Jakarta (pilar.id) – Kemudahan transaksi dan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak serta kesadaran melindungi data pribadi. Pesan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Open House Universitas Paramadina bertajuk “Cerdas Finansial di Era Digital: Membangun Literasi Keuangan & Melindungi Data Pribadi” yang digelar pada Selasa (1/9) di Aula Prof. Firmanzah, Gedung Nurcholish Madjid, Kampus Cipayung, Universitas Paramadina.
Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi dan praktisi dari industri keuangan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat sekaligus meningkatnya risiko keamanan data pribadi di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial dan transaksi digital.
Direktur Pemasaran dan Beasiswa Universitas Paramadina, Dr. Peni Hanggarini, mengatakan tema literasi keuangan dan perlindungan data pribadi memiliki keterkaitan dengan tiga pilar utama Universitas Paramadina, yaitu keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.
Menurut Peni, nilai keislaman mendorong masyarakat untuk mengelola keuangan secara bijak dan amanah. Sementara nilai keindonesiaan menekankan pentingnya menjadi warga digital yang bertanggung jawab, sedangkan kemodernan mengajarkan masyarakat untuk mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara aman dan cerdas.
Ia menilai ketiga nilai tersebut perlu diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Literasi keuangan dan kesadaran digital, kata dia, tidak cukup hanya menjadi pengetahuan, tetapi harus berkembang menjadi kebiasaan dalam mengelola uang, menggunakan teknologi, serta menjaga informasi pribadi.
Peni berharap kegiatan tersebut dapat membantu peserta membangun perilaku keuangan yang lebih sehat, mulai dari kemampuan mengambil keputusan finansial hingga meningkatkan kehati-hatian dalam menggunakan layanan digital yang semakin mudah diakses.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina, Permata Dian Pratiwi, S.E., M.Sc., menjelaskan bahwa literasi keuangan memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar memahami produk dan layanan keuangan.
Menurut Permata Dian, masyarakat juga perlu memiliki kemampuan menerapkan kebiasaan finansial yang sehat, mengelola uang secara tepat, serta memahami pentingnya menjaga keamanan informasi pribadi.
Ia menilai akses terhadap berbagai produk keuangan saat ini semakin terbuka melalui perkembangan teknologi. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memilih dan menggunakan produk keuangan sesuai kebutuhan serta kondisi finansial masing-masing.
Dalam paparannya, Permata Dian menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam membangun generasi muda yang mampu mengelola keuangan, menggunakan teknologi secara bijak, dan melindungi diri dari berbagai risiko digital.
Menurutnya, kontribusi perguruan tinggi dapat dilakukan melalui pendidikan dan pengembangan kurikulum, penciptaan ekosistem kampus yang aman secara digital, penelitian, hingga keterlibatan aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Mahasiswa menjadi salah satu kelompok penting dalam penguatan literasi keuangan karena pada masa mendatang mereka akan menjadi pengambil berbagai keputusan finansial. Karena itu, literasi keuangan perlu diterapkan dalam perilaku sehari-hari, mulai dari menabung, memperoleh pendapatan, menggunakan uang, meminjam, berinvestasi, merencanakan keuangan, hingga melindungi aset dan informasi pribadi.
Dari perspektif industri pembiayaan, Deputy Director Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Sri Haryati, menjelaskan bahwa perusahaan pembiayaan memiliki fungsi menyediakan fasilitas bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa, baik untuk tujuan produktif maupun konsumtif.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh pembiayaan, khususnya melalui layanan digital, tidak boleh mendorong masyarakat mengambil kewajiban keuangan tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar.
Sri menekankan pentingnya memastikan kemampuan membayar angsuran serta menjaga riwayat kredit yang tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIK. Masyarakat juga diingatkan untuk mengambil pembiayaan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar keinginan.
Selain itu, penggunaan data pribadi yang benar menjadi bagian penting dalam proses transaksi keuangan. Sri mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan atau meminjamkan data pribadi kepada pihak lain karena informasi tersebut dapat berpotensi disalahgunakan.
Sementara itu, Corporate Secretary, Investor Relations & Sustainability Head PT Bussan Auto Finance, Akmal Abudiman, MM, CSP, CSRS, CSRA, CSFS, SCL., menyoroti semakin pentingnya perlindungan data pribadi dalam perkembangan ekosistem keuangan digital.
Menurut Akmal, risiko kehilangan perangkat digital tidak hanya berkaitan dengan hilangnya perangkat secara fisik. Data dan akses yang tersimpan di dalam perangkat dapat membuka risiko lebih luas, termasuk potensi kehilangan uang, penyalahgunaan identitas, hingga dampak terhadap reputasi pemiliknya.
Karena itu, kesadaran melindungi data pribadi perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari literasi keuangan digital. Kemampuan mengelola keuangan, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai keamanan perangkat, akun, dan informasi pribadi.
Kegiatan Open House Universitas Paramadina tersebut dimoderatori oleh Dr. Didip Diandra, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina. Forum itu menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperkuat pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai hubungan antara pengelolaan keuangan, perkembangan teknologi, dan keamanan digital.
Universitas Paramadina juga terus mengembangkan perannya sebagai center of financial & digital literacy melalui integrasi pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kemitraan dengan berbagai pihak.
Sejumlah penelitian yang dilakukan dosen Universitas Paramadina sebelumnya turut menunjukkan adanya keterkaitan antara literasi keuangan dengan gaya hidup, perilaku keuangan, perkembangan teknologi finansial atau financial technology, serta pentingnya perlindungan data pribadi.
Di tengah semakin cepatnya transformasi digital, akses terhadap layanan keuangan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran kesiapan masyarakat menghadapi perkembangan teknologi. Kemampuan memahami risiko, mengambil keputusan keuangan secara rasional, menjaga perilaku konsumsi, dan melindungi informasi pribadi menjadi kompetensi yang semakin penting.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Paramadina menegaskan pentingnya membangun generasi yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi dan layanan keuangan digital, tetapi juga memiliki pengetahuan, sikap kritis, perilaku keuangan yang sehat, serta keterampilan menjaga keamanan data pribadi dalam kehidupan sehari-hari. (usm)

14 hours ago
14














































