Wagub Emil Dardak Bekali Mahasiswa Baru UNUSA dengan Tiga Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045

2 days ago 24

Surabaya (pilar.id) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meminta mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mempersiapkan diri sejak dini untuk menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut disampaikan Emil saat memberikan kuliah perdana dalam rangkaian Pengukuhan Mahasiswa Baru UNUSA di Dyandra Convention Center, Surabaya, Senin (7/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Emil mengangkat tema “Naik Level, Menjadi Generasi Pembelajar, Penggerak, dan Pemberi Dampak Menuju Indonesia Emas 2045”. Menurut dia, target Indonesia Emas 2045 bukan sekadar agenda jangka panjang karena mahasiswa yang mulai berkuliah pada 2026 akan berada pada usia produktif ketika Indonesia memasuki 2045.

Emil memperkirakan mahasiswa baru saat ini akan berusia sekitar 37-38 tahun pada 2045. Pada usia tersebut, mereka diharapkan telah mengambil peran penting sebagai profesional, inovator maupun pemimpin yang ikut menentukan arah pembangunan Indonesia.

Karena itu, Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut menekankan pentingnya mahasiswa membangun tiga fondasi sejak berada di bangku perguruan tinggi, yakni kapasitas, karakter, dan kontribusi.

Kapasitas berkaitan dengan kemampuan mahasiswa menguasai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Sementara karakter menjadi landasan untuk membangun integritas, kedisiplinan, empati, dan rasa tanggung jawab.

Adapun kontribusi, menurut Emil, menjadi tahap ketika pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Emil di tengah perubahan cepat yang terjadi pada dunia kerja dan kehidupan sosial. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), transformasi digital, perubahan struktur ekonomi, hingga tantangan iklim dan kesehatan diperkirakan akan semakin memengaruhi kebutuhan kompetensi generasi muda.

Kondisi tersebut membuat mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh dari ruang kelas. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, sekaligus memahami persoalan nyata di sekitarnya.

Emil juga mendorong Jawa Timur dimanfaatkan mahasiswa sebagai ruang belajar sekaligus tempat mengembangkan gagasan. Menurut dia, berbagai persoalan daerah dapat menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu sekaligus menghasilkan kontribusi.

Sejumlah bidang yang dapat menjadi ruang berkarya antara lain kesehatan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lingkungan, pangan, pendidikan, serta literasi digital.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga generasi yang mampu membaca persoalan masyarakat dan menawarkan solusi.

Bagi mahasiswa baru UNUSA, masa kuliah dinilai menjadi periode strategis untuk membangun kemampuan sekaligus karakter. Pengalaman akademik, organisasi, penelitian, kegiatan sosial, hingga interaksi dengan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kapasitas dan kepemimpinan.

Emil menegaskan bahwa persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak semestinya baru dilakukan ketika target tersebut semakin dekat. Generasi yang akan menjadi pelaku utama pada 2045 justru perlu mulai mempersiapkan diri sejak sekarang.

Dengan demikian, mahasiswa baru yang memasuki perguruan tinggi pada 2026 memiliki waktu hampir dua dekade untuk meningkatkan kompetensi, memperkuat karakter, dan menemukan bentuk kontribusi yang dapat diberikan bagi masyarakat.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai calon penggerak perubahan. Emil mengajak generasi muda melihat persoalan di Jawa Timur sebagai peluang untuk belajar, berinovasi, dan menghasilkan dampak nyata.

Menurut Emil, Indonesia Emas 2045 pada akhirnya tidak ditentukan hanya oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang dipersiapkan sejak sekarang. Karena itu, masa perkuliahan menjadi salah satu fase penting dalam membentuk generasi yang mampu menghadapi perubahan sekaligus mengambil peran dalam pembangunan nasional.

Bagi mahasiswa baru UNUSA, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 telah dimulai sejak mereka memasuki perguruan tinggi. Kapasitas, karakter, dan kontribusi menjadi tiga bekal yang perlu dibangun secara bersamaan agar generasi muda tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menentukan masa depan Indonesia. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |