Mengenal Diabetes Melitus dan Potensi Tanaman Herbal Indonesia untuk Membantu Menurunkan Gula Darah

3 hours ago 4

Ringkasan Berita

  • Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang ditandai kadar gula darah tinggi akibat gangguan metabolisme dan hormon insulin.
  • Kadar gula darah normal saat puasa berkisar antara 70–120 mg/dl.
  • Diabetes terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu tipe I dan tipe II, dengan tipe II mencakup sekitar 80–90 persen kasus.
  • Gejala umum diabetes meliputi sering buang air kecil, mudah lapar, lemas, penurunan berat badan, hingga luka yang sulit sembuh.
  • Sejumlah tanaman herbal seperti buncis, jambu biji, kumis kucing, lidah buaya, pare, dan sambiloto memiliki potensi membantu menurunkan kadar gula darah.
  • Pemanfaatan herbal sebaiknya menjadi terapi pendamping dan tidak menggantikan pengobatan medis.

Jakarta (pilar.id) – Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah dalam tubuh atau kondisi yang dikenal sebagai hiperglikemia. Penyakit ini sering disebut masyarakat sebagai kencing manis karena tingginya kadar gula yang juga dapat ditemukan dalam urine penderita.

Dikutip dari laman official Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia, secara medis, diabetes berkaitan dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon, terutama insulin. Gangguan pada hormon ini menyebabkan gula darah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sel-sel tubuh.

Di Indonesia, diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular yang terus meningkat jumlah penderitanya. Selain terapi medis, sejumlah penelitian dan praktik pengobatan tradisional menunjukkan bahwa beberapa tanaman herbal juga berpotensi membantu mengendalikan kadar gula darah.

Kadar Gula Darah Normal dan Risiko Diabetes

Kadar gula darah umumnya diperiksa dalam kondisi puasa selama 8–10 jam. Dalam keadaan normal, kadar gula darah berkisar antara 70–120 mg/dl.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan angka lebih tinggi dari kisaran tersebut secara konsisten, seseorang berisiko mengalami diabetes melitus dan perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan.

Dua Jenis Utama Diabetes Melitus

Secara umum, diabetes melitus terbagi menjadi dua jenis utama:

1. Diabetes Tipe I

Diabetes tipe I dikenal sebagai Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Pada kondisi ini, tubuh mengalami gangguan produksi insulin sehingga kadar hormon tersebut sangat rendah atau bahkan tidak ada.

Insulin berperan penting membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi. Ketika insulin tidak mencukupi, gula darah tetap berada di dalam aliran darah sehingga kadarnya meningkat.

Akibat kondisi ini, penderita biasanya harus menjalani terapi insulin secara rutin di bawah pengawasan dokter.

2. Diabetes Tipe II

Jenis ini disebut Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) dan merupakan tipe yang paling banyak ditemukan.

Pada diabetes tipe II, tubuh sebenarnya masih memproduksi insulin, tetapi sel-sel tubuh mengalami resistensi sehingga tidak dapat memanfaatkan insulin secara efektif.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80–90 persen penderita diabetes termasuk tipe II, sementara tipe I hanya sekitar 10–20 persen.

Gejala Umum Diabetes yang Perlu Diwaspadai

Penderita diabetes sering mengalami beberapa gejala khas, antara lain:

  • Sering buang air kecil terutama pada malam hari (poliuria)
  • Mudah lapar (polifagia)
  • Rasa lemas dan mudah lelah
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
  • Gatal-gatal pada kulit
  • Kesemutan atau mati rasa
  • Luka yang sulit sembuh
  • Penglihatan kabur

Pada pria, diabetes juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual. Sementara pada wanita, sering muncul keluhan seperti infeksi saluran kemih, gatal pada area kewanitaan, dan keputihan.

Potensi Tanaman Herbal Indonesia untuk Membantu Mengontrol Gula Darah

Indonesia dikenal memiliki kekayaan tanaman obat yang sejak lama digunakan masyarakat sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Dalam beberapa tahun terakhir, tren “back to nature” atau kembali ke bahan alami turut mendorong pemanfaatan tanaman herbal sebagai pendamping terapi medis.

Beberapa tanaman diketahui memiliki senyawa yang berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah melalui berbagai mekanisme.

Tanaman yang Menghambat Penyerapan Glukosa

Sebagian tanaman memiliki sifat astringen, yaitu kemampuan mengendapkan protein pada dinding usus sehingga membentuk lapisan pelindung. Lapisan ini dapat memperlambat penyerapan glukosa ke dalam darah.

Beberapa tanaman yang termasuk kelompok ini antara lain:

  • Alpukat
  • Buncis
  • Jagung
  • Jambu biji
  • Lamtoro
  • Mahoni
  • Daun salam

Penelitian yang dilakukan Andayani dari Universitas Mataram pada tahun 2000 menunjukkan bahwa ekstrak buncis mampu menurunkan kadar glukosa darah hingga sekitar 30 persen pada kelinci diabetes yang diinduksi aloksan.

Selain itu, jambu biji juga dikenal kaya vitamin A dan C serta mengandung senyawa eugenol yang memberikan aroma khas. Daun dan buahnya sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan herbal untuk membantu mengontrol kadar gula darah.

Tanaman yang Membantu Pengeluaran Glukosa

Kelompok tanaman lainnya bekerja dengan meningkatkan sirkulasi darah serta mempercepat proses filtrasi ginjal sehingga pengeluaran glukosa melalui urine meningkat.

Tanaman yang sering digunakan antara lain:

  • Bawang putih
  • Daun sendok
  • Duwet atau jamblang
  • Keji beling
  • Kumis kucing
  • Labu parang

Kumis kucing misalnya dikenal memiliki efek diuretik yang membantu meningkatkan produksi urine. Tanaman ini juga mengandung flavonoid, saponin, dan minyak atsiri yang diyakini berperan dalam proses metabolisme tubuh.

Tanaman yang Mendorong Produksi Insulin

Beberapa tanaman herbal juga diduga mampu membantu proses metabolisme glukosa dengan merangsang aktivitas pankreas dalam menghasilkan insulin.

Tanaman yang banyak diteliti antara lain:

  • Lidah buaya
  • Brotowali
  • Pare
  • Sambiloto

Lidah buaya diketahui mengandung berbagai senyawa aktif seperti antrakinon, aloe emodin, saponin, serta berbagai vitamin dan mineral. Selain berfungsi sebagai antiinflamasi dan antibakteri, tanaman ini juga dilaporkan berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah.

Sementara itu, pare mengandung senyawa karantin dan momordisin yang sering dikaitkan dengan efek hipoglikemik.

Penelitian yang dilakukan Suryadhana dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menunjukkan bahwa ekstrak daun sambiloto mampu menghambat kenaikan kadar glukosa darah pada tikus percobaan.

Herbal Bukan Pengganti Terapi Medis

Meskipun berbagai tanaman herbal memiliki potensi manfaat, para ahli kesehatan menekankan bahwa penggunaannya tidak boleh menggantikan pengobatan medis utama.

Penderita diabetes tetap disarankan untuk:

  • menjalani pemeriksaan gula darah secara rutin,
  • menerapkan pola makan sehat,
  • menjaga berat badan ideal,
  • serta mengikuti terapi yang direkomendasikan tenaga medis.

Penggunaan tanaman herbal sebaiknya dilakukan sebagai terapi pendamping dan tetap dikonsultasikan dengan dokter. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |