Jakarta (ANTARA) - Operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 3413901 di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur (Jaktim), Lukman Hakim (19), menduga pria yang mengamuk dan melakukan penganiayaan terhadap dirinya berada dalam pengaruh minuman keras (miras).
"Memang kalau kata orang-orang sekitar situ katanya habis itu (konsumsi minuman keras). Cuma tidak tahu juga habis hisap, minum apa tidaknya, tidak tahu," kata Lukman saat ditemui di SPBU Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin.
Menurut Lukman, kondisi pelaku yang diduga oknum aparat itu tampak tidak stabil saat kejadian. Kecurigaan itu muncul karena sikap pelaku dinilai emosional dan tidak wajar sejak awal interaksi.
Lulusan SMK yang baru enam bulan bekerja sebagai operator SPBU tersebut mengatakan, pelaku sudah menunjukkan emosi berlebihan bahkan sebelum situasi memanas.
"Dari awal sikapnya udah kelihatan, emosinya sudah tidak wajar. Badannya kayak lemas, buka pintu geser mobil aja nyangkut, ponselnya jatuh," ujar Lukman.
Meski demikian, ia mengaku tidak bisa memastikan apakah pelaku berada di bawah pengaruh minuman keras atau zat lainnya.
Informasi yang beredar di sekitar lokasi menyebutkan dugaan tersebut, namun korban sendiri tidak bisa membuktikannya secara langsung.
Baca juga: Operator SPBU akui terima ancaman pembunuhan oleh aparat di Jaktim
"Saya kaget karena pelaku emosi, terus menganiaya saya dan teman-teman saya, jadi tidak terlalu fokus ke aroma mulut pelaku," ucapnya.
Sebagai operator, Lukman menegaskan dirinya hanya menjalankan prosedur operasional standar (SOP) dan fokus pada pelayanan. Dia tidak memiliki kewenangan maupun kemampuan untuk memastikan kondisi pelanggan.
Tak hanya itu, seorang pria yang diduga oknum aparat juga menekan pegawai SPBU di kawasan Cipinang, dengan mengaku membawa mobil jenderal dan menyebut Kapolda
"Dia bilang, 'kamu tahu tidak ini barcode-nya Jenderal? Kamu tidak tahu ini barcode Jenderal?' Berkali-kali dia ngomong begitu," kata Lukman menirukan ucapan sang oknum.
Menurut dia, dugaan pria tersebut sebagai oknum aparat muncul dari pengakuannya sendiri yang terus menyebut jabatan tinggi kepolisian.
Ucapan tersebut dilontarkan saat terjadi perdebatan terkait ketidaksesuaian barcode pembelian BBM jenis Pertalite.
Lukman mengaku kaget sekaligus takut saat pelanggan tersebut berulang kali menyebut identitas pejabat tinggi kepolisian.
Baca juga: Tiga pegawai SPBU di Jakarta Timur diduga jadi korban aniaya aparat
Tak hanya menyebut "Jenderal", pria tersebut juga melontarkan kata "Kapolda" saat membentak petugas. Pernyataan itu membuat suasana di lokasi sempat memanas dan membuat petugas memilih bersikap hati-hati.
Adapun Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya mendatangi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 3413901 di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, terkait kasus penganiayaan tersebut.
Sebelumnya diberitakan, tiga pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 3413901 di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum aparat.
Total ada tiga korban dalam kejadian tersebut, yakni satu staf dan dua operator.
Mereka adalah Ahmad Khoirul Anam, yang telah bekerja sekitar lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim, operator yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin, operator dengan masa kerja sekitar empat tahun.
Khoirul Anam kena tamparan di pipi, Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut sampai giginya copot.
Baca juga: Penganiayaan di SPBU Jaktim, pelaku catut mobil milik jenderal
Baca juga: Ada oknum mengaku polisi, warga harus minta surat tugas
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































