Jakarta (pilar.id) – Upaya mendorong transformasi industri fesyen berkelanjutan di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Hal ini terlihat dalam penyelenggaraan Dressponsible Vol.2 yang digelar di Auditorium Museum Bank Indonesia, Sabtu (18/4), hasil inisiatif mahasiswa London School of Public Relations bersama Kementerian Ekonomi Kreatif.
Program ini menjadi ruang kampanye edukatif yang menyoroti dampak fast fashion sekaligus mengajak masyarakat beralih ke pola konsumsi fesyen yang lebih bertanggung jawab. Mengusung pesan “Dress Smart, Stay Responsible”, kegiatan ini melibatkan sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga kreator konten.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas dalam mempercepat terbentuknya ekosistem fesyen yang berkelanjutan. Menurutnya, penguatan literasi publik dan ruang kolaborasi menjadi fondasi utama dalam membangun kesadaran kolektif.
Inisiatif ini dinilai sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mendorong praktik ekonomi sirkular seperti reduce, reuse, recycle, dan upcycle. Pemerintah melihat tren sustainable fashion di Indonesia mulai berkembang, meski masih menghadapi tantangan dalam hal biaya produksi dan adopsi pasar.
Plt Direktur Fesyen Kementerian Ekraf, Romi Astuti, menilai peran generasi muda sangat strategis dalam memperluas dampak kampanye ini. Ia menyebut keterlibatan mahasiswa sebagai motor penggerak penting dalam memperkuat narasi fesyen berkelanjutan melalui media sosial maupun karya akademik.
Dukungan juga datang dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta yang melihat subsektor fesyen sebagai salah satu penggerak utama ekonomi kreatif daerah. Kepala Pusat Pelatihan Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Endrati Fariani, menilai pertumbuhan ekonomi kreatif yang melampaui pertumbuhan PDRB menunjukkan potensi besar subsektor ini untuk terus dikembangkan.
Sementara itu, Kepala Museum Bank Indonesia, Rio Wardhanu, menegaskan peran museum sebagai ruang publik yang terbuka untuk kegiatan edukatif dan kolaboratif. Ia menyebut museum memiliki fungsi strategis sebagai wadah dialog dan pertukaran gagasan, terutama untuk isu-isu relevan seperti keberlanjutan.
Dressponsible Vol.2 mengusung pendekatan kampanye kreatif melalui peluncuran iklan layanan masyarakat bertajuk “Dibalik Tren” yang mengangkat dampak lingkungan dari industri fesyen. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan trunk show yang menampilkan karya jenama lokal seperti Arjun Putra, Allemonq, Adrie Basuki, dan Limittes, yang mengusung konsep fesyen berkelanjutan secara aplikatif.
Dari sisi akademik, Sekretaris Program Studi Komunikasi LSPR, Melvin Bonardo Simanjuntak, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai bentuk tugas akhir mahasiswa yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung pada masyarakat.
Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis kreativitas, Dressponsible Vol.2 menunjukkan bahwa masa depan ekonomi kreatif tidak hanya ditentukan oleh inovasi, tetapi juga oleh kesadaran akan keberlanjutan. Gerakan ini sekaligus menegaskan bahwa subsektor fesyen berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. (usm)

13 hours ago
8
















































