Harlah ke-80 Muslimat NU di Kalbar, Khofifah Gaungkan Perdamaian dan Persaudaraan Dunia

3 hours ago 6

Pontianak (pilar.id) – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali menyerukan pentingnya perdamaian dunia dan persaudaraan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Kalimantan Barat.

Khofifah menghadiri langsung peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU Pengurus Wilayah Kalimantan Barat yang digelar di Asrama Haji Kota Pontianak, Selasa (11/8/2026). Ribuan anggota Muslimat NU dari berbagai daerah di Kalimantan Barat turut mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan itu, pesan perdamaian kembali menjadi salah satu agenda utama. Seruan untuk menghentikan peperangan disampaikan sebagai bagian dari pesan yang digaungkan Muslimat NU dalam peringatan Harlah di berbagai daerah.

Khofifah mengatakan seruan tersebut merupakan bentuk kepedulian Muslimat NU terhadap persoalan kemanusiaan sekaligus upaya memperkuat pesan perdamaian di tengah situasi global yang masih menghadapi berbagai konflik.

Menurut Khofifah, pesan tersebut sejalan dengan tema Harlah ke-80 Muslimat NU, yakni “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Meneduhkan Peradaban.”

Ia menjelaskan, konsep “meneduhkan peradaban” dapat dimaknai sebagai upaya menciptakan kehidupan sosial yang sejuk, kondusif, toleran, bijaksana dan jauh dari sikap ekstrem. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi kekerasan dan peperangan.

Muslimat NU Dorong Pesan Damai Sampai PBB

Khofifah menilai perdamaian dunia tidak cukup hanya dibicarakan pada level internasional. Upaya menciptakan perdamaian juga harus dibangun dari lingkungan masyarakat melalui dialog, toleransi, keadilan, persatuan dan penguatan kemandirian.

Ia mengibaratkan peradaban yang teduh sebagai ruang sosial yang memungkinkan konflik diredam sebelum berkembang menjadi pertikaian yang lebih besar. Karena itu, membangun persaudaraan dan menghindari perpecahan menjadi bagian penting dari upaya menjaga perdamaian.

Seruan penghentian peperangan yang disampaikan Muslimat NU juga diupayakan untuk dapat diteruskan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Khofifah menyebut koordinasi telah dilakukan melalui Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi dengan Menteri Luar Negeri untuk membuka peluang penyampaian pesan tersebut secara langsung kepada PBB.

Bagi Khofifah, seruan damai yang disampaikan dalam setiap peringatan Harlah Muslimat NU merupakan suara bersama para anggota organisasi perempuan tersebut di berbagai daerah.

Upaya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perhatian Muslimat NU tidak terbatas pada persoalan keluarga dan kehidupan keumatan. Organisasi tersebut juga membawa kepedulian terhadap isu kemanusiaan dan masa depan peradaban.

Khofifah mengajak kader dan anggota Muslimat NU untuk terus memperluas praktik hidup damai di lingkungan masing-masing. Menurut dia, pesan perdamaian perlu diterjemahkan menjadi kerja nyata agar dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Perdamaian Dimulai dari Akar Rumput

Khofifah menekankan bahwa upaya meneduhkan peradaban juga dibangun melalui aktivitas Muslimat NU di tingkat akar rumput. Pendidikan, penguatan UMKM, dakwah, istighosah dan salawat disebut sebagai bagian dari kerja sosial yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat.

Penguatan keluarga dan kemandirian ekonomi juga dinilai penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih stabil. Ketika keluarga dan komunitas memiliki fondasi sosial serta ekonomi yang kuat, potensi munculnya konflik di tengah masyarakat dapat ditekan.

Dengan pendekatan tersebut, seruan perdamaian tidak berhenti sebagai pesan simbolis kepada masyarakat internasional. Pesan itu sekaligus diwujudkan melalui aktivitas sosial dan keagamaan yang berlangsung sehari-hari.

Dalam peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Pontianak, Khofifah juga mengajak ribuan peserta melantunkan salawat bersama. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengibaran Bendera Merah Putih serta menyanyikan lagu Hari Merdeka dan Garuda Pancasila.

Peringatan Harlah ke-80 tersebut menjadi momentum bagi Muslimat NU untuk memperkuat kembali semangat persaudaraan, kemandirian dan perdamaian. Khofifah berharap organisasi tersebut dapat terus memperluas pesan tersebut, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Bagi Muslimat NU, gagasan “meneduhkan peradaban” menjadi salah satu cara menerjemahkan kerja organisasi dari tingkat keluarga dan masyarakat hingga kontribusi terhadap isu perdamaian dunia. Dari basis akar rumput tersebut, pesan persaudaraan diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas untuk mendorong kehidupan yang damai dan inklusif. (usm)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |