Summary Point
- Semen Merah Putih menjadikan keberlanjutan sebagai inti strategi bisnis
- Efisiensi energi dan green cement menjadi respons atas tekanan oversupply industri
- Intensitas emisi karbon turun 21 persen sejak 2016
- Produk non-OPC mencapai 81 persen dari portofolio perusahaan
- Green cement mendorong pertumbuhan kinerja di tengah perlambatan pasar
Jakarta (pilar.id) – PT Cemindo Gemilang Tbk melalui merek Semen Merah Putih menegaskan bahwa keberlanjutan kini menjadi fondasi utama strategi bisnis perusahaan di tengah tekanan industri semen nasional. Kondisi pasar yang masih dibayangi utilisasi rendah, overcapacity, serta meningkatnya tuntutan regulasi lingkungan mendorong perusahaan mengambil pendekatan sistemik berbasis praktik berkelanjutan.
Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, Surindro Kalbu Adi mengatakan, sepanjang 2025, utilisasi industri semen nasional berada di kisaran 54 persen dengan kondisi kelebihan kapasitas lebih dari 56 juta ton. Di saat yang sama, permintaan domestik masih melambat. Volume penjualan semen nasional tercatat turun sekitar 1,5 persen sepanjang 2024–2025, dari 64,95 juta ton menjadi 63,85 juta ton, seiring melambatnya proyek infrastruktur dan konstruksi di berbagai wilayah.
Dalam situasi tersebut, Semen Merah Putih memilih memperkuat efisiensi energi, optimalisasi proses produksi dan logistik, serta pengembangan portofolio green cement sebagai langkah menjaga daya saing jangka panjang. Pendekatan keberlanjutan ditempatkan sebagai bagian integral dari cara industri beroperasi, bukan sekadar inisiatif tambahan.
Strategi ini terbukti menopang kinerja perusahaan. Di tengah perlambatan pasar nasional, Semen Merah Putih mencatatkan pertumbuhan sekitar 4,2 persen di wilayah pasar utama sepanjang 2025, menunjukkan ketahanan bisnis berbasis efisiensi dan inovasi produk.
Efisiensi Energi sebagai Fondasi Transformasi
Dari sisi operasional, Semen Merah Putih secara konsisten memperkuat efisiensi energi sebagai fondasi ketahanan industri. Perusahaan mengoperasikan Waste Heat Recovery System (WHRS) berkapasitas 2 x 15 MW di Indonesia serta 13 MW di Vietnam. Sistem ini menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan energi proses produksi klinker dan berkontribusi pada penurunan emisi hingga 100 ribu ton CO₂ per tahun.
Sejak 2016 hingga 2024, intensitas emisi karbon perusahaan berhasil ditekan sekitar 21 persen per ton semen. Penurunan ini dicapai melalui efisiensi energi, optimasi premix yang mengurangi konsumsi energi hingga 3 kWh per ton klinker, serta pemanfaatan bahan baku alternatif seperti fly ash lokal.
Upaya efisiensi juga merambah sektor logistik. Penggunaan 17 unit truk listrik di area tambang serta 23 forklift listrik membantu menurunkan emisi karbon sekitar 8.500 ton CO₂ per tahun, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Di luar aspek proses dan logistik, Semen Merah Putih juga mengembangkan inovasi penyerapan karbon berbasis mikroalga melalui program MPTree. Prototipe ini telah diuji coba di pabrik Jatiasih dan direncanakan untuk diperluas ke ruang publik serta area transportasi.
Green Cement Dorong Pertumbuhan Produk
Pendekatan keberlanjutan tersebut diterjemahkan langsung ke dalam strategi produk. Semen Merah Putih mendorong adopsi green cement melalui portofolio seperti FLEXIPLUS, ECOPRO, Semen Patriot, dan Watershield, yang dirancang memiliki jejak karbon lebih rendah tanpa mengorbankan performa konstruksi.
Saat ini, porsi produk non-Ordinary Portland Cement (non-OPC) mencapai 81 persen dari total portofolio perusahaan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri yang masih berada di kisaran 71 persen. Seluruh produk tersebut telah mengantongi sertifikasi Green Label Indonesia dari Green Building Council Indonesia (GBCI), dengan mayoritas meraih peringkat Platinum.
Produk hydraulic cement, termasuk FLEXIPLUS, mencatat lonjakan pertumbuhan hingga 636,5 persen pada 2025 dan ditargetkan tumbuh sekitar 20,7 persen pada 2026. Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap material konstruksi berkelanjutan yang efisien dan berkualitas.
Kolaborasi Industri dan Tantangan Pasar
Dari sisi kebijakan, pemerintah menilai tahun 2026 sebagai fase penting transformasi industri nasional menuju industri hijau yang berdaya saing. Industri bahan bangunan, khususnya semen, memiliki peran strategis karena berkaitan langsung dengan efisiensi sumber daya, kualitas konstruksi, dan dampak lingkungan jangka panjang.
Kolaborasi antara industri semen dan pemerintah juga dinilai krusial, terutama dalam menjawab tantangan sektor perumahan. Backlog perumahan di kawasan perkotaan masih menjadi persoalan nasional, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), di tengah laju urbanisasi yang tinggi.
Dalam konteks tersebut, penggunaan material konstruksi berkualitas dan berkelanjutan menjadi faktor penting untuk memastikan pembangunan perumahan yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga layak dan tahan lama.
Momentum 15 Tahun Cemindo Gemilang
Memasuki usia 15 tahun, Cemindo Gemilang turut memperkuat pilar keberlanjutan berbasis manusia (people). Upaya ini mencakup pengembangan Mandor Pintar Institute, kegiatan specifier roadshow, hingga program apresiasi bagi karyawan, distributor, retailer, serta komunitas konstruksi.
Pendekatan ini menegaskan bahwa transformasi industri tidak hanya bertumpu pada teknologi dan efisiensi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem dan kemitraan jangka panjang. Melalui praktik keberlanjutan yang konsisten, Semen Merah Putih berupaya memastikan bahwa inovasi industri sejalan dengan kebijakan pemerintah, menjaga kualitas konstruksi, sekaligus mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. (ret/hdl)

1 week ago
37

















































