. Langkah ini juga mencerminkan strategi diversifikasi cadangan devisa serta upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS di tengah fragmentasi ekonomi global.

Perak hingga Platinum Ikut Menguat

Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot melonjak 6,93% ke US$ 83,23 per ons, melanjutkan reli tajam dari sesi sebelumnya. Logam ini bahkan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada akhir Januari lalu.

Bart Melek menjelaskan, defisit pasokan perak yang signifikan membuat pasar sangat sensitif terhadap kenaikan permintaan, sehingga berpotensi memicu volatilitas harga yang lebih tinggi.

Sementara itu, harga platinum spot naik 1,33% ke US$ 2.130,77 per ons, dan palladium menguat 1,85% ke US$ 1.736,52 per ons.

Peluang Investasi di Tengah Volatilitas

Lonjakan harga emas dan logam mulia membuka peluang bagi investor, namun juga diiringi risiko volatilitas yang tinggi. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed serta dinamika data ekonomi global berpotensi membuat pasar bergerak cepat dan tajam.

Bagi investor ritel, penguatan emas menjadi pengingat pentingnya strategi diversifikasi portofolio. Di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, emas kembali menegaskan perannya bukan sekadar komoditas, melainkan aset kepercayaan saat pasar diliputi keraguan. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |