Ringkasan Berita
- Harga Bitcoin turun dari US$68.000 ke sekitar US$66.000 usai sentimen geopolitik memburuk.
- Pernyataan Donald Trump terkait konflik Iran memicu tekanan di pasar global.
- Indikator teknikal menunjukkan dominasi aksi jual dan distribusi aset.
- Analis Tokocrypto menilai pasar masih rentan dan berpotensi volatil.
Jakarta (pilar.id) – Pergerakan harga Bitcoin kembali menunjukkan tekanan signifikan pada awal April 2026. Aset kripto terbesar di dunia itu turun dari kisaran US$68.000 ke sekitar US$66.000 setelah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Pemicu utama datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait konflik dengan Iran yang dinilai tidak memberikan kepastian arah de-eskalasi. Alih-alih meredakan kekhawatiran pasar, pidato tersebut justru memperkuat potensi eskalasi dalam beberapa pekan ke depan.
Kondisi ini langsung berdampak pada pasar keuangan global. Harga minyak dilaporkan melonjak lebih dari 5%, sementara dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi meningkat—kombinasi yang umumnya menekan aset berisiko seperti kripto.
Indikator Pasar Tunjukkan Tekanan Jual
Sebelum pidato berlangsung, pasar sempat menunjukkan optimisme dengan harapan konflik segera mereda. Namun, data perdagangan menunjukkan bahwa kenaikan harga tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat.
Indikator teknikal seperti Cumulative Volume Delta (CVD) mencerminkan dominasi tekanan jual sepanjang sesi perdagangan. Sementara itu, On-Balance Volume (OBV) mengindikasikan adanya distribusi, di mana investor memanfaatkan kenaikan harga untuk melepas aset.
Selain itu, pasar derivatif juga menunjukkan pelemahan. Open interest futures Bitcoin mengalami penurunan dalam waktu singkat, menandakan berkurangnya minat trader serta meningkatnya sikap hati-hati di tengah ketidakpastian makro.
Fenomena Sell the News Kembali Terjadi
Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat kondisi ini sebagai pola klasik “sell the news”. Menurutnya, ekspektasi positif sudah lebih dulu tercermin dalam harga sebelum peristiwa terjadi.
Fyqieh menjelaskan bahwa pasar sebelumnya telah mengantisipasi kemungkinan meredanya konflik. Namun ketika pernyataan yang muncul tidak sesuai harapan, pelaku pasar memilih mengurangi risiko.
Pendekatan defensif ini terlihat dari distribusi volume serta turunnya open interest di pasar derivatif, yang menandakan investor tidak agresif menambah posisi.
Proyeksi Harga Bitcoin: Konsolidasi dan Volatilitas
Dalam jangka pendek, Bitcoin diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. Selama harga belum mampu menembus resistance di kisaran US$70.000–75.000, pergerakan diprediksi akan cenderung sideways.
Jika tekanan makro berlanjut, terdapat kemungkinan Bitcoin menguji kembali area support di sekitar US$60.000. Bahkan, dalam skenario ekstrem, harga dapat bergerak dalam rentang US$40.000–60.000 apabila ketegangan geopolitik meningkat dan likuiditas pasar menurun.
Meski demikian, prospek jangka menengah hingga akhir 2026 masih dinilai positif. Sejumlah proyeksi menempatkan Bitcoin pada kisaran US$80.000 hingga US$100.000, didukung oleh:
- Adopsi institusional yang terus berkembang
- Dampak pasca-halving yang historisnya mendorong kenaikan harga
- Potensi pelonggaran kebijakan moneter global
Pasar Masih Menunggu Kepastian
Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin saat ini mencerminkan ketidakpercayaan pasar terhadap narasi optimisme jangka pendek. Investor cenderung bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan lebih lanjut dari dinamika geopolitik global.
Dengan kombinasi faktor makro, kebijakan moneter, dan sentimen global, volatilitas diperkirakan masih akan menjadi karakter utama pasar kripto dalam beberapa bulan ke depan. (ret/hdl)

9 hours ago
6

















































