Jakarta (pilar.id) – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memberikan dampak nyata terhadap layanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Philips Future Health Index (FHI) 2026, sebanyak 69 persen tenaga kesehatan di Indonesia menyatakan teknologi berbasis AI telah meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 50 persen. Selain meningkatkan kapasitas pelayanan, AI juga dinilai membantu mempercepat alur kerja, meningkatkan akses terhadap informasi klinis, serta mengurangi tekanan yang dirasakan tenaga kesehatan.
Laporan FHI 2026 merupakan edisi ke-11 yang diterbitkan Royal Philips untuk Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan adanya pergeseran dalam pembahasan pemanfaatan AI di sektor kesehatan. Jika laporan sebelumnya lebih banyak menyoroti pentingnya membangun kepercayaan dan kesiapan untuk mengadopsi AI, laporan terbaru melihat dampak teknologi tersebut setelah mulai diterapkan dalam praktik.
Namun, peningkatan pemanfaatan AI belum sepenuhnya diikuti kesiapan ekosistem layanan kesehatan. Pelatihan, integrasi sistem, pemantauan teknologi, tata kelola, serta perlindungan terhadap data pasien masih menjadi sejumlah tantangan yang perlu diperkuat.
AI Dorong Efisiensi dan Kapasitas Tenaga Kesehatan
Data FHI 2026 menunjukkan 88 persen tenaga kesehatan Indonesia melaporkan peningkatan efisiensi alur kerja setelah menggunakan AI. Angka tersebut berada di atas rata-rata global sebesar 71 persen.
Sebanyak 87 persen responden juga menyebut AI mempercepat akses terhadap hasil diagnosis. Sementara itu, 82 persen mengatakan teknologi tersebut membantu mempercepat proses pengambilan keputusan terkait diagnosis.
Manfaat lainnya terlihat pada akses terhadap data pasien. Sebanyak 75 persen tenaga kesehatan di Indonesia melaporkan lebih mudah memperoleh data pasien yang terintegrasi lintas tim medis. Proporsi tersebut lebih tinggi dibandingkan angka global yang berada di 57 persen.
Integrasi informasi tersebut dinilai dapat mengurangi waktu yang dihabiskan tenaga kesehatan untuk mencari data dari berbagai sistem sekaligus membantu koordinasi pengambilan keputusan klinis.
Dampaknya mulai terlihat pada kapasitas pelayanan. Dari 69 persen tenaga kesehatan yang merasakan peningkatan kapasitas, median peningkatannya mencapai empat pasien tambahan per minggu.
AI juga memberikan penghematan waktu. Sebanyak 59 persen tenaga kesehatan melaporkan penghematan rata-rata sedikitnya 88 jam per tahun. Waktu tersebut setara dengan lebih dari dua minggu kerja penuh dan dapat dialihkan untuk pekerjaan klinis yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Selain produktivitas, dampak AI juga dirasakan dalam keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Sebanyak 67 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan AI membantu meningkatkan work-life balance. Proporsi yang sama melaporkan penurunan tingkat stres, sementara sekitar separuh responden menyatakan lebih jarang lembur atau membawa pekerjaan ke rumah.
Bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas dan distribusi layanan kesehatan yang belum merata, potensi tersebut dinilai strategis. Sebanyak 81 persen tenaga kesehatan percaya AI dapat membantu mempersempit kesenjangan kualitas layanan antarwilayah, termasuk meningkatkan akses masyarakat di daerah yang kurang terlayani.
Dari sisi institusi, 43 persen pemimpin fasilitas kesehatan Indonesia melaporkan penghematan anggaran setelah menggunakan AI. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 34 persen. Sebanyak 69 persen pemimpin institusi juga menilai manfaat investasi AI yang dilakukan telah memenuhi atau melampaui biaya penerapannya.
Presiden Direktur Siloam International Hospitals David Utama menilai manfaat AI akan semakin besar apabila teknologi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari alur kerja klinis, bukan sekadar tambahan teknologi.
Menurut David, penerapan AI perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan, mempercepat pengambilan keputusan, dan memberikan lebih banyak waktu bagi tenaga medis untuk berinteraksi dengan pasien.
Adopsi AI Lebih Cepat dari Kesiapan Pelatihan
Di tengah manfaat tersebut, FHI 2026 juga menemukan adanya kesenjangan antara kecepatan adopsi AI dan kesiapan institusi kesehatan dalam mengelolanya.
Sebanyak 63 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan penggunaan alat berbasis AI yang disediakan institusi mereka meningkat dalam setahun terakhir. Sementara itu, 57 persen telah menggunakan AI generatif untuk mendiskusikan ide atau kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Kepercayaan terhadap pimpinan institusi relatif tinggi. Sebanyak 77 persen tenaga kesehatan percaya pimpinan tempat mereka bekerja telah mengambil langkah yang tepat dalam menerapkan AI. Angka tersebut jauh di atas rata-rata global sebesar 59 persen.
Namun, terdapat persoalan ketika kebutuhan tenaga kesehatan tidak sepenuhnya dapat dipenuhi oleh teknologi yang disediakan institusi. Sebanyak 58 persen responden mengaku menggunakan alat AI pribadi ketika pilihan di tempat kerja dianggap belum memadai.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko, terutama apabila aplikasi AI yang digunakan belum melalui validasi klinis, tidak terintegrasi dengan sistem institusi, atau belum memiliki standar perlindungan data dan akuntabilitas yang memadai.
Persoalan lain adalah pelatihan. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan mengatakan pelatihan penggunaan AI masih sulit diperoleh, terbatas, atau tidak merata.
Kebutuhan pelatihan tidak hanya berkaitan dengan cara menggunakan teknologi. Tenaga kesehatan juga perlu memahami perlindungan data pasien, aspek tanggung jawab hukum, serta kemampuan memeriksa dan mengevaluasi akurasi rekomendasi yang dihasilkan AI.
Pemantauan penggunaan AI juga menjadi perhatian. Sebanyak 62 persen tenaga kesehatan mengatakan belum tersedia proses yang jelas untuk memonitor alat berbasis AI.
Seiring meningkatnya penggunaan AI dalam layanan kesehatan, institusi membutuhkan mekanisme validasi, audit, pelacakan kinerja, dan evaluasi berkala untuk memastikan teknologi tetap aman serta sesuai dengan kebutuhan klinis.
Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan fase adopsi AI di Indonesia kini memasuki tahap baru. Menurut Astri, perhatian tidak lagi sebatas pada kemampuan teknologi, tetapi bagaimana manfaat AI dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya integrasi AI dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, disertai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan serta tetap mempertahankan akuntabilitas manusia.
Tenaga Kesehatan Tetap Pegang Kendali
FHI 2026 juga memperlihatkan bagaimana tenaga kesehatan melihat perubahan peran mereka seiring AI semakin banyak digunakan.
Sebanyak 94 persen tenaga kesehatan Indonesia menyatakan pekerjaan mereka saat ini sudah atau akan semakin berfokus pada aktivitas klinis yang memiliki nilai lebih tinggi. Sementara itu, 83 persen percaya AI dapat membantu mereka bekerja secara optimal sesuai kemampuan profesional.
Meski AI mulai berperan dalam pekerjaan administratif, pemrosesan informasi dan analisis klinis, mayoritas tenaga kesehatan tetap menginginkan manusia berada dalam proses pengambilan keputusan.
Sebanyak 94 persen responden menilai keterlibatan manusia tetap penting atau human in the loop ketika teknologi AI semakin berkembang. Bahkan, 91 persen percaya seluruh hasil yang diberikan AI harus tetap berada di bawah pengawasan manusia.
Untuk sebagian besar penerapan klinis, kurang dari 10 persen tenaga kesehatan merasa nyaman apabila AI mengambil keputusan dan melakukan tindakan secara mandiri.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa AI lebih banyak dipandang sebagai mitra kerja untuk membantu tenaga kesehatan, bukan sebagai pengganti dokter atau tenaga medis.
Hubungan manusia dengan pasien juga dinilai tidak dapat sepenuhnya digantikan teknologi. Sebanyak 90 persen tenaga kesehatan mengatakan AI tidak akan menggantikan hubungan yang terbangun antara tenaga kesehatan dan pasien.
Sebanyak 87 persen bahkan memperkirakan keterampilan interpersonal akan semakin penting seiring berkembangnya teknologi AI.
Pasien Mulai Gunakan AI untuk Informasi Kesehatan
Perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan fasilitas kesehatan. Pasien juga mulai menggunakan AI generatif untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan.
Sebanyak 57 persen pasien Indonesia dalam laporan tersebut mengaku menggunakan AI generatif untuk mencari informasi kesehatan secara daring.
Di satu sisi, teknologi ini dapat membantu masyarakat memperoleh informasi dengan lebih mudah. Namun, penggunaan AI juga membawa tantangan berupa potensi misinformasi.
Sebanyak 80 persen tenaga kesehatan mengatakan mereka pernah harus meluruskan informasi keliru yang dihasilkan AI ketika informasi tersebut dibawa pasien dalam konsultasi.
Karena itu, transparansi menjadi salah satu aspek penting dalam penerapan AI di layanan kesehatan. Sebanyak 91 persen pasien Indonesia menginginkan informasi ketika AI digunakan dalam proses perawatan mereka.
Temuan tersebut menunjukkan perlunya komunikasi yang jelas antara fasilitas kesehatan dan pasien, sekaligus peningkatan literasi AI bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat.
Dalam konteks digitalisasi layanan kesehatan Indonesia, pengembangan ekosistem rekam medis elektronik melalui SATUSEHAT juga menjadi peluang untuk membangun integrasi data yang lebih baik. Tantangannya adalah memastikan penerapan AI tidak hanya bertambah dari sisi jumlah teknologi, tetapi juga terintegrasi secara aman dengan data kesehatan, alur kerja klinis dan tata kelola.
Astri Ramayanti Dharmawan menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan penerapan AI yang tetap mengedepankan inovasi sekaligus tanggung jawab.
Menurut dia, AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan layanan kesehatan apabila dikembangkan berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan dan diterapkan secara transparan.
Karena itu, perlu kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, tenaga klinis, akademisi dan perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur digital yang terhubung, meningkatkan kapabilitas tenaga kesehatan serta memperkuat mekanisme perlindungan.
Dengan demikian, tantangan berikutnya bagi sektor kesehatan Indonesia bukan lagi sekadar mengadopsi AI, melainkan memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan secara aman, terukur dan bertanggung jawab dalam skala yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. (ret/hdl)

17 hours ago
14














































