Nvidia Dikabarkan Sepakat Akuisisi Hugging Face Senilai Rp200 Triliun Lebih

23 hours ago 14

Jakarta (pilar.id) – Nvidia dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi Hugging Face, perusahaan yang dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan dan berbagi model kecerdasan buatan (AI) open source, dengan nilai transaksi mencapai US$12,9 miliar atau lebih dari Rp200 triliun.

Kabar tersebut pertama kali dilaporkan The Information pada Rabu malam, dengan mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut. Namun, laporan lain menyebutkan proses negosiasi belum menghasilkan perjanjian yang ditandatangani dan masih berpotensi berubah.

Business Insider, yang sebelumnya melaporkan bahwa Hugging Face tengah menerima minat akuisisi, menyebut pembicaraan tersebut berpotensi memberikan valuasi lebih dari US$13 miliar. Hingga laporan ini disusun, Nvidia dan Hugging Face belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang disampaikan TechCrunch.

Ketidakpastian mengenai status transaksi menjadi perhatian karena Nvidia sebelumnya diketahui cukup cepat merespons laporan mengenai aksi korporasi maupun informasi perusahaan yang dianggap tidak akurat. Karena itu, belum adanya konfirmasi dari Nvidia membuat status kesepakatan tersebut masih perlu menunggu pernyataan resmi.

Hugging Face didirikan pada 2016 dan berkembang menjadi salah satu platform penting bagi pengembang untuk berbagi serta mengunduh model AI open source. Jika akuisisi benar terjadi, Nvidia akan memperoleh pijakan yang jauh lebih kuat di ekosistem AI open source ketika persaingan antara model terbuka dan sistem AI tertutup semakin ketat.

Langkah tersebut juga berpotensi berkaitan dengan strategi Nvidia mempertahankan dominasinya di pasar chip AI. Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Google, Amazon, dan Anthropic diketahui tengah mengembangkan chip AI mereka sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap Nvidia.

Pertumbuhan ekosistem AI open source dapat memberikan lebih banyak pilihan kepada pelanggan dan pengembang di luar layanan AI tertutup milik perusahaan-perusahaan besar tersebut. Bagi Nvidia, ekosistem model yang lebih beragam berpotensi tetap menciptakan permintaan terhadap infrastruktur dan perangkat keras AI perusahaan.

Nvidia sendiri telah menggelontorkan investasi besar untuk mengembangkan model AI open source. Dalam konteks itu, kepemilikan terhadap Hugging Face dapat memperkuat strategi perusahaan untuk membangun ekosistem yang lebih luas di sekitar teknologi AI.

Potensi akuisisi tersebut juga tidak sepenuhnya mengejutkan. CEO Hugging Face, Clem Delangue, dalam beberapa kesempatan sepanjang tahun ini secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap pengembangan AI open source, termasuk dalam perdebatan mengenai kebijakan Amerika Serikat terhadap model AI dengan bobot terbuka (open-weight models).

Dalam penampilannya di program CBS Face the Nation pada awal Agustus, Delangue menyampaikan bahwa Hugging Face menggunakan versi model open source asal China yang telah dimodifikasi Nvidia untuk membantu mempertahankan sistem perusahaan setelah mengalami serangan siber. Ia juga menyinggung surat yang ditandatangani CEO Nvidia Jensen Huang bersama 24 perusahaan lainnya yang meminta pemerintah Amerika Serikat mendukung model AI terbuka dan tidak memberlakukan pembatasan terhadap teknologi tersebut.

Dalam wawancara dengan CNBC pada akhir Juli, Delangue kembali menyoroti pentingnya AI open source dan menyatakan bahwa China menunjukkan perkembangan yang kuat di sektor tersebut.

Persaingan teknologi AI antara Amerika Serikat dan China menjadi salah satu latar belakang meningkatnya perhatian terhadap model open source. Sejumlah laboratorium AI China, termasuk Moonshot AI, telah mengembangkan model yang diklaim mampu bersaing dengan model terkemuka Amerika Serikat dalam sejumlah tolok ukur, tetapi dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Selain memperkuat posisi Nvidia di AI open source, akuisisi Hugging Face berpotensi menjadi jalan bagi Nvidia untuk kembali memperluas bisnis komputasi awan. Nvidia sebelumnya dilaporkan mengurangi skala bisnis cloud computing melalui layanan DGX Cloud sekitar setahun lalu.

Hugging Face sendiri telah membantu pengembang menjalankan model AI menggunakan sumber daya komputasi yang disewa. Dengan mengakuisisi perusahaan tersebut, Nvidia secara teoritis dapat kembali masuk ke pasar cloud tanpa harus membangun ekosistem serupa dari awal.

Ada pula faktor kapasitas komputasi yang menjadi pertimbangan. Nvidia sebelumnya berkomitmen membantu menanggung biaya berbagai kesepakatan komputasi awan senilai puluhan miliar dolar bagi para pelanggannya. Jika pelanggan tidak menggunakan seluruh kapasitas yang telah mereka pesan, Nvidia berpotensi menanggung kapasitas yang tidak terpakai tersebut.

Kepemilikan terhadap Hugging Face dapat memberikan Nvidia saluran tambahan untuk menawarkan kapasitas komputasi yang tidak terpakai kepada pelanggan platform AI tersebut.

Nilai transaksi yang dikabarkan juga menunjukkan lonjakan tajam dibandingkan valuasi terakhir Hugging Face yang diketahui publik. Pada 2023, perusahaan tersebut menggalang pendanaan sebesar US$235 juta dalam putaran investasi yang memberikan valuasi sekitar US$4,5 miliar.

Putaran pendanaan tersebut dipimpin Salesforce Ventures dan turut melibatkan sejumlah investor besar, termasuk GV milik Alphabet, IBM Ventures, serta Nvidia.

Hugging Face bahkan sebelumnya pernah menolak tawaran investasi Nvidia. Financial Times sebelumnya melaporkan bahwa Nvidia pada akhir tahun lalu menawarkan investasi sebesar US$500 juta yang akan memberikan valuasi Hugging Face sekitar US$7 miliar.

Pada saat itu, Hugging Face disebut tidak menginginkan investor dominan yang berpotensi memengaruhi pengambilan keputusan perusahaan. Situasi akuisisi tentu berbeda dengan masuknya investor strategis karena transaksi pembelian perusahaan dapat memberikan struktur kendali yang berbeda.

Dari sisi bisnis, Hugging Face masih tergolong kecil dibandingkan valuasi yang dikabarkan dalam transaksi tersebut. The Information melaporkan perusahaan itu baru-baru ini menghasilkan pendapatan sekitar US$150 juta per tahun, meningkat dari sekitar US$100 juta hanya dalam waktu dua bulan.

Pertumbuhan tersebut membuat Hugging Face mendekati titik profitabilitas. Delangue sebelumnya mengatakan kepada TechCrunch bahwa perusahaan telah semakin dekat dengan kondisi menguntungkan.

Namun, valuasi mendekati US$13 miliar berarti Nvidia berpotensi membayar kelipatan yang sangat tinggi dibandingkan pendapatan tahunan Hugging Face. Bagi Hugging Face, akuisisi juga akan membuka akses terhadap sumber daya finansial Nvidia yang jauh lebih besar untuk mempercepat ekspansi.

Potensi transaksi Nvidia-Hugging Face terjadi ketika konsolidasi di sektor infrastruktur AI semakin intensif. Salah satu contoh terbaru adalah langkah Stripe mengakuisisi OpenRouter, startup yang membantu pengguna memilih berbagai model AI berdasarkan kebutuhan dan anggaran.

OpenRouter sebelumnya memperoleh valuasi sekitar US$1,3 miliar melalui putaran pendanaan Seri B pada Mei. Stripe kemudian dilaporkan membayar lebih dari US$7 miliar untuk mengakuisisi perusahaan tersebut pada Agustus.

Rangkaian transaksi tersebut menunjukkan semakin besarnya nilai strategis perusahaan yang berfungsi sebagai penghubung antara pengguna, model AI, dan infrastruktur komputasi. Jika kesepakatan Nvidia dan Hugging Face benar-benar terealisasi, transaksi itu akan menjadi salah satu aksi korporasi terbesar di ekosistem AI sekaligus memperkuat posisi Nvidia di luar bisnis chip.

Meski demikian, berdasarkan informasi dalam laporan yang menjadi sumber berita ini, belum ada konfirmasi resmi dari Nvidia maupun Hugging Face mengenai penandatanganan kesepakatan akuisisi tersebut. Status transaksi karenanya masih perlu menunggu pengumuman dari kedua perusahaan. (hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |