Bitcoin Anjlok ke US$62.000, Konflik Timur Tengah Picu Likuidasi Kripto Rp9,4 Triliun

1 day ago 17

Jakarta (pilar.id) – Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan besar setelah harga Bitcoin merosot ke kisaran US$62.000 pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu aksi jual di berbagai instrumen berisiko, termasuk aset digital.

Penurunan harga Bitcoin kali ini tidak hanya memicu kekhawatiran investor, tetapi juga menyebabkan gelombang likuidasi besar di pasar derivatif kripto. Data CoinGlass menunjukkan total likuidasi dalam 24 jam terakhir mencapai sekitar US$579,43 juta atau setara lebih dari Rp9,4 triliun dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS.

Mayoritas likuidasi berasal dari posisi long yang mencapai sekitar US$496,62 juta, sementara posisi short tercatat sebesar US$82,81 juta. Dalam periode yang sama, lebih dari 139.000 trader terdampak akibat pergerakan harga yang terjadi secara cepat dan agresif.

Bitcoin menjadi aset dengan nilai likuidasi terbesar, mencapai sekitar US$191,49 juta. Ethereum berada di posisi berikutnya dengan nilai likuidasi sekitar US$135,46 juta. Tekanan juga melanda sejumlah aset digital utama lainnya seperti XRP, Solana (SOL), Cardano (ADA), hingga Hyperliquid (HYPE).

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai koreksi tajam yang terjadi mencerminkan perubahan sentimen investor global yang cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko saat kondisi geopolitik memburuk. Menurutnya, pasar kripto saat ini tidak hanya terpengaruh faktor fundamental, tetapi juga dinamika perdagangan derivatif yang masih didominasi penggunaan leverage tinggi.

Fyqieh menjelaskan bahwa ketika ketidakpastian global meningkat, investor umumnya mencari instrumen yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut membuat tekanan jual pada aset kripto semakin besar, terlebih ketika banyak posisi leverage yang terpaksa dilikuidasi secara otomatis sehingga mempercepat penurunan harga.

Di tengah tekanan tersebut, level US$60.000 kini menjadi area psikologis yang sangat penting bagi Bitcoin. Menurut Fyqieh, kemampuan aset kripto terbesar di dunia itu bertahan di atas level tersebut akan menentukan arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Apabila level tersebut mampu dipertahankan, peluang terjadinya konsolidasi dan pembentukan fondasi pemulihan masih terbuka. Namun jika tekanan jual berlanjut dan harga menembus level support utama dengan volume transaksi besar, risiko koreksi yang lebih dalam menjadi semakin tinggi.

Gejolak pasar kali ini dipicu meningkatnya tensi di Timur Tengah setelah laporan mengenai serangan terbaru Israel ke wilayah Lebanon Selatan. Perkembangan tersebut terjadi meskipun sebelumnya Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai nota kesepahaman yang bertujuan mengurangi eskalasi konflik di kawasan.

Laporan media setempat menyebutkan serangan drone di wilayah selatan Lebanon mengakibatkan korban jiwa. Sementara itu, militer Israel juga melaporkan adanya korban di pihak mereka dalam insiden terpisah. Pemerintah Israel menegaskan operasi militer akan terus dilakukan guna mengatasi ancaman keamanan di wilayah perbatasan utara negara tersebut.

Situasi geopolitik yang kembali memanas membuat pasar global bergerak lebih defensif. Investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi dan memilih instrumen yang dianggap lebih stabil hingga arah konflik menjadi lebih jelas.

Dari sisi teknikal, Bitcoin kini berada pada fase yang cukup menentukan. Area US$64.000 hingga US$66.000 menjadi zona yang perlu ditembus untuk membuka peluang pemulihan menuju rentang US$74.000 hingga US$76.000. Sebaliknya, kegagalan menembus area tersebut berpotensi membuat harga bergerak terbatas di kisaran US$60.000 hingga US$65.000 dalam beberapa waktu ke depan.

Selain tekanan eksternal, sejumlah indikator on-chain menunjukkan pasar kripto masih berada dalam fase yang cenderung bearish. Rasio Realized Profit/Loss selama 30 hari terakhir masih berada di bawah angka 1, yang menunjukkan realisasi kerugian investor lebih dominan dibandingkan pengambilan keuntungan.

Kondisi serupa terlihat pada indikator Short-Term Holder MVRV yang masih berada di bawah titik impas. Data tersebut mengindikasikan sebagian besar investor jangka pendek masih berada dalam posisi merugi sehingga berpotensi meningkatkan tekanan jual apabila terjadi penurunan harga lanjutan.

Meski demikian, sejumlah sinyal mulai menunjukkan adanya upaya pembentukan dasar harga di sekitar level US$60.000. Likuiditas beli pada pasar spot dilaporkan mulai meningkat, menandakan sebagian investor mulai melakukan akumulasi dan bersiap menyerap tekanan jual yang muncul di level bawah.

Fyqieh mengingatkan investor untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin di tengah kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan volatilitas tinggi. Menurutnya, keputusan investasi sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada penurunan harga yang terlihat menarik, melainkan harus mempertimbangkan faktor risiko dan kondisi pasar secara menyeluruh.

Ke depan, arah pergerakan Bitcoin diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, arus dana institusional, sentimen makroekonomi global, serta kemampuan pasar mempertahankan level support utama di US$60.000. Selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, volatilitas tinggi diperkirakan akan tetap menjadi karakter utama pasar aset kripto dalam jangka pendek. (ret/hdl)

Read Entire Article
Bansos | Investasi | Papua | Pillar |