Polisi beri pendampingan bagi siswa korban pelecehan psikis di Jaktim

13 hours ago 8

Jakarta (ANTARA) - Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur memberikan pendampingan bagi seorang siswa berinisial N yang menjadi korban pelecehan psikis di kawasan Pasar Rebo.

"Anak korban sudah kami terbitkan laporan polisi, kemudian kami rujuk ke lembaga terkait dan memberikan pendampingan layanan psikologi serta pemulihan," kata Wakasat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur, Kompol Sri Yatmini.

Sri di Polres Metro Jakarta Timur, Selasa, menyebutkan, pihaknya telah mengambil sejumlah langkah untuk melindungi dan memulihkan kondisi korban.

Korban juga telah dirujuk ke psikolog dan layanan penelitian sosial di Sentra Handayani yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial.

Selain pendampingan, polisi juga akan melakukan pemanggilan terhadap sejumlah saksi, termasuk anak-anak yang memberikan informasi terkait peristiwa tersebut.

Baca juga: Kepolisian usut dugaan pelecehan siswi di Jaktim

Pihaknya akan melakukan pemanggilan terhadap saksi-saksi dan pihak yang memberikan informasi kepada korban. "Kami juga akan mengecek telepon seluler untuk melihat rekaman maupun jejak digital," katanya.

Dalam proses penyelidikan, Sri menegaskan, pihak Kepolisian mengedepankan kepentingan terbaik bagi korban.

"Dalam proses ini, kami tetap mengedepankan kepentingan terbaik buat anak korban, terutama dari sisi psikisnya, apakah anak nyaman atau tidak saat dimintai keterangan," katanya.

Selain itu, Sri menambahkan, perlindungan terhadap anak merupakan kewajiban yang diatur dalam undang-undang. Karena itu, pihaknya mengapresiasi keberanian korban yang berani melaporkan kasus tersebut.

"Kami mengapresiasi anak korban yang berani 'speak up' dan melaporkan kejadian ini untuk memutus mata rantai 'bullying' di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru maupun teman-temannya. Ini harus dihentikan dan tidak boleh terjadi lagi," katanya.

Baca juga: Lebih dari dua siswi diduga jadi korban pelecehan guru di Pasar Rebo

Sri memastikan Kepolisian akan berpihak kepada korban dalam penanganan kasus ini. "Kami pastikan kami ada di pihak korban," katanya.

Sri juga menceritakan saat pertama kali melakukan konseling dengan korban yang datang bersama ibunya. Saat itu, korban diminta masuk ke ruang konseling sendiri agar bisa lebih terbuka.

"Saya terima anak korban, ibunya saya minta keluar. Saya peluk yang bersangkutan, lalu dia bercerita secara runtut sambil menangis. Dia merasa malu karena adanya grup tersebut," ungkap Sri.

Dalam kesempatan itu, pihak Kepolisian memberikan penguatan mental kepada korban. "Saya berikan edukasi dan penguatan bahwa dia sudah datang ke tempat yang tepat dan akan mendapatkan perlindungan dari kami," kata Sri.

Hingga saat ini, polisi masih terus melakukan pendalaman dan mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak guna mengungkap secara utuh dugaan pelecehan psikis tersebut.

Baca juga: Pemkot Jaktim dalami dugaan "bullying" dan pelecehan di sekolah

Sebelumnya, kuasa hukum salah satu korban berinisial N, yakni Wanda Al-Fathi Akbar mengungkapkan, kasus dugaan pelecehan yang melibatkan oknum guru di salah satu SMA di kawasan Pasar Rebo, tidak hanya menimpa dua orang siswi.

"Yang kita dapat ada beberapa korban. Memang mungkin selama ini mereka enggak berani 'speak up'. Estimasi mungkin lebih dari dua orang," kata Wanda di Jakarta, Selasa.

Wanda menyebutkan, selama ini banyak korban yang memilih diam dan belum berani mengungkapkan pengalaman tak menyenangkan yang mereka alami.

Setelah salah satu korban berani melapor, korban-korban lain mulai bermunculan. Kasus dugaan pelecehan tersebut diduga telah berlangsung cukup lama dan selama ini tidak terungkap ke publik.

Baca juga: Anak influencer diduga korban bullying dan pelecehan alami trauma

Selain melapor ke Kepolisian, pihak kuasa hukum juga telah mendatangi pihak sekolah untuk mengonfirmasi status terduga pelaku yang merupakan guru di sekolah tersebut.

Menurut Wanda, pihaknya meminta agar sekolah tidak lepas tangan dan turut mengawal proses hukum yang berjalan.

Tak hanya itu, sejumlah siswa di sekolah tersebut menggelar aksi demonstrasi pada Senin (9/2) sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap siswinya.

Para siswa membawa poster dan menyampaikan orasi yang menuntut keadilan dan transparansi penanganan kasus tersebut. Mereka mendesak pihak sekolah dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan pelecehan yang terjadi.

Dalam aksi tersebut, mereka menyebutkan, dugaan pelecehan telah berlangsung sejak lama. Hal ini diperkuat oleh sejumlah alumni yang mulai berani menyuarakan pengalaman serupa.

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |