Surabaya Integrasikan MICE dan Wisata, Peserta Pertemuan Ditargetkan Tinggal Lebih Lama

21 hours ago 12

Surabaya (pilar.id) — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dengan mengintegrasikan agenda pertemuan dengan aktivitas pariwisata. Strategi ini diarahkan untuk mendorong peserta MICE memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi di Kota Pahlawan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Herry Purwadi mengatakan, Surabaya memiliki modal kuat untuk mengembangkan MICE karena sejak lama dikenal sebagai kota perdagangan dan jasa.

Dukungan tersebut ditunjang oleh keberadaan hotel, ruang pertemuan, restoran, serta beragam destinasi wisata yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan MICE.

Upaya memperpanjang lama tinggal menjadi penting karena data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata tamu hotel di Surabaya masih menginap relatif singkat.

Pada Juni 2026, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Surabaya mencapai 53 persen, naik 3,05 poin dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 49,95 persen.

TPK Surabaya juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Timur. Pada periode yang sama, TPK hotel di Jawa Timur tercatat 38,57 persen atau terpaut 14,43 poin dari Surabaya.

Namun, Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) di Surabaya pada Juni 2026 tercatat 1,38 malam. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pemkot untuk mendorong wisatawan, termasuk peserta MICE, menambah durasi kunjungan mereka.

Paket Wisata hingga City Tour Disiapkan untuk Peserta MICE

Selama ini, pola kunjungan peserta MICE di Surabaya dinilai masih cenderung singkat. Peserta datang untuk menghadiri rapat atau konferensi, menginap di hotel, kemudian kembali ke daerah asal setelah kegiatan selesai.

Pemkot Surabaya ingin mengubah pola tersebut dengan menawarkan aktivitas wisata sebagai bagian dari rangkaian agenda MICE. Paket tersebut dapat berupa kunjungan destinasi, side event, hingga city tour.

Herry menjelaskan, kegiatan MICE tidak harus selalu berlangsung di ruang hotel. Sejumlah destinasi wisata juga dapat dikembangkan sebagai lokasi kegiatan pendukung sehingga peserta memperoleh pengalaman yang lebih beragam selama berada di Surabaya.

Pemkot bahkan menyiapkan bus pariwisata yang dapat dikolaborasikan dengan hotel penyelenggara MICE. Skemanya, peserta yang menggelar kegiatan di sebuah hotel dapat memperoleh penawaran tambahan berupa paket wisata dengan biaya yang dibuat tetap terjangkau.

Konsep tersebut memungkinkan paket wisata dikemas secara bersama-sama dengan berbagai pihak. Peserta MICE diharapkan tidak hanya menghadiri agenda utama, tetapi juga memiliki kesempatan mengenal destinasi dan aktivitas ekonomi kreatif di Surabaya.

Dengan demikian, manfaat ekonomi dari kedatangan peserta MICE diharapkan tidak hanya berhenti di hotel dan lokasi pertemuan, tetapi ikut mengalir ke sektor pariwisata, kuliner, transportasi, usaha kreatif, dan pelaku ekonomi lokal.

Kalimas, Kota Lama, hingga Kebun Raya Mangrove Jadi Pilihan

Untuk memperkuat daya tarik tersebut, Pemkot Surabaya terus mengembangkan dan merevitalisasi sejumlah destinasi wisata.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sungai Kalimas. Kawasan tersebut tengah direvitalisasi dan disiapkan untuk menghadirkan wajah baru destinasi wisata perkotaan Surabaya.

Selain Kalimas, kawasan Kota Lama Surabaya juga terus dikembangkan. Pemkot melakukan revitalisasi destinasi secara berkala untuk mempertahankan daya tarik sekaligus memberikan pengalaman baru bagi wisatawan.

Herry menyebut pengembangan destinasi menjadi bagian penting dari strategi MICE karena peserta membutuhkan aktivitas di luar agenda utama. Kehadiran destinasi wisata diharapkan dapat mengurangi pola kunjungan singkat yang hanya berisi rapat, menginap, dan pulang.

Potensi lain berada di Kebun Raya Mangrove (KRM). Kawasan tersebut tidak hanya menawarkan wisata berbasis lingkungan, tetapi juga memiliki auditorium yang dapat digunakan sebagai ruang kegiatan pertemuan.

Pemkot juga mendorong pengembangan kampung-kampung wisata tematik sebagai alternatif destinasi bagi peserta MICE.

Integrasi MICE dengan pariwisata tersebut sekaligus membuka peluang bagi sektor ekonomi kreatif. Salah satu subsektor yang menjadi perhatian adalah kuliner.

Pemkot Surabaya sebelumnya telah menjalani uji petik untuk proses penetapan Surabaya sebagai kota kuliner oleh Kementerian Ekonomi Kreatif. Penguatan sektor kuliner diharapkan semakin melengkapi pengalaman peserta MICE selama berada di Kota Pahlawan.

Herry menegaskan pengembangan MICE dan pariwisata membutuhkan dukungan lintas perangkat daerah, bukan hanya Disbudporapar. Pemkot Surabaya menargetkan pelayanan kepada peserta kegiatan dapat dilakukan secara terpadu agar kedatangan wisatawan maupun peserta MICE memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Melalui integrasi tersebut, Surabaya tidak hanya ingin menjadi tempat berlangsungnya pertemuan, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata yang mendorong peserta untuk tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak waktu dan uang di kota, serta mengenal destinasi dan produk ekonomi kreatif lokal. (usm/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |