Jakarta (ANTARA) - Polisi menyelidiki aksi dugaan pungutan liar (pungli) dan premanisme yang dilakukan oleh pengatur lalu lintas liar atau "Pak Ogah" di Jalan Raya Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat.
Aksi tersebut sempat viral di media sosial setelah sebuah rekaman video memperlihatkan sejumlah pria diduga memaksa meminta uang kepada pengendara mobil yang melintas di pertigaan antara Jalan Raya Kapuk dan Jalan Kapuk Kamal Raya, Cengkareng.
"Sudah dimonitor, kami sedang selidiki sampai dapat pelakunya," kata Kanit Reskrim Polsek Cengkareng AKP Parman Gultom saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Parman menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan personel ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pemeriksaan dan memburu para pelaku yang telah meresahkan pengguna jalan tersebut.
"Anggota sudah ke TKP, mohon waktu," kata Parman.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi pemalakan itu terjadi pada Senin (1/6) malam sekitar pukul 21.00 WIB.
Dalam video yang beredar, tampak seorang pelaku menghampiri dan mengikuti laju sebuah mobil minibus perak seraya memasukkan tangannya ke dalam kaca jendela pengemudi yang terbuka sedikit.
Baca juga: Satpol PP Jakbar gencar tertibkan "Pak Ogah" di Gropet
Salah satu warga setempat, Rafli (24) mengungkapkan bahwa praktik pungli di lokasi yang dikenal sebagai Pertigaan Metro tersebut sudah berlangsung lama dan terorganisasi. Para pelaku biasanya memanfaatkan situasi kemacetan lalu lintas pada sore hingga malam hari untuk melancarkan aksinya.
"Setiap hari begitu, biasanya mereka memaksa meminta uang kepada sopir truk angkutan barang, terutama yang pelat luar daerah, atau sopir angkot," kata Rafli.
Kendati terkadang keberadaan mereka membantu mengurai kemacetan, namun Rafli menyayangkan tindakan intimidasi dan pemaksaan yang kerap dilakukan oleh oknum tersebut kepada pengendara.
Hal senada keluhkan oleh Tania (26), seorang pengendara sepeda motor yang mengaku pernah menjadi korban lisan dari kebringasan para pengatur jalan liar tersebut. Ia menyebut para pelaku bekerja secara berkelompok dengan sistem pembagian waktu (sif).
"Yang sering berbuat ulah itu biasanya kelompok yang berjaga dari sore hingga malam hari. Saya pernah diteriaki dengan kata-kata kasar hanya karena melintas saat jalanan sedang padat," ujar Tania.
Warga pun berharap agar aparat kepolisian dan instansi terkait dapat memberikan tindakan tegas serta menempatkan personel resmi di titik-titik rawan kemacetan tersebut agar masyarakat merasa aman dan nyaman saat berkendara.
Baca juga: Lima "Pak Ogah" ditangkap di Jakbar
Baca juga: Jakbar perketat pengawasan "pak ogah" di exit Tol Rawa Buaya
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































