Ringkasan Berita
- Festival Cap Go Meh Singkawang kembali digelar meriah dengan ribuan pengunjung.
- Extrajoss hadir untuk tahun ketiga bersama Bobon Santoso.
- Perayaan berlangsung bertepatan dengan Ramadan dan menunjukkan kuatnya toleransi masyarakat.
- Singkawang kembali diakui sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia menurut SETARA Institute.
Singkawang (pilar.id) – Awal Maret tahun ini menghadirkan momen yang istimewa bagi masyarakat Indonesia. Ketika umat Muslim menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan, masyarakat Tionghoa di berbagai daerah juga merayakan Cap Go Meh sebagai penutup rangkaian Tahun Baru Imlek. Di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dua momentum tersebut berjalan berdampingan dalam suasana yang harmonis.
Singkawang kembali dipadati ribuan warga dan wisatawan yang datang untuk menyaksikan salah satu perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia. Sepanjang jalan kota, berbagai atraksi budaya tampil memikat, mulai dari barongsai, arak-arakan budaya, hingga ritual tatung yang menjadi ikon festival ini.
Tahun ini, kemeriahan festival juga diwarnai kehadiran brand minuman energi Extrajoss bersama kreator kuliner Bobon Santoso. Keduanya turut meramaikan perayaan sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya energi positif, kebersamaan, dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Singkawang, Simbol Harmoni Keberagaman
Cap Go Meh bagi masyarakat Tionghoa merupakan penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang sarat makna kebersamaan dan harapan akan keberuntungan di tahun yang baru. Namun di Singkawang, festival ini memiliki makna yang lebih luas karena menjadi ruang pertemuan berbagai budaya.
Masyarakat Tionghoa, Melayu, Dayak, serta berbagai etnis lain hidup berdampingan dengan tradisi masing-masing. Perayaan Cap Go Meh pun menjadi representasi nyata kehidupan sosial masyarakat kota tersebut yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati.
Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, Arwin Nugraha Hutasoit, menilai Singkawang sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dirawat dengan baik. Menurutnya, keharmonisan masyarakat setempat menghadirkan energi positif yang patut menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Reputasi Singkawang sebagai kota toleran juga tercermin dalam Indeks Kota Toleran 2024 yang dirilis SETARA Institute. Dalam laporan tersebut, Singkawang menempati peringkat kedua kota paling toleran di Indonesia dari total 94 kota yang dinilai secara nasional.
Kehadiran Bobon Santoso dan Energi Kebersamaan
Kehadiran Bobon Santoso menambah warna dalam festival tahun ini. Sosok yang dikenal sebagai “Chef Rakyat Indonesia” tersebut selama ini aktif mengangkat kekayaan kuliner Nusantara sebagai simbol keberagaman budaya.
Di Singkawang, Bobon tidak hanya hadir sebagai figur publik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat dan komunitas tatung. Dalam kesempatan itu, ia turut membagikan minuman energi Extrajoss kepada peserta dan penonton festival.
Bobon menilai Cap Go Meh bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga perayaan akulturasi yang tercermin dalam tradisi kuliner. Salah satu contohnya adalah lontong Cap Go Meh yang memadukan unsur budaya Tionghoa dan Nusantara dalam satu hidangan.
Cap Go Meh dan Ramadan: Toleransi yang Terlihat Nyata
Tahun ini, Cap Go Meh berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadan. Meski demikian, suasana kota tetap berjalan harmonis tanpa adanya gesekan antarperayaan.
Masyarakat yang menjalankan ibadah tetap dapat melaksanakannya dengan khusyuk, sementara perayaan budaya berlangsung dengan penuh sukacita. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat mampu menjaga keseimbangan dalam merayakan keberagaman.
Bobon Santoso melihat momen tersebut sebagai gambaran nyata nilai toleransi di Indonesia, di mana perbedaan tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.
Dukungan Extrajoss untuk Energi Positif
Bagi Extrajoss, partisipasi dalam Cap Go Meh Singkawang bukan sekadar kegiatan promosi, tetapi juga bentuk dukungan terhadap nilai kebersamaan yang tumbuh di masyarakat.
Dalam festival tahun ini, Extrajoss membagikan sekitar 20.000 minuman kepada pengunjung dan komunitas tatung sebagai simbol semangat dan energi untuk tetap optimis di tengah berbagai tantangan.
Menurut Arwin, semangat toleransi yang terlihat di Singkawang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia secara luas. Perayaan Cap Go Meh di kota ini dinilai bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga tentang harapan bahwa keberagaman dapat terus menjadi kekuatan bangsa.
Dari Singkawang, pesan itu terasa jelas: perbedaan bukanlah penghalang, melainkan warna yang memperkaya kehidupan bersama di Indonesia. (ret/hdl)

16 hours ago
9

















































