Pesona Tiga Kembar Mentari School: dari Podium Debat Internasional hingga Panggung Model Dunia

1 day ago 17

loading...

Tiga kembar Eiffel Paris Leonardi, Celine Alexandria Leonardi dan Bianca Milan Leonardi usai opening talk di konferensi The Cornerstone pada Sabtu, (9/5/2026) Jakarta.

JAKARTA - Kehadiran Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah ke berbagai sendi kehidupan, bahkan mulai mengambil alih peran-peran yang selama ini dilakukan manusia. Fenomena "AI taking over society" ini memicu kekhawatiran akan tumpulnya kemandirian masyarakat jika tidak disikapi dengan bijak.

Dalam gelaran konferensi The Cornerstone pada Sabtu, (9/5/2026) di Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom isu ini menjadi diskusi hangat dan kritis dari lintas generasi, termasuk pelajar. Acara yang diinisiasi oleh EduALL berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar ini mempertemukan pelajar lintas daerah dengan para pakar dan tokoh profesional. Mengusung tema besar “AI & The Future We Are Building”, forum berlangsung hangat dan menjadi ruang dialog kritis lintas generasi.

Salah satunya adalah tiga anak kembar dari Sekolah Mentari Intercultural School Jakarta grade 9, yakni Eiffel Paris Leonardi, Bianca Milan Leonardi dan Celine Alexandria Leonardi. Eiffel dan Bianca turut menyuguhkan gagasan konstruktifnya melalui opening talk. Sementara Celine, turut aktif dalam penyelenggaraan acara akbar yang dihadiri ribuan peserta ini.

Eiffel melalui opening talk-nya dengan mengangkat topik Re-imagine education in the era of AI mengungkapkan bahwa meski AI menawarkan efisiensi tinggi, ada harga mahal yang harus dibayar jika teknologi ini digunakan tanpa porsi yang tepat. Menurutnya, penggunaan AI yang berlebihan dapat mengubah cara manusia berpikir, berbicara, hingga bersosialisasi.

“AI sangat mempengaruhi cara kita berpikir dan bersosialisasi. Jika kita tidak tahu cara belajar dan berinteraksi tanpa bantuan AI, kita akan terus bergantung dan tidak akan pernah menjadi masyarakat yang independen,” ujar Eiffel dalam sebuah sesi wawancara.

Sebagai seorang pelajar, Eiffel tidak menampik bahwa AI adalah peluang besar untuk berkembang. Namun, ia menyayangkan tren di kalangan generasi muda yang cenderung menggunakan AI secara instan dengan slogan "dikit-dikit AI" (DDA).

Ia menekankan bahwa banyak pelajar yang belum memahami cara menggunakan AI secara efisien. Bukannya menjadi alat bantu, AI justru sering dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa melewati proses berpikir yang mendalam.

“Dalam belajar harus ada struggle, usaha, dan kemandirian. Jangan mengikuti arus orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah dan instan. Kita butuh kerja keras untuk benar-benar memahami sesuatu,” tegasnya.

Eiffel menyoroti bahwa kepuasan mendapatkan jawaban dalam satu atau dua detik melalui AI justru menghambat proses pembelajaran yang sesungguhnya. Menurutnya, jika seseorang selalu mengambil cara instan, maka pada dasarnya ia tidak mempelajari apa pun.

“Kita jangan hanya mencari jawaban yang instan. Harus ada prosesnya, langkah-langkahnya, dan usaha. AI itu hadir untuk membantu, bukan untuk menyelesaikan seluruh persoalan kita,” tambahnya.

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |