Inovasi Netra Mahasiswa UNAIR Tembus Kompetisi Internasional, Tawarkan Solusi Sampah Plastik Multilayer

7 hours ago 8

Ringkasan Berita

  • Mahasiswa Universitas Airlangga menciptakan Netra, reuse jar yang dapat digunakan hingga 50 kali.
  • Inovasi ini menjawab persoalan sampah plastik multilayer yang sulit didaur ulang.
  • Tim UNAIR meraih 4th Place Winner dalam kompetisi internasional GreenGeneration.
  • Sistem Netra dilengkapi refill machine dan QR code untuk monitoring penggunaan.
  • Kolaborasi lintas jurusan menjadi kunci keberhasilan tim di ajang global.
  • Kolaborasi Lintas Jurusan Antar Mahasiswa UNAIR Berbuah Prestasi Global

Surabaya (pilar.id) – Inovasi solusi sampah plastik dari mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menembus panggung internasional. Melalui gagasan bertajuk Netra, tim mahasiswa lintas jurusan ini meraih 4th Place Winner dalam ajang GreenGeneration: Sustainable Case Competition yang digelar oleh Nestle Indonesia Company.

Kompetisi tersebut diikuti lebih dari 3.600 tim dari berbagai negara. Tim UNAIR menjadi satu-satunya perwakilan kampus yang berhasil menembus 20 besar hingga babak final.

Netra, Reuse Jar untuk Atasi Sampah Plastik Multilayer

Persoalan utama dalam manajemen sampah saat ini adalah meningkatnya limbah kemasan plastik, khususnya jenis multilayer yang sulit didaur ulang dan minim nilai ekonomi. Kondisi ini membuat proses pengumpulan dan pengelolaan menjadi tidak optimal.

Menjawab tantangan tersebut, tim yang diketuai Ridhwan Fadly Saputra menghadirkan Netra, sebuah reuse jar yang dirancang dapat digunakan hingga 50 kali pemakaian. Produk ini tidak hanya berfokus pada penggantian kemasan sekali pakai, tetapi juga membangun sistem terintegrasi.

Menurut Ridhwan, Netra dilengkapi dua komponen pendukung, yakni sistem mesin isi ulang (refill machine system) yang bekerja sama dengan outlet mitra serta kode QR pada setiap wadah untuk memantau siklus penggunaan dari hulu hingga hilir.

Pendekatan ini dinilai mampu menjawab persoalan ekosistem kemasan berkelanjutan, bukan sekadar inovasi material semata.

Bangun Ekosistem dari Produsen hingga Konsumen

Tim yang terdiri dari Ridhwan Fadly Saputra (FST 2022), Farrelindra Nadhif Islami (FTMM 2024), dan Muhammad Dafi Aritama (FST 2024) menilai bahwa tantangan terbesar dalam isu sampah plastik bukan hanya soal teknologi, tetapi membangun sistem yang saling terhubung.

Ridhwan menjelaskan, transisi menuju kemasan berkelanjutan memerlukan arsitektur sistem yang mampu mengintegrasikan produsen, konsumen, hingga pengelola sampah. Melalui kompetisi ini, tim didorong untuk memetakan solusi secara strategis dan komprehensif.

Model Netra memungkinkan kontrol dan monitoring kuantitas sampah secara lebih terukur, sehingga potensi pengurangan limbah plastik dapat dimaksimalkan.

Strategi Kolaborasi Lintas Jurusan

Sebagai satu-satunya tim UNAIR di babak final, tantangan waktu menjadi kendala utama dalam menyusun konsep inovasi yang matang dan aplikatif. Ridhwan mengakui bahwa penyusunan alur berpikir dan integrasi ide dalam waktu terbatas bukan hal mudah.

Untuk mengatasinya, tim membagi peran berdasarkan kompetensi masing-masing anggota. Kolaborasi lintas jurusan menjadi strategi efektif dalam merumuskan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri.

Menurut Ridhwan, pendekatan multidisiplin memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam menyelesaikan real case problem, khususnya di sektor keberlanjutan dan industri.

Dorong Generasi Muda Hadirkan Solusi Lingkungan

Keberhasilan tim UNAIR ini menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di level internasional dengan gagasan berbasis keberlanjutan. Inovasi Netra menjadi contoh konkret bagaimana isu lingkungan dapat dijawab melalui pendekatan sistemik dan kolaboratif.

Prestasi ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendorong solusi nyata terhadap persoalan sampah plastik yang terus meningkat setiap tahun. Dengan model reuse berbasis monitoring digital, Netra berpotensi menjadi referensi pengembangan kemasan berkelanjutan di masa depan.

Ke depan, kolaborasi lintas disiplin dan keberanian menghadapi persoalan riil industri dinilai akan semakin menentukan daya saing mahasiswa Indonesia di kancah global. (usm)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |