Mataram (beritajatim.id) – Posisi Indonesia sebagai salah satu poros utama ekonomi dan keuangan syariah global kian kokoh di tingkat internasional. Berdasarkan laporan terbaru State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia sukses mengamankan peringkat keempat dunia. Tidak hanya itu, komoditas modest fashion tanah air berhasil menduduki peringkat pertama, disusul sektor pariwisata ramah muslim di peringkat kedua, dan sektor makanan halal di peringkat ketiga dunia.
Potensi besar ini didorong oleh konsep ekonomi syariah nasional yang dinilai inklusif, berkelanjutan, berkeadilan, dan memiliki stabilitas yang kuat. Menangkap peluang tersebut, Bank Indonesia (BI) resmi membuka gelaran tahunan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2026 di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat (10/7).
Peresmian agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, Sekretaris Daerah Provinsi NTB Abul Chair, jajaran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB, serta tokoh agama, adat, dan para pelaku usaha syariah lintas sektor wilayah timur.
Lompatan Kinerja Sektor Riil dan Keuangan Syariah Nasional
Dalam upacara pembukaan tersebut, perwakilan Bank Indonesia Destry Damayanti memaparkan tren positif performa ekonomi syariah domestik yang tumbuh signifikan sebesar 6,21 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada akhir 2025. Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh akselerasi pada sektor Halal Value Chain (HVC).
Sektor intermediasi keuangan syariah juga mencatatkan performa yang tidak kalah solid. Hingga data Mei 2026, pembiayaan perbankan syariah melonjak 10,42 persen (yoy) dengan total penyaluran mencapai Rp709 triliun. Selaras dengan itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meroket 11,75 persen (yoy) ke angka Rp792 triliun. Indikator positif ini juga diikuti oleh peningkatan indeks literasi masyarakat yang kini menyentuh level 50,18 persen.
Melalui perhelatan FESyar KTI 2026 yang mengusung tema akselerasi pertumbuhan regional berkelanjutan dan transformasi digital, Bank Indonesia membidik hasil konkret yang berdampak langsung pada masyarakat. Otoritas moneter ini menargetkan penyaluran pembiayaan syariah baru sebesar Rp11 miliar, serta pencapaian omzet bagi pelaku UMKM syariah hingga Rp1,5 miliar selama acara berlangsung. Sektor edukasi pun mencatat animo tinggi dengan hadirnya 3.223 pendaftar dalam Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional (OESN), melampaui target awal institusi.
Empat Pilar Unggulan Dorong Transformasi Digital Halal
Agenda FESyar KTI merupakan bagian dari rangkaian pilar menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Untuk wilayah timur Indonesia, struktur program difokuskan pada empat arsitektur utama, yakni AKBAR (Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan), AMANAH (Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal), BARAKAH (Bina Rantai Komoditas Halal untuk Ekspor), dan MAHAR (Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf).
Langkah integrasi program ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mewakili pemerintah daerah, Sekretaris Daerah NTB Abul Chair menegaskan bahwa keempat pilar yang digagas Bank Indonesia tersebut merupakan fondasi fundamental untuk melahirkan iklim ekonomi syariah yang produktif dan berdaya saing tinggi.
Pihak pemerintah daerah optimistis kolaborasi ini mampu membuka interkoneksi pasar baru, memperluas penetrasi investasi, dan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital. Keberadaan ekosistem digital diproyeksikan dapat memperluas jangkauan pasar lokal ke kancah global sekaligus meningkatkan standarisasi produk halal dalam negeri.
Sinergi Lintas Sektor Menuju Pusat Peradaban Syariah Global
Penyelenggaraan FESyar KTI 2026 menjadi representasi nyata dari kuatnya komitmen kemitraan antara regulator dan pemangku kepentingan (stakeholders). Keberhasilan perumusan program ini merupakan buah sinergi erat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Agama, kementerian terkait, hingga Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) beserta kalangan akademisi.
Ke depan, Bank Indonesia bersama seluruh mitra strategis berkomitmen untuk mempererat konsolidasi lintas sektor. Kebijakan ini akan difokuskan pada penguatan mata rantai industri halal secara hulu ke hilir, pengembangan sistem keuangan sosial digital yang adaptif, serta perluasan inklusi keuangan.
Rangkaian langkah terstruktur dan integratif ini diharapkan menjadi katalisator utama yang mempercepat realisasi visi jangka panjang Indonesia untuk bertransformasi menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah terkemuka di dunia. (hdl)

5 hours ago
3





























