Surabaya (pilar.id) – Kegiatan pengabdian masyarakat internasional kembali ditunjukkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bersama RSUD Dr Soetomo dengan menyelenggarakan pelatihan Basic Life Support (BLS) bagi diaspora Indonesia di Maroko. Program yang berlangsung di KBRI Rabat pada 21 April 2026 ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan warga negara Indonesia (WNI) menghadapi situasi darurat medis di luar negeri.
Pelatihan tersebut dihadiri langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko, Yuyu Sutisna, yang turut memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Kehadiran perwakilan pemerintah dinilai memperkuat sinergi antara institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan diplomasi dalam upaya perlindungan WNI di luar negeri.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi ilmiah para tenaga medis Indonesia yang sebelumnya mengikuti World Congress of Anaesthesiologists ke-19 di Marrakech. Pengetahuan dan praktik terbaik internasional yang diperoleh kemudian ditransfer langsung kepada masyarakat melalui pelatihan berbasis praktik.
Ketua tim pelatihan, Anna Surgean Veterini, menegaskan bahwa keterampilan dasar penyelamatan nyawa tidak hanya penting bagi tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat umum. Ia menyoroti berbagai kondisi darurat seperti serangan jantung, tersedak, hingga kecelakaan listrik yang dapat terjadi kapan saja, sehingga membutuhkan respons cepat dari orang di sekitar korban.
Materi pelatihan disusun secara komprehensif dan aplikatif dengan melibatkan dua instruktur utama, Dyah Saraswati dan Nenden Suliadiana Fajarini. Peserta mendapatkan pembekalan mulai dari teknik Bantuan Hidup Dasar (BLS) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan tersedak, cedera akibat listrik, hingga kondisi lingkungan ekstrem seperti heat stroke dan hipotermia.
Selain teori, pelatihan juga menitikberatkan pada praktik langsung, termasuk simulasi penggunaan Automated External Defibrillator (AED), perangkat penting dalam penanganan henti jantung yang kini semakin banyak tersedia di fasilitas publik. Antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama saat sesi simulasi yang memungkinkan mereka mempraktikkan teknik penyelamatan secara langsung di bawah supervisi tenaga ahli.
Program ini menjadi salah satu pelatihan BLS pertama yang secara khusus menyasar komunitas diaspora Indonesia di Maroko. Dukungan penuh dari KBRI Rabat turut memastikan kelancaran kegiatan sekaligus memperluas dampaknya bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Melalui inisiatif ini, FK UNAIR dan RSUD Dr Soetomo tidak hanya memperkuat kapasitas individu dalam menghadapi kondisi darurat, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kepedulian sosial di kalangan diaspora. Langkah ini sekaligus menegaskan peran aktif tenaga medis Indonesia dalam kontribusi kesehatan global berbasis pengabdian masyarakat. (usm)

1 day ago
12

















































