AirNav dan Boeing Kaji Optimasi Pergerakan Pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali

1 day ago 10

Tangerang (pilar.id) – AirNav Indonesia dan The Boeing Company menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk melakukan studi optimasi operasional pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Kajian tersebut diarahkan untuk mencari peluang mengurangi kepadatan pergerakan pesawat di darat sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan landas pacu.

Penandatanganan LoI dilakukan Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno dan Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde di Hotel Sheraton Jakarta Soekarno-Hatta Airport, Tangerang, Selasa (15/9/2026).

Kesepakatan ini menjadi langkah lanjutan dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani AirNav Indonesia dan Boeing pada 2023. Kerja sama sebelumnya mencakup bidang manajemen ruang udara, pelatihan, serta perencanaan strategis manajemen lalu lintas udara.

Melalui studi terbaru tersebut, AirNav Indonesia dan Boeing akan memetakan kondisi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini dan menguji sejumlah alternatif peningkatan operasi menggunakan pemodelan Total Airspace and Airport Modeller (TAAM).

Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno mengatakan kajian tidak hanya akan melihat kondisi operasional yang berjalan, tetapi juga mengevaluasi sejumlah opsi yang berpotensi membuat pergerakan pesawat lebih efisien. Setiap alternatif akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sebelum menjadi bahan rekomendasi.

Tahap awal studi dilakukan dengan membangun baseline model TAAM yang merepresentasikan kondisi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai. Model tersebut menggunakan jadwal penerbangan selama 24 jam yang dianggap mewakili kondisi operasional normal bandara.

Pemodelan mencakup dua konfigurasi berdasarkan arah aliran pergerakan pesawat, yakni east flow dan west flow. Dari proses tersebut akan dihasilkan data statistik operasional serta visualisasi empat dimensi atau 4D yang menggambarkan pergerakan dalam simulasi.

Untuk memastikan model sesuai dengan kondisi nyata, AirNav Indonesia dan Boeing juga akan melakukan observasi langsung di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Kegiatan tersebut melibatkan Subject Matter Experts (SME) dari sejumlah unsur yang terkait dengan operasi penerbangan.

Observasi dapat mencakup menara pengendalian lalu lintas udara atau ATC, fasilitas radar terminal, pusat operasi ground handling, pusat operasi maskapai, unit perencanaan dan pembangunan bandara, hingga area sisi udara atau airside.

Data hasil observasi dan informasi operasional AirNav Indonesia selanjutnya akan digunakan untuk memvalidasi baseline model. Setelah model dinyatakan merepresentasikan kondisi operasi yang ada, kedua pihak akan menyusun sejumlah alternatif untuk meningkatkan efisiensi pergerakan pesawat.

Alternatif yang dikaji antara lain berkaitan dengan tata letak, prosedur pergerakan pesawat di darat, penggunaan taxiway, area parkir pesawat, pengurutan pergerakan, serta pola koordinasi antarunsur terkait.

Boeing diperkirakan akan memodelkan hingga tiga skenario untuk menguji kinerja masing-masing alternatif melalui simulasi TAAM. Pengujian tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai dampak setiap opsi terhadap operasional sebelum menjadi bahan pertimbangan penerapan.

Studi juga tidak hanya menggunakan jadwal penerbangan yang merepresentasikan kondisi saat ini. Sedikitnya dua jadwal tambahan akan digunakan untuk menggambarkan proyeksi pertumbuhan trafik penerbangan.

Setiap skenario akan diuji menggunakan dua arah aliran pergerakan pesawat, yaitu east flow dan west flow, dengan asumsi operasional yang disepakati kedua pihak. Hasil pemodelan dan simulasi kemudian akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi peningkatan operasi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Menurut Avirianto, pendekatan berbasis pemodelan tersebut memungkinkan setiap alternatif dianalisis terlebih dahulu sebelum dipertimbangkan dalam penerapan operasional. Dengan demikian, rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya mengacu pada kondisi eksisting, tetapi juga mempertimbangkan berbagai kemungkinan skenario operasional.

Sementara itu, Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde mengatakan kolaborasi tersebut menggabungkan pengalaman operasional AirNav Indonesia dengan keahlian Boeing dalam bidang kinerja pesawat dan manajemen lalu lintas udara.

Boeing melihat kajian tersebut sebagai upaya untuk mengembangkan pendekatan berbasis data yang dapat mendukung kelancaran arus lalu lintas penerbangan, meningkatkan pemanfaatan landasan pacu, serta mendukung aspek keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan penerbangan di Bali.

Indra juga menegaskan komitmen Boeing terhadap kemitraan dengan AirNav Indonesia dan industri penerbangan sipil nasional. Menurut dia, Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar penerbangan terbesar di Asia.

Kesepakatan antara AirNav Indonesia dan Boeing ini menempatkan Bandara I Gusti Ngurah Rai sebagai objek kajian untuk menguji berbagai kemungkinan peningkatan efisiensi operasional. Pendekatan melalui pemodelan TAAM memungkinkan kondisi eksisting dan sejumlah proyeksi trafik dibandingkan melalui simulasi sebelum rekomendasi disusun.

Dengan melibatkan unsur pengendalian lalu lintas udara, bandara, maskapai, ground handling, serta perencana dan pengembang bandara, studi tersebut diharapkan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai pergerakan pesawat di sisi udara maupun proses pendukungnya.

Hasil akhir studi akan menjadi bahan rekomendasi bagi peningkatan operasi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, khususnya dalam menghadapi kebutuhan trafik penerbangan yang berkembang di masa mendatang. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |