Bitcoin Tertekan Jelang CPI AS, Level US$78.000 Jadi Penentu Arah BTC Berikutnya

2 days ago 26

Jakarta (pilar.id) – Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah US$79.000 pada Selasa, 8 September 2026, setelah upaya menembus US$80.500 tidak mampu dipertahankan. Tekanan jual meningkat menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), tetapi struktur pasar Bitcoin sejauh ini masih menunjukkan fase konsolidasi.

Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$78.700-US$78.800, melemah lebih dari 1 persen dalam 24 jam. Sebelumnya, aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut sempat bergerak di atas US$80.000 sebelum kembali menghadapi tekanan.

CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pelemahan Bitcoin saat ini lebih berkaitan dengan penyesuaian ekspektasi investor terhadap kondisi makroekonomi global daripada perubahan fundamental aset tersebut.

Menurut Yudhono, reli sebelumnya membuat pasar perlu mencari keseimbangan baru. Perkembangan data ekonomi AS kemudian membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga aset berisiko seperti Bitcoin ikut tertekan.

Tekanan terhadap Bitcoin semakin terlihat setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan ekonomi masih relatif kuat. Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan nonfarm payrolls bertambah 162.000 pada Agustus 2026, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1 persen. Data tersebut dirilis pada 4 September 2026.

Kondisi pasar tenaga kerja tersebut membuat investor kembali mencermati kemungkinan Federal Reserve atau The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama. Ekspektasi suku bunga menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan Bitcoin setelah BTC sempat bergerak di atas US$82.000 pada awal September.

Tekanan harga juga diperkuat oleh aksi likuidasi di pasar derivatif. Sekitar US$208 juta posisi kripto dilaporkan terlikuidasi, dengan posisi long mencapai US$119 juta. Khusus Bitcoin, sekitar US$55 juta posisi leverage terhapus, termasuk sekitar US$35 juta posisi long.

Yudhono menjelaskan, tingginya penggunaan leverage dapat memperbesar dampak perubahan sentimen terhadap pergerakan harga. Proses deleveraging tersebut memang dapat menimbulkan tekanan dalam jangka pendek, tetapi sekaligus membantu mengurangi posisi spekulatif yang berlebihan di pasar.

Di tengah tekanan tersebut, area US$78.000 menjadi perhatian utama pelaku pasar Bitcoin. Level tersebut dipandang sebagai support terdekat yang perlu dipertahankan agar peluang pemulihan menuju US$80.500 dan US$82.000 tetap terbuka.

Sebaliknya, apabila Bitcoin menembus dan bertahan di bawah US$78.000, tekanan jual berpotensi membawa harga menuju support berikutnya di sekitar US$77.200. Sebelumnya, BTC bergerak dalam rentang yang lebih luas antara sekitar US$77.200 hingga US$82.100.

Yudhono menilai pergerakan sideways dalam beberapa hari ke depan tidak selalu menunjukkan pelemahan fundamental. Fase konsolidasi justru dapat menjadi periode ketika pasar mengumpulkan momentum sebelum menentukan arah berikutnya.

Untuk mendapatkan konfirmasi bullish yang lebih kuat, Bitcoin perlu menembus US$82.000 dengan dukungan volume perdagangan dan permintaan spot yang solid. Selama support US$78.000 mampu dipertahankan, peluang pengujian ulang terhadap US$80.500 hingga US$82.000 masih terbuka.

Di tengah koreksi harga, indikator dari pasar institusional justru menunjukkan kondisi yang relatif positif. ETF Bitcoin berbasis spot di AS mencatat net inflow sekitar US$986,9 juta sepanjang pekan yang berakhir pada 4 September 2026.

Arus dana tersebut memperpanjang tren inflow ETF Bitcoin menjadi tiga pekan berturut-turut. BlackRock IBIT menjadi penyumbang terbesar dengan sekitar US$691,5 juta, atau sekitar 70 persen dari total arus dana mingguan.

Dalam tiga pekan terakhir, total dana yang masuk ke produk ETF Bitcoin mencapai sekitar US$3,8 miliar. Arus modal tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menopang harga BTC di sekitar US$79.000 ketika pasar masih menghadapi tekanan dari kenaikan yield obligasi dan perubahan ekspektasi suku bunga.

Menurut Yudhono, keberlanjutan arus dana ETF akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah investor institusional mulai memasuki fase akumulasi jangka menengah.

Kondisi ketika harga Bitcoin terkoreksi tetapi arus dana institusional tetap positif dinilai dapat memberikan sinyal bahwa sebagian investor tidak sekadar mengejar momentum harga. Jika pola tersebut berlanjut ketika Bitcoin bergerak sideways, permintaan institusional berpotensi menjadi salah satu penyangga harga.

Perhatian pasar selanjutnya beralih ke sejumlah agenda ekonomi AS. Producer Price Index (PPI) Agustus dijadwalkan menjadi salah satu data penting pada 10 September, disusul Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September 2026.

CPI menjadi perhatian khusus karena data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting sebelum rapat kebijakan The Fed pada 15-16 September 2026. Pertemuan tersebut juga akan disertai pembaruan proyeksi ekonomi bank sentral AS.

Pada Juli 2026, CPI AS tercatat tumbuh 3,4 persen secara tahunan. Investor akan mencermati apakah inflasi Agustus menunjukkan perlambatan atau justru kembali memberikan tekanan terhadap ekspektasi kebijakan moneter.

Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi kembali memperhitungkan suku bunga yang lebih tinggi atau bertahan lebih lama. Skenario tersebut dapat mendorong kenaikan yield Treasury dan dolar AS, yang pada akhirnya berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat meningkatkan kembali risk appetite investor. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi Bitcoin untuk keluar dari fase konsolidasi.

Yudhono menyebut CPI sebagai salah satu katalis terpenting bagi pasar Bitcoin pada pekan ini. Respons pasar terhadap angka inflasi akan menjadi petunjuk mengenai arah ekspektasi suku bunga menjelang keputusan The Fed.

Selain CPI, pasar juga mencermati perkembangan di pasar obligasi AS. Departemen Keuangan AS dijadwalkan meningkatkan ukuran operasi liquidity-support buyback untuk surat utang jangka panjang mulai 9 September 2026.

Nilai maksimum operasi tersebut akan dinaikkan dari US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi dan dijadwalkan berlangsung hingga 4 November 2026.

Bagi Bitcoin, arah yield Treasury tetap menjadi salah satu variabel penting. Kenaikan yield dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS dibandingkan aset yang tidak menghasilkan yield. Sebaliknya, stabilisasi yield berpotensi mengurangi tekanan terhadap aset berisiko.

Dengan kombinasi data inflasi, kebijakan The Fed, arus dana ETF dan kondisi pasar derivatif, Bitcoin kini menghadapi periode penting untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.

Dalam jangka pendek, area US$78.000 menjadi level yang patut diperhatikan. Bertahannya harga di atas area tersebut dapat menjaga peluang Bitcoin kembali menuju US$80.500 hingga US$82.000. Namun, penembusan konsisten di bawah US$78.000 akan membuka risiko pengujian support US$77.200.

Di sisi lain, arus masuk ETF Bitcoin yang masih kuat menunjukkan permintaan institusional belum sepenuhnya surut. Karena itu, arah Bitcoin tidak hanya ditentukan oleh tekanan jual jangka pendek, tetapi juga oleh bagaimana investor merespons data inflasi dan sinyal kebijakan The Fed pada pertengahan September.

Yudhono menilai pasar saat ini belum kehilangan katalis positif, tetapi juga belum memiliki dorongan yang cukup kuat untuk menghasilkan breakout. Bagi investor, respons Bitcoin terhadap CPI dan pesan The Fed akan menjadi salah satu penentu penting apakah fase konsolidasi berubah menjadi tren baru. (hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |