Jakarta (pilar.id) – Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup. Padahal, hemoglobin berperan penting membawa oksigen ke seluruh organ dan jaringan tubuh. Akibatnya, penderita kerap mengalami tubuh lemas, cepat lelah, hingga penurunan konsentrasi.
Materi edukasi kesehatan yang diterima menyebutkan bahwa kurangnya hemoglobin menyebabkan pasokan oksigen ke organ dan otot menjadi tidak optimal. Dampaknya, aktivitas sehari-hari dapat terganggu karena tubuh mudah kehilangan energi meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
Salah satu ciri khas anemia defisiensi besi adalah munculnya gejala yang dikenal sebagai 5L, yaitu lemas, letih, lesu, lelah, dan lalai atau sulit berkonsentrasi. Selain itu, penderita juga dapat mengalami wajah, bibir, dan bagian dalam kelopak mata yang tampak pucat, sering pusing, berkunang-kunang, sakit kepala, telapak tangan serta kaki terasa dingin, hingga perubahan bentuk kuku yang menjadi rapuh atau melengkung menyerupai sendok (spoon nails).
Anemia defisiensi besi dapat dipicu oleh sejumlah faktor. Penyebab paling umum adalah kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi dalam pola makan sehari-hari. Selain itu, kehilangan darah akibat menstruasi berlebihan, perdarahan saluran cerna seperti bisul lambung atau ambeien, maupun cedera juga dapat menyebabkan tubuh kehilangan cadangan zat besi.
Kelompok tertentu memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi, seperti ibu hamil dan remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Di samping itu, gangguan penyerapan zat besi akibat penyakit pada usus, seperti penyakit celiac, juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami anemia defisiensi besi.
Untuk mencegah anemia sejak dini, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa zat besi terbagi menjadi dua jenis, yaitu heme yang berasal dari sumber hewani dan lebih mudah diserap tubuh, serta non-heme yang berasal dari tumbuhan dan memerlukan dukungan nutrisi lain agar penyerapannya lebih optimal.
Sumber zat besi heme dapat diperoleh dari daging merah tanpa lemak seperti daging sapi dan kambing, hati ayam atau hati sapi yang dikonsumsi secara bijak, daging ayam maupun kalkun, serta berbagai makanan laut seperti ikan, kerang, dan udang. Sementara itu, sumber zat besi non-heme dapat ditemukan pada bayam, daun kelor, kangkung, kacang merah, kacang hijau, kedelai, tahu, tempe, biji labu, hingga gandum utuh.
Keberhasilan penyerapan zat besi juga dipengaruhi oleh kombinasi nutrisi yang dikonsumsi. Vitamin C berperan penting meningkatkan penyerapan zat besi non-heme hingga beberapa kali lipat. Oleh karena itu, makanan tinggi zat besi dianjurkan dikombinasikan dengan buah dan sayuran kaya vitamin C seperti jeruk, jambu biji, stroberi, maupun tomat.
Sebaliknya, masyarakat disarankan menghindari konsumsi teh, kopi, atau susu bersamaan dengan waktu makan utama. Kandungan tanin pada teh dan kopi serta kalsium pada susu dapat menghambat penyerapan zat besi secara signifikan. Untuk memperoleh manfaat zat besi secara optimal, konsumsi minuman tersebut sebaiknya diberi jeda sekitar satu hingga dua jam setelah makan.
Pencegahan anemia defisiensi besi tidak hanya bergantung pada konsumsi makanan bergizi, tetapi juga memerlukan pola makan yang seimbang dan konsisten. Dengan mengenali gejala sejak dini serta memenuhi kebutuhan zat besi melalui asupan harian yang tepat, risiko anemia dapat ditekan sehingga tubuh tetap bugar, produktif, dan mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal. (ret/hdl)

6 hours ago
6
































