Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan

20 hours ago 10

Surabaya (pilar.id) – Kiprah alumni Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mendapat sorotan. Dwi Wulan Ramadani, alumni Departemen Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, berhasil meniti karier di bidang pengembangan kebijakan energi dan keuangan berkelanjutan melalui perannya sebagai Policy Strategist Coordinator di Yayasan Cerah Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Lani itu saat ini berfokus pada penyusunan strategi komunikasi, pembangunan narasi transisi energi, serta isu keuangan berkelanjutan yang disebarluaskan melalui berbagai platform media. Perannya juga mencakup penyusunan riset, analisis kebijakan, hingga pengelolaan proyek yang berkaitan dengan isu energi dan perubahan iklim.

Karier tersebut merupakan kelanjutan dari pengalaman yang telah dibangun sejak masa perkuliahan. Ketertarikannya pada dunia riset, penulisan, dan pengembangan kebijakan telah membawanya bergabung dengan Yayasan Cerah Indonesia, organisasi non-pemerintah yang bekerja dalam jejaring Global Strategic Communication Council dengan fokus pada isu iklim dan energi.

Selama menjadi mahasiswa, Lani aktif mengikuti berbagai program akademik dan kompetisi. Ia pernah menjadi penerima Research Grant Program dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia serta meraih nominasi juara pertama dalam kompetisi ide sosial kategori pengabdian masyarakat tingkat regional. Berbagai pencapaian tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun jalur karier yang kini dijalaninya.

Menurut Lani, salah satu pelajaran yang membekas selama kuliah adalah pentingnya kemampuan menulis sebagai sarana memperdalam pemahaman terhadap suatu isu. Nasihat dari dosen mengenai manfaat menulis menjadi salah satu motivasi yang terus dipegang hingga saat ini dalam menjalankan profesinya sebagai analis kebijakan.

Meski berlatar belakang pendidikan Ekonomi Islam, Lani menilai ilmu yang diperolehnya tetap relevan dengan pekerjaan yang dijalani saat ini. Pemahaman ekonomi, kemampuan analisis, serta perspektif mengenai pembangunan berkelanjutan menjadi bekal penting dalam menyusun kajian terkait transisi energi dan pembiayaan hijau.

Ia menjelaskan bahwa ilmu ekonomi memberikan dasar yang kuat untuk memahami berbagai kebijakan yang mendorong pengurangan emisi karbon, termasuk peran sektor keuangan dan perbankan dalam mendukung investasi energi berkelanjutan. Menurutnya, setiap disiplin ilmu memiliki keterkaitan yang dapat menjadi pijakan dalam membangun karier profesional.

Dalam aktivitas sehari-hari, Lani bertanggung jawab memantau perkembangan kebijakan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan sektor energi. Ia juga menyusun berbagai analisis, opini, dan policy brief yang dipublikasikan di sejumlah media sebagai bentuk kontribusi terhadap diskusi publik mengenai masa depan energi Indonesia.

Saat ini, fokus utama pekerjaannya berada pada kajian mengenai power decarbonization atau dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan. Melalui berbagai riset yang dilakukan, ia berupaya mendorong percepatan implementasi kebijakan penurunan emisi karbon di Indonesia dari perspektif ekonomi, fiskal, dan keuangan.

Pengalaman bekerja di sektor kebijakan energi juga membuka peluang bagi Lani untuk memahami berbagai pendekatan yang diterapkan negara-negara lain dalam menghadapi tantangan krisis iklim. Interaksi dengan berbagai organisasi masyarakat sipil, lembaga nasional, hingga institusi internasional memperluas jejaring profesional sekaligus memperkaya perspektifnya mengenai isu energi global.

Baginya, tantangan perubahan iklim dan transisi energi bukan hanya menjadi tanggung jawab satu negara, melainkan isu bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Karena itu, penguatan kerja sama global menjadi salah satu aspek penting dalam mendorong transformasi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Di akhir wawancara, Lani membagikan pesan kepada mahasiswa yang tengah mempersiapkan karier di masa depan. Ia menekankan pentingnya mengembangkan kompetensi di luar bidang akademik, seperti kemampuan bahasa Inggris, public speaking, kepemimpinan, dan keterampilan menulis.

Selain itu, ia mendorong mahasiswa untuk mulai mengenali minat karier sejak di bangku kuliah dan aktif mencari mentor yang dapat memberikan arahan dalam perjalanan profesional mereka. Menurutnya, eksplorasi pengalaman dan pengembangan kapasitas diri sejak dini akan membuka lebih banyak peluang untuk berkontribusi di tingkat nasional maupun global.

Perjalanan Dwi Wulan Ramadani menjadi contoh bagaimana lulusan Ekonomi Islam mampu mengambil peran strategis dalam isu-isu kontemporer, termasuk transisi energi dan pembangunan berkelanjutan. Kiprahnya sekaligus menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh di perguruan tinggi dapat menjadi modal penting untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks. (usm)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |