Kinerja Bank Mandiri Januari 2026 Moncer, Kredit Tumbuh 15,62 Persen Tembus Rp1.511 Triliun

7 hours ago 6

Ringkasan Berita

  • Kredit Bank Mandiri Januari 2026 tumbuh 15,62 persen YoY menjadi Rp1.511,4 triliun.
  • Total aset naik 13,96 persen YoY menjadi Rp2.191,9 triliun.
  • DPK tumbuh 17,29 persen dengan rasio CASA 73 persen.
  • NII naik 10,2 persen YoY, CoF turun ke 2,06 persen.
  • Transaksi Livin’ by Mandiri tumbuh 49,3 persen YoY.
  • NPL terjaga di level 0,97 persen dan CoC turun menjadi 0,35 persen.

Jakarta (pilar.id) – Bank Mandiri kembali mencatatkan performa solid pada awal 2026. Berdasarkan laporan keuangan bulanan (bank only) Januari 2026, realisasi kredit perseroan mencapai Rp1.511,4 triliun atau tumbuh 15,62 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Pertumbuhan kredit tersebut turut mendorong total aset menjadi Rp2.191,9 triliun, naik 13,96 persen YoY. Kinerja ini mencerminkan ekspansi bisnis yang tetap terjaga kualitasnya di tengah penguatan fungsi intermediasi perbankan.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut sejalan dengan komitmen perseroan dalam memperluas pembiayaan ke sektor produktif, termasuk penguatan ekosistem UMKM dan pelaku usaha di berbagai daerah. Menurut dia, strategi bisnis yang terintegrasi dengan manajemen risiko menjadi kunci menjaga pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan.

Struktur Pendanaan dan Likuiditas Menguat

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bank only tercatat Rp1.635,5 triliun atau tumbuh 17,29 persen YoY. Komposisi dana didominasi dana murah dengan rasio Current Account Saving Account (CASA) di level 73 persen.

Dominasi CASA tersebut memberikan ruang efisiensi biaya dana sekaligus memperkuat struktur likuiditas. Pada Januari 2026, Cost of Fund (CoF) tercatat turun 27 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 2,06 persen.

Kondisi ini berkontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang meningkat 10,2 persen YoY, sekaligus menopang pertumbuhan laba bersih secara month to date (MTD) yang mencatatkan kenaikan dua digit.

Fee Based Income dan Efisiensi Meningkat

Pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income (FBI) recurring tumbuh 16,1 persen YoY. Pertumbuhan ini mencerminkan diversifikasi sumber pendapatan yang semakin berimbang.

Efisiensi operasional juga membaik, tercermin dari rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang turun menjadi 37,75 persen, dari sebelumnya masih berada di atas 40 persen. Penurunan ini menunjukkan peningkatan produktivitas serta efektivitas pengelolaan biaya.

Akselerasi Digital Dorong Transaksi

Transformasi digital menjadi salah satu motor pertumbuhan utama. Super apps Livin’ by Mandiri mencatatkan kenaikan transaksi 49,3 persen YoY. Sementara platform Kopra by Mandiri tumbuh 27 persen YoY, dan transaksi treasury meningkat 33 persen YoY.

Penguatan ekosistem digital tersebut terintegrasi melalui layanan Livin’ by Mandiri untuk nasabah ritel dan Kopra by Mandiri bagi segmen usaha. Selain itu, Livin’ Merchant turut mendukung digitalisasi transaksi UMKM.

Novita menyampaikan bahwa integrasi layanan digital lintas segmen diarahkan untuk memperluas inklusi keuangan sekaligus menghadirkan solusi transaksi dan pembiayaan yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kualitas Kredit Tetap Terjaga

Dari sisi manajemen risiko, Cost of Credit (CoC) turun 21 basis poin YoY menjadi 0,35 persen. Rasio Non-Performing Loan (NPL) juga tetap terkendali di level 0,97 persen atau turun 3 basis poin secara tahunan.

Stabilitas kualitas aset ini mencerminkan selektivitas pembiayaan dan disiplin manajemen risiko di tengah ekspansi kredit yang agresif.

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan mitra strategis pemerintah, bank berkode emiten BMRI ini terus mengarahkan pembiayaan pada sektor-sektor prioritas yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan pemberdayaan UMKM.

Dengan fundamental yang kuat, efisiensi terjaga, serta strategi digital yang adaptif, Bank Mandiri optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan sepanjang 2026. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |