Dari Lahan Kosong Jadi Kebun TOGA, Kisah Murni di Duri Hidupkan Warisan Tanaman Obat Tradisional

17 hours ago 9

Ringkasan Berita

  • Murni, Ketua PKK di Duri, Bengkalis, menginisiasi kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di lahan kosong.
  • Program ini berkembang melalui pendampingan PT Pertamina Hulu Rokan.
  • Kebun tersebut kini menyediakan tanaman obat seperti jahe merah dan kunyit bagi warga.
  • Inisiatif ini sejalan dengan peringatan World Wildlife Day yang menyoroti pentingnya tanaman obat bagi kesehatan manusia.

Bengkalis (pilar.id) – Di tengah pekarangan sederhana di RW 29 Bumi Hijau, Kelurahan Air Jamban, Kabupaten Bengkalis, aroma rimpang jahe yang baru dipangkas tercium kuat di udara pagi. Bagi sebagian orang, aroma tersebut hanyalah bumbu dapur. Namun bagi Murni (37), Ketua Kelompok PKK setempat, aroma itu melambangkan kemandirian sekaligus warisan kesehatan yang terus dijaga.

Perempuan yang aktif dalam Program Puteri Proklim Melayu Lestari tersebut berhasil mengubah lahan kosong yang dulu terbengkalai menjadi kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kini, lahan tersebut menjadi sumber tanaman herbal yang dimanfaatkan warga sekitar.

Transformasi ini menjadi kisah inspiratif yang sejalan dengan peringatan Hari Kehidupan Liar Sedunia (World Wildlife Day) 2026, yang mengangkat tema “Tanaman Obat dan Aromatik: Melestarikan Kesehatan, Warisan, dan Mata Pencaharian.”

Menjaga Warisan Tanaman Obat Tradisional

Bagi masyarakat Melayu di Bengkalis, tanaman rimpang seperti jahe merah, jahe putih, dan kunyit bukan sekadar tanaman dapur. Tanaman tersebut telah lama digunakan sebagai ramuan tradisional untuk menjaga kesehatan tubuh.

Jahe dikenal membantu menghangatkan tubuh serta meredakan gejala flu ringan. Sementara kunyit sering dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan dan meningkatkan kebugaran.

Namun seiring perkembangan zaman, pengetahuan mengenai tanaman obat tradisional perlahan mulai ditinggalkan. Banyak masyarakat yang lebih bergantung pada obat instan dan produk farmasi modern.

Padahal secara global, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar satu dari empat obat modern berasal dari senyawa yang ditemukan pada tumbuhan liar.

Berawal dari Lahan Terbengkalai

Perjalanan perubahan di lingkungan Bumi Hijau bermula dari keresahan warga terhadap lahan kosong di kawasan mereka. Area tersebut sebelumnya hanya dipenuhi semak liar dan tidak dimanfaatkan.

Murni bersama para ibu PKK sempat memiliki keinginan untuk menjadikannya kebun tanaman obat. Namun keraguan sempat muncul karena kondisi tanah yang keras serta keterbatasan pengetahuan tentang budidaya tanaman herbal.

Keraguan itu perlahan berubah menjadi semangat setelah kelompok ini mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program pemberdayaan masyarakat.

Kebun Herbal yang Menghidupkan Komunitas

Melalui proses belajar dan kerja bersama, para ibu mulai menanam berbagai tanaman obat dan hortikultura. Beberapa jenis tanaman yang kini tumbuh di kebun tersebut antara lain jahe putih, jahe merah, kunyit, serta berbagai sayuran yang dirawat menggunakan pupuk organik.

Hasilnya tidak hanya terlihat dari hijaunya kebun tersebut, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan langsung oleh warga.

Dari sisi kesehatan, masyarakat kini memiliki akses mudah terhadap tanaman herbal yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Dari sisi ekonomi, kebun ini juga membantu mengurangi pengeluaran, terutama ketika harga rempah di pasaran meningkat.

Selain itu, kebun tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Mereka kembali mengenal berbagai jenis tanaman obat yang sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita orang tua atau kakek-nenek mereka.

Pemberdayaan Perempuan dan Lingkungan

Manager Community Involvement & Development PT Pertamina Hulu Rokan, Iwan Ridwan Faizal, menilai upaya yang dilakukan Murni dan kelompoknya sebagai contoh nyata pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.

Menurut Iwan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, bahkan dari sepetak lahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai.

Ia menilai inisiatif tersebut tidak hanya berkontribusi pada kesehatan keluarga, tetapi juga membantu melestarikan pengetahuan tradisional yang menjadi bagian penting dari budaya lokal.

Tanaman Obat sebagai Warisan Masa Depan

Kini kebun TOGA di Bumi Hijau tidak hanya menjadi ruang hijau bagi warga, tetapi juga simbol ketangguhan komunitas perempuan yang menjaga warisan pengetahuan leluhur.

Apa yang dilakukan Murni dan para ibu PKK menunjukkan bahwa pelestarian tanaman obat tidak selalu harus dimulai dari program besar. Upaya sederhana di lingkungan kecil pun dapat memberi dampak nyata bagi kesehatan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian budaya.

Di tangan para perempuan yang gigih, sebatang tanaman jahe atau kunyit bukan sekadar komoditas dapur, melainkan bagian dari warisan kehidupan yang terus bertunas untuk generasi berikutnya. (ren)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |