Manchester City di Atas Angin, Newcastle Tantang Sejarah di Leg Kedua Semifinal EFL Cup

13 hours ago 10

Ringkasan Berita

  • Manchester City menjamu Newcastle United pada leg kedua semifinal EFL Cup di Etihad Stadium.
  • City unggul agregat 2-0 dan difavoritkan lolos ke final menghadapi Arsenal.
  • Newcastle harus mengejar defisit dua gol, misi yang jarang berhasil dalam sejarah EFL Cup.
  • Kondisi cedera dan inkonsistensi performa menjadi tantangan bagi kedua tim.

Manchester (pilar.id) – Manchester City berada di posisi menguntungkan saat menjamu Newcastle United pada leg kedua semifinal EFL Cup, Rabu malam waktu setempat. Kemenangan 2-0 di St James’ Park tiga pekan lalu menempatkan tim asuhan Pep Guardiola selangkah lebih dekat menuju final Piala Liga Inggris di Wembley, yang akan digelar pada 22 Maret mendatang.

Jika berhasil melaju, City akan mencatatkan final domestik ke-23 sepanjang era Guardiola. Rekam jejak mereka di ajang ini juga impresif: dari enam kesempatan sebelumnya ketika memenangkan leg pertama semifinal, hanya satu kali City gagal melangkah ke final.

Keunggulan Agregat vs Alarm Performa

Meski unggul agregat, performa Manchester City belakangan tidak sepenuhnya meyakinkan. Sejak kemenangan di leg pertama, City mencatatkan dua kemenangan, satu imbang, dan dua kekalahan di semua kompetisi. Hasil imbang 2-2 melawan Tottenham di Premier League menjadi sorotan, karena City gagal mempertahankan keunggulan dua gol—sesuatu yang terakhir kali terjadi pada 2018.

Tren tersebut menegaskan persoalan konsistensi babak kedua City pada 2026. Mereka tajam di awal laga, namun rentan setelah jeda, sebuah celah yang berpotensi dimanfaatkan Newcastle jika mampu bertahan di fase awal pertandingan.

Namun, Etihad Stadium tetap menjadi benteng kuat. City telah memenangkan 14 dari 18 laga kandang musim ini dan mendominasi Newcastle dalam 11 pertemuan kandang terakhir dengan agregat mencolok.

Newcastle di Persimpangan: Menyerang atau Gugur

Bagi Newcastle United, laga ini bukan sekadar pertandingan, melainkan ujian mental dan sejarah. Tim asuhan Eddie Howe harus membalikkan defisit dua gol—tantangan yang hanya pernah dilakukan satu tim sepanjang sejarah EFL Cup.

Kekalahan telat di leg pertama memutus laju 10 kemenangan beruntun Newcastle di ajang ini. Ditambah performa tandang yang belum stabil musim ini, posisi The Magpies semakin terjepit. Dari 16 laga tandang, Newcastle hanya mampu meraih tiga kemenangan di semua kompetisi.

Meski demikian, Newcastle punya modal psikologis. Mereka pernah dua kali menyingkirkan City di EFL Cup dan juga menaklukkan The Citizens di Premier League awal musim. Artinya, peluang—sekecil apa pun—masih ada.

Masalah Cedera Warnai Kedua Tim

Manchester City masih dibayangi krisis bek tengah. Ruben Dias telah kembali berlatih namun belum siap tampil, sementara beberapa nama lain seperti John Stones dan Josko Gvardiol masih absen. Situasi ini membuka peluang rotasi di lini belakang, dengan Nathan Ake atau Max Alleyne berpeluang tampil.

Di kubu Newcastle, absennya Bruno Guimaraes dan Lewis Miley mempersempit opsi di lini tengah. Howe diperkirakan mengandalkan Sandro Tonali sebagai poros utama, didukung tenaga muda dan mobilitas tinggi dari sektor sayap.

Pertarungan Risiko dan Realisme

Newcastle dipastikan harus mengambil risiko sejak awal untuk mengejar gol cepat—strategi yang berbahaya mengingat kecenderungan mereka kebobolan lebih dulu di Etihad. Di sisi lain, Manchester City memiliki kualitas dan pengalaman untuk mengelola tekanan serta memanfaatkan ruang yang ditinggalkan lawan.

Dengan keunggulan agregat, faktor kandang, dan kedalaman skuad, City tetap menjadi favorit kuat untuk melangkah ke final dan menghadapi Arsenal. Namun, dengan tekanan minim dan status underdog, Newcastle datang membawa satu harapan: menciptakan malam Eropa, di ajang domestik. (wid/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |