Bitcoin Masih di Bawah 80 Ribu USD, Pasar Kripto Menanti Keputusan The Fed dan Regulasi AS

7 hours ago 11

Jakarta (pilar.id) – Harga Bitcoin (BTC) masih bergerak di bawah level psikologis US$80.000 pada Selasa, 15 September 2026. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu berada di kisaran US$77.533,50, dengan perubahan sekitar 0,21 persen dalam 24 jam terakhir.

Pergerakan Bitcoin berlangsung relatif terbatas setelah sebelumnya kembali menyentuh area US$78.000. Pada perdagangan hari ini, BTC sempat melemah hingga sekitar US$76.439 sebelum kembali bergerak di atas US$78.000.

Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih cenderung menahan diri di tengah penantian terhadap sejumlah katalis penting, terutama keputusan kebijakan moneter bank sentral utama dan perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat.

Salah satu agenda yang paling menjadi perhatian adalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September. Investor akan mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), proyeksi ekonomi terbaru, serta sinyal mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed disebut mengalami perubahan. Berdasarkan materi pasar yang menjadi acuan, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September telah meningkat hingga sekitar 87 persen.

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi faktor penting bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memperketat kondisi likuiditas sekaligus meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Situasi itu dapat membatasi ruang penguatan aset kripto dalam jangka pendek.

Namun, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga. Pernyataan pejabat The Fed, proyeksi suku bunga melalui dot plot, serta pandangan bank sentral terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja juga berpotensi menentukan arah Bitcoin setelah rapat FOMC.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pasar kripto saat ini berada dalam kondisi yang sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi makro. Menurut dia, pergerakan Bitcoin yang masih bertahan di sekitar US$77.500 mencerminkan sikap investor yang menunggu kepastian dari sejumlah katalis utama.

Yudhono mengatakan keputusan The Fed dan arah kebijakan moneter berikutnya akan menjadi faktor penting yang menentukan respons pasar. Karena itu, pergerakan harga harian dinilai belum cukup untuk menggambarkan arah Bitcoin secara keseluruhan.

Dari sisi teknikal, level US$80.000 masih menjadi salah satu batas penting yang diperhatikan pelaku pasar. Bitcoin sebelumnya sempat bergerak hingga sekitar US$78.276, tetapi belum mampu menembus area resistance tersebut secara meyakinkan.

Zona US$80.000–US$83.000 menjadi area resistance yang perlu diperhatikan. Jika BTC mampu menembus sekaligus mempertahankan harga di atas zona tersebut, peluang penguatan sentimen bullish dapat kembali terbuka.

Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat dan Bitcoin kembali kehilangan area US$76.000–US$77.000, aset kripto tersebut berpotensi memasuki fase konsolidasi yang lebih dalam.

Dalam kondisi pasar yang sarat katalis, Yudhono menekankan pentingnya disiplin dalam mengambil keputusan investasi. Investor perlu menentukan batas risiko dan memahami faktor fundamental yang dapat memengaruhi harga, bukan semata-mata mengikuti volatilitas jangka pendek.

Perhatian pasar global pada pekan ini juga tidak hanya tertuju pada Amerika Serikat. Bank of England (BOE) dijadwalkan mengambil keputusan kebijakan pada 17 September, sedangkan Bank of Japan (BOJ) akan menggelar pertemuan pada 17–18 September.

BOE disebut mempertahankan suku bunga acuannya pada level 3,75 persen. Sementara itu, BOJ menargetkan suku bunga overnight call rate sekitar 1 persen setelah kenaikan pada Juni.

Rangkaian agenda tersebut membuat pekan ini menjadi periode penting bagi pasar aset berisiko. Perubahan ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang dapat memengaruhi arus likuiditas global sekaligus sentimen investor terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Selain kebijakan moneter, perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Senat AS dijadwalkan melakukan pemungutan suara prosedural terhadap Digital Asset Market Clarity Act atau CLARITY Act pada 15 September.

Materi final CLARITY Act mencakup sejumlah ketentuan mengenai regulasi aset digital, stablecoin rewards, decentralized finance (DeFi), regulasi komoditas, serta ketentuan mengenai etika pemerintahan.

Perkembangan legislasi tersebut menjadi salah satu katalis yang dapat memengaruhi sentimen industri kripto, khususnya karena arah regulasi Amerika Serikat berpotensi memberikan dampak terhadap kepastian hukum dan perkembangan ekosistem aset digital.

Dengan kombinasi agenda bank sentral dan perkembangan regulasi tersebut, Bitcoin diperkirakan masih menghadapi potensi volatilitas hingga sejumlah keputusan utama pekan ini mulai terungkap.

Yudhono menilai investor perlu melihat pergerakan pasar secara lebih menyeluruh dengan memahami alasan di balik perubahan harga dan dampak setiap keputusan ekonomi global. Pendekatan tersebut dinilai lebih penting dibandingkan sekadar mengejar momentum ketika volatilitas meningkat.

Bagi pasar kripto, hasil rapat The Fed, perkembangan kebijakan BOE dan BOJ, serta proses legislasi CLARITY Act akan menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan sentimen Bitcoin dalam beberapa hari ke depan. Untuk sementara, BTC masih harus menghadapi tantangan untuk kembali menembus dan bertahan di atas US$80.000. (hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |