Jakarta (pilar.id) – Indonesia memasuki fase populasi menua dengan tantangan yang semakin kompleks. Ketika jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah, kesiapan finansial untuk menghadapi masa pensiun belum berkembang sebanding dengan tingginya akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
Temuan tersebut terungkap dalam riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” yang diluncurkan di Jakarta, Kamis (17/9/2026). Riset ini menyoroti pentingnya persiapan sosial dan finansial sejak usia produktif untuk menghadapi perubahan struktur penduduk Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan Indonesia telah memasuki fase ageing population. Berdasarkan hasil SUPAS 2025, penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97 persen dari total populasi. BPS juga mencatat angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) berada di level 2,13 anak per perempuan.
Dalam proyeksi jangka panjang, proporsi lansia diperkirakan terus meningkat hingga sekitar seperlima populasi pada 2045. BPS sebelumnya memproyeksikan penduduk usia 60 tahun ke atas dapat mencapai sekitar 20 persen pada periode tersebut.
Perubahan demografi itu berlangsung ketika Indonesia masih menikmati bonus demografi. Riset DBS Foundation mencatat sekitar 69 persen penduduk berada dalam kelompok usia produktif pada 2025. Namun, ruang waktu untuk memanfaatkan kondisi tersebut semakin terbatas karena angka kelahiran menurun dan harapan hidup meningkat.
DBS Foundation menilai perubahan struktur penduduk perlu diantisipasi sejak sekarang karena semakin kecilnya ukuran keluarga dapat meningkatkan tekanan ekonomi dan perawatan antargenerasi. Ketika jumlah anggota keluarga usia produktif yang dapat menopang orang tua semakin sedikit, risiko munculnya sandwich generation juga berpotensi meningkat.
Salah satu persoalan yang disoroti riset adalah ketergantungan ekonomi rumah tangga lansia. Sebanyak 82,96 persen rumah tangga lansia disebut masih bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja. Sementara itu, kurang dari 1 persen kehidupan ekonomi rumah tangga lansia disebut berasal dari tabungan dan investasi.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa beban pembiayaan masa tua masih banyak ditanggung oleh generasi produktif. Jika tidak diantisipasi melalui persiapan sejak dini, perubahan demografi berpotensi memperbesar ketergantungan finansial antargenerasi.
Tekanan tersebut juga terlihat dari tingginya jumlah lansia yang masih bekerja. Riset DBS Foundation mencatat 55,32 persen lansia masih bekerja, dengan 84,75 persen di antaranya berada di sektor informal. Pekerjaan informal umumnya memiliki pendapatan yang lebih tidak menentu serta akses yang lebih terbatas terhadap perlindungan dan manfaat ketenagakerjaan.
Di sisi lain, akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah relatif tinggi. Pada kelompok usia 18–50 tahun, tingkat inklusi keuangan berada pada kisaran 93,5–95,1 persen, sedangkan literasi keuangan mencapai sekitar 72,1–74,1 persen.
Namun, tingginya akses terhadap layanan keuangan belum otomatis menghasilkan kesiapan pensiun. Riset tersebut mencatat kepemilikan tabungan atau dana pensiun baru mencapai 5,37 persen, sementara pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun berada pada level 27,79 persen.
Kesenjangan itu memperlihatkan adanya persoalan antara akses, pemahaman, dan pemanfaatan produk keuangan untuk kebutuhan jangka panjang. Riset DBS Foundation juga menilai kebutuhan skema pensiun yang lebih fleksibel bagi pekerja sektor informal dan wiraswasta menjadi salah satu isu yang perlu diperhatikan.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan persoalan populasi menua tidak hanya menyangkut kelompok lansia, tetapi memiliki implikasi terhadap seluruh generasi.
Menurut Mona, persiapan menghadapi masa tua perlu dimulai sejak usia produktif dengan memperkuat ketahanan sosial dan finansial. Upaya tersebut mencakup pendidikan, kesehatan, pekerjaan, literasi dan inklusi keuangan hingga perencanaan pensiun.
Pandangan serupa disampaikan Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation, Cinta Laura Kiehl. Ia menekankan pentingnya membangun kapasitas diri sejak usia muda, termasuk melalui pendidikan, pengembangan keterampilan, literasi finansial dan kesiapan memasuki dunia kerja.
Cinta Laura Foundation sendiri memberikan dukungan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan sekaligus mengembangkan sejumlah kemampuan, seperti kepemimpinan, komunikasi, literasi finansial, pemecahan masalah dan kesiapan karier.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum menekankan pentingnya pendekatan life-course dalam menghadapi perubahan demografi.
Pendekatan tersebut menempatkan setiap fase kehidupan sebagai bagian yang saling berkaitan, mulai dari masa kanak-kanak, pendidikan, usia produktif hingga usia lanjut. Dengan demikian, kebijakan menghadapi populasi menua tidak hanya berfokus pada kelompok lansia, tetapi juga membangun fondasi kualitas hidup sejak usia dini.
Persoalan pendidikan turut menjadi bagian dari tantangan jangka panjang. Riset DBS Foundation mencatat rata-rata lama sekolah generasi saat ini sekitar sembilan tahun, sedangkan rata-rata pendidikan lansia saat ini sekitar enam tahun. Peningkatan partisipasi pendidikan hingga minimal 12 tahun dinilai dapat berpengaruh terhadap peluang ekonomi masyarakat pada masa mendatang.
Selain pendidikan dan keuangan, kesiapan menghadapi masa tua juga berkaitan dengan kesehatan, keterampilan, pekerjaan dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, persiapan pensiun tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan menabung, melainkan membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh sepanjang siklus kehidupan.
Sebagai bagian dari kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation juga menghadirkan Retirement Goal Calculator. Alat tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memperkirakan kebutuhan finansial berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, inflasi dan asumsi imbal hasil investasi.
Perhitungan tersebut dapat menjadi salah satu sarana untuk membuat kebutuhan masa pensiun lebih konkret. Namun, kesiapan finansial tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pendapatan, pekerjaan, kebutuhan keluarga dan kapasitas masing-masing individu.
DBS Foundation juga mendorong penguatan ekosistem sosial dan finansial melalui dukungan kepada social enterprises dan Businesses for Impact. Sejak 2015, DBS Foundation menyebut telah menyalurkan lebih dari SGD26 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di Asia. Di Indonesia, lebih dari SGD4 juta telah dialokasikan kepada 25 penerima.
Program tersebut mencakup berbagai bidang, antara lain pendidikan, keterampilan kerja, kesehatan dan penghidupan inklusif. DBS Foundation juga menyebut kolaborasi dengan mitra seperti UNICEF dan Dicoding sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas generasi muda dan masyarakat rentan.
Melalui Impact Beyond Award (IBA), DBS Foundation sejak 2024 juga mendorong inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat menua di Asia. Program tersebut telah memberikan total hibah SGD3 juta kepada empat social enterprise yang mengembangkan solusi seperti pelatihan bagi caregiver, teknologi untuk meningkatkan kemandirian lansia dan ekosistem perawatan lansia terintegrasi.
Riset DBS Foundation pada akhirnya menempatkan perubahan demografi sebagai persoalan lintas generasi. Pemerintah memiliki peran dalam membangun kebijakan terintegrasi, dunia usaha dapat mengembangkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat menua, sementara individu perlu mempersiapkan kesehatan, keterampilan dan kondisi finansial sejak usia produktif.
Dengan jumlah lansia yang terus bertambah dan jendela bonus demografi yang semakin menyempit, kesiapan menghadapi masa tua menjadi bagian dari agenda pembangunan jangka panjang. Bukan hanya agar masyarakat memiliki dana ketika memasuki usia pensiun, tetapi juga agar generasi mendatang tidak menanggung beban ketergantungan antargenerasi yang semakin besar. (ret/hdl)

19 hours ago
12






































